NABLUS (Arrahmah.id) – Duka menyelimuti Desa Tal, sebelah barat Kota Nablus, Tepi Barat, setelah empat warga Palestina gugur ditembak pasukan penjajah "Israel" dan pemukim bersenjata dalam serangan yang terjadi pada Jumat (24/7/2026). Di tengah suasana berkabung, ayah salah satu syuhada menegaskan bahwa keluarganya tidak akan pernah meninggalkan tanah mereka meski terus menjadi sasaran teror.
"Kami tidak takut. Apa pun yang mereka lakukan, kami tidak akan meninggalkan tanah kami," kata Ahmad Ramadan saat melepas kepergian putranya, Imran Ramadan, yang gugur bersama tiga sepupunya, sebagaimana dilansir Al Jazeera.

Serangan di Desa Tal bermula ketika sekelompok pemukim "Israel" menyerbu kawasan di sisi barat daya desa. Warga setempat kemudian berusaha menghadang mereka, namun situasi dengan cepat berubah menjadi bentrokan bersenjata setelah tentara penjajah ikut terlibat.
Akibat insiden tersebut, empat warga Palestina gugur, yaitu Imran Ramadan, Ibrahim Hussein Ali Ramadan, Jawad Hussein Ali Ramadan, dan Farouq Adnan Ali Ramadan. Dalam bentrokan itu, dua warga "Israel", termasuk seorang perwira militer, juga dilaporkan tewas.
Ahmad Ramadan mengenang detik-detik terakhir sebelum putranya gugur. Ia mengatakan warga desa bergegas menghadapi serangan para pemukim, sementara dirinya hanya sempat mengikuti perkembangan melalui rekaman video yang beredar.
"Anak saya yang lain membawa kendaraan kecil menuju lokasi, sementara saya kembali ke desa. Di daerah Qabali terdengar suara tembakan yang sangat jelas. Mereka menghujani anak-anak kami dengan peluru," ujarnya.
Tak lama kemudian, Ahmad menerima telepon yang memintanya segera menuju rumah sakit di Nablus.
"Di sana saya mendapati putra saya Imran dan tiga keponakan saya telah gugur bersama," katanya dengan suara tertahan.
Menurut Ahmad, tragedi tersebut bukanlah kejadian pertama. Ia mengaku telah berkali-kali menjadi sasaran intimidasi pemukim saat menggembalakan ternaknya di kawasan Jabal Salman Al-Farisi, lokasi berdirinya permukiman ilegal Havat Gilad dan Yitzhar.
"Mereka selalu menyuruh saya pergi. Saya jawab, 'Ini tanah saya, ini rumah saya. Ke mana lagi saya harus pergi?' Kami tidak takut. Apa yang Allah tetapkan pasti terjadi. Apa pun yang mereka lakukan, kami tidak akan meninggalkan rumah kami," tegasnya.
Pasca-insiden, Desa Tal masih berada di bawah pengepungan pasukan penjajah. Akses keluar-masuk desa dibatasi, sementara prosesi pemakaman para syuhada hanya diizinkan dalam waktu singkat dengan berbagai pembatasan, termasuk larangan menggelar iring-iringan jenazah dan pembatasan jumlah pelayat.
Setelah pemakaman, pasukan penjajah menggerebek sejumlah rumah warga, menangkap puluhan penduduk, lalu menahan dan menginterogasi mereka di sebuah rumah yang diubah menjadi pos militer. Sejumlah warga juga dilaporkan mengalami pemukulan selama proses penahanan.
Pengetatan militer juga diberlakukan di berbagai wilayah Nablus. Pos-pos pemeriksaan diperketat dan sejumlah jalan ditutup, sementara serangan pemukim dilaporkan menyasar beberapa desa lain di selatan Nablus, seperti Awrif, Madama, Jit, dan Tal.
Data Otoritas Perlawanan Tembok dan Permukiman Palestina menunjukkan bahwa selama paruh pertama tahun 2026, pasukan penjajah dan para pemukim telah melakukan 11.074 serangan terhadap warga Palestina dan harta benda mereka. Lembaga tersebut juga mencatat sedikitnya 20 warga Palestina tewas ditembak pemukim sejak awal tahun.
(Samirmusa/arrahmah.id)
