BIHAR (Arrahmah.id) -- Sebuah insiden intoleransi agama yang mengejutkan kembali terjadi di Distrik Saran, Negara Bagian Bihar, India. Seorang wanita Muslim dilaporkan menjadi korban persekusi oleh sekelompok massa Hindu radikal yang memaksanya melepas hijab serta cadar (niqab) miliknya, kemudian dipaksa menjalani ritual pernikahan secara adat Hindu di bawah ancaman dan intimidasi di tengah sorakan slogan-slogan Hindu.
Dilansir Clarion India (7/7/2026), peristiwa keji ini terjadi saat korban dicegat oleh kerumunan massa Hindu radikal yang mengenakan syal berwarna saffron. Kelompok tersebut langsung mengerumuni wanita malang itu, merenggut penutup kepalanya secara paksa, dan menyeretnya ke sebuah kuil setempat.
https://x.com/FoejMedia/status/2074385849274548460/photo/1
Di bawah tekanan psikologis yang luar biasa dan di hadapan ratusan orang yang bersorak, ia dipaksa mengikuti prosesi pernikahan Hindu, termasuk ritual Sindoor (pemberian bubuk merah di belahan rambut) oleh seorang pria Hindu.
Menanggapi tragedi kemanusiaan dan pelanggaran hak asasi manusia yang berat ini, aktivis hak-hak perempuan terkemuka dari organisasi All India Progressive Women's Association (AIPWA), Kavita Krishnan, memberikan pernyataan keras atas kegagalan aparat penegak hukum dalam melindungi kaum minoritas.
"Ini bukan sekadar tindakan kriminal biasa, melainkan bentuk terorisme sosial yang terstruktur untuk mengintimidasi identitas perempuan Muslim di India. Memaksa seorang wanita melepas jilbabnya dan menikahi seseorang di bawah ancaman massa adalah pelanggaran berat terhadap tubuh, keyakinan, dan hak asasi paling mendasar manusia. Kami menuntut kepolisian Bihar segera menangkap semua pelaku yang terlibat tanpa pandang bulu," tegas Kavita Krishnan dalam wawancara resminya.
Kasus persekusi dan pernikahan paksa berbasis agama ini memicu gelombang solidaritas internasional serta sorotan tajam dari berbagai media global.
Media internasional terkemuka seperti Al Jazeera dan BBC News menyoroti bahwa insiden ini menambah panjang daftar diskriminasi struktural serta kekerasan berbasis gender-agama (komunal) yang kian meningkat di India dalam beberapa tahun terakhir.
Di sisi lain, media Timur Tengah berbahasa Arab seperti Al-Arabiya dan Asharq Al-Awsat ikut mengecam keras tindakan tersebut dan mendesak komunitas internasional untuk menekan pemerintah India agar memberikan jaminan keamanan yang nyata bagi populasi Muslim minoritas yang kerap menjadi sasaran empuk kelompok Hindu radikal.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian Bihar menyatakan bahwa mereka telah mengamankan video bukti kejadian dan sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengidentifikasi wajah-wajah pelaku yang terekam dalam video guna memprosesnya secara hukum. (hanoum/arrahmah.id)
