Memuat...

Dua Ledakan Sambut Macron di Damaskus, Namun Pertemuan Bersejarah dengan Ahmad Asy-Syaraa Tak Terhentikan

Samir Musa
Selasa, 7 Juli 2026 / 22 Muharam 1448 20:36
Dua Ledakan Sambut Macron di Damaskus, Namun Pertemuan Bersejarah dengan Ahmad Asy-Syaraa Tak Terhentikan
Presiden Prancis Emmanuel Macron berjabat tangan dengan Presiden Suriah Ahmad Asy-Syaraa di Masjid Umayyah, Damaskus, dalam kunjungan pertama seorang pemimpin Eropa sejak tahun 2024. (AFP)

DAMASKUS (Arrahmah.id)– Dua ledakan yang terjadi di sekitar lokasi menginap delegasi Presiden Prancis Emmanuel Macron di Damaskus tidak menggagalkan agenda kunjungan kenegaraan yang berlangsung pada Selasa. Di tengah insiden tersebut, Macron tetap melanjutkan pertemuannya dengan Presiden Suriah Ahmad Asy-Syaraa, menegaskan komitmen Prancis untuk terus membuka hubungan dengan Damaskus.

Ledakan terjadi di sekitar bekas gedung Kementerian Pariwisata Suriah, tidak jauh dari Hotel Four Seasons yang menjadi tempat menginap delegasi Prancis. Menurut Kementerian Dalam Negeri Suriah, dua bahan peledak meledak sebelum sempat dijinakkan aparat, menyebabkan 18 orang terluka, termasuk empat personel kepolisian.

Meski sempat memicu kepanikan, agenda kunjungan Macron tetap berjalan sesuai rencana. Presiden Prancis itu tiba di Istana Rakyat dan menggelar pembicaraan dengan Presiden Ahmad Asy-Syaraa dalam kunjungan yang dinilai sebagai tonggak baru hubungan Suriah dengan negara-negara Barat.

Dalam pernyataannya melalui akun resmi di platform X

Macron menegaskan bahwa insiden tersebut tidak akan menghentikan kunjungannya.

"Tidak ada yang dapat memadamkan harapan rakyat Suriah untuk hidup di negara yang aman, majemuk, bersatu, dan berdaulat sepenuhnya," tulis Macron.

Ia menambahkan bahwa dirinya menyaksikan langsung keberagaman masyarakat Suriah serta semangat, keberanian, dan tekad mereka untuk membangun kembali negaranya. Macron kemudian menutup pesannya dengan kalimat singkat, "Kunjungan saya tetap berlanjut."

Sementara itu, aktivis hak asasi manusia Fadel Abdul Ghani mengungkapkan bahwa ledakan pertama terjadi sekitar 10 menit setelah Macron meninggalkan hotel. Tak lama kemudian, ledakan kedua yang lebih kuat memaksa petugas keamanan mengevakuasi para tamu ke ruang bawah tanah sebagai langkah antisipasi. Aparat Suriah kemudian segera menutup kawasan tersebut dan mengamankan situasi.

Di media sosial, insiden itu memunculkan beragam analisis politik. Sejumlah pengamat menilai ledakan tersebut bukan sekadar gangguan keamanan, melainkan upaya untuk mengganggu proses normalisasi hubungan Suriah dengan dunia internasional.

Aktivis Tamer Qudaih menuding badan intelijen "Israel", Mossad, berada di balik insiden tersebut. Menurutnya, "Israel" tidak menginginkan Suriah kembali memperoleh posisi penting di kawasan.

Pandangan serupa disampaikan jurnalis Arab Saudi Abdullah Al-Bandar yang menyebut ledakan itu sebagai pesan politik yang dikemas dalam bentuk aksi keamanan dengan tujuan mengacaukan kunjungan Macron dan mencoreng citra Suriah di mata dunia.

Sementara itu, penulis Muhammad Al-Mukhtar Asy-Syinqithi menduga aksi tersebut kemungkinan dilakukan oleh unsur-unsur Zionis atau sisa-sisa rezim Bashar al-Assad yang berusaha menciptakan kesan bahwa Suriah masih belum stabil.

Namun, berbagai analisis menilai upaya tersebut justru gagal mencapai tujuannya. Blogger Suriah Qutaibah Yasin mengatakan bahan peledak yang digunakan tergolong sederhana dan hanya diletakkan di dalam tempat sampah serta sebuah kendaraan yang terparkir, sehingga lebih bertujuan menciptakan kepanikan sesaat daripada menimbulkan kerusakan besar.

Kegagalan upaya tersebut terlihat dari tetap berlangsungnya penyambutan resmi terhadap Macron, sebagaimana ditunjukkan dalam rekaman yang dibagikan jurnalis Hadi Al-Abdullah.

Kunjungan Macron sendiri menjadi momen bersejarah karena ia merupakan pemimpin negara Barat besar pertama yang mengunjungi Suriah sejak tumbangnya pemerintahan Bashar al-Assad pada Desember 2024. Sebelumnya, Macron juga menjadi pemimpin Barat pertama yang menerima Presiden Ahmad Asy-Syaraa di Paris setelah beliau menjabat sebagai presiden Suriah.

(Samirmusa/arrahmah.id)