TEHRAN (Arrahmah.id) – Prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada tiga hari pertama berlangsung dengan tahapan yang disusun secara sistematis. Sebelum iring-iringan jenazah dibawa ke jalan-jalan Teheran untuk prosesi pemakaman massal, pemerintah Iran lebih dahulu menggelar rangkaian acara yang memadukan aspek diplomatik, mobilisasi publik, dan legitimasi keagamaan.

Pada hari pertama, Jumat (3/7), fokus utama diarahkan pada penerimaan ucapan belasungkawa resmi dari delegasi asing dan para pejabat negara. Sejak pagi, sejumlah tamu luar negeri tiba di Teheran untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Khamenei.
Pengaturan tersebut dinilai bukan sekadar urusan protokol, melainkan juga pesan politik kepada dunia bahwa pemerintahan Iran tetap berjalan stabil dan mampu mengelola transisi setelah wafatnya pemimpin tertinggi. Sejumlah pengamat menyebut langkah itu sebagai bagian dari "diplomasi pemakaman" yang bertujuan menampilkan citra negara yang tetap kokoh.

Memasuki hari kedua, Sabtu (4/7), pusat perhatian beralih kepada masyarakat. Kompleks Musala Imam Khomeini di Teheran dibuka untuk umum dalam acara yang oleh media Iran disebut sebagai "pertemuan terakhir rakyat dengan pemimpin syahid."
Ribuan warga dari berbagai wilayah menghadiri prosesi penghormatan tersebut. Di lokasi, terlihat peti jenazah, bendera-bendera merah, foto-foto almarhum, serta berbagai slogan yang menonjolkan narasi kesyahidan Khamenei.
Musala Imam Khomeini sendiri memiliki makna simbolis dalam politik Iran karena selama ini menjadi lokasi berbagai agenda keagamaan dan mobilisasi massa. Karena itu, tempat tersebut dipandang mampu menggabungkan suasana duka dengan pesan politik negara.
Salah satu simbol yang paling mencolok adalah kehadiran bendera merah. Dalam tradisi politik dan keagamaan Iran, bendera tersebut sering dikaitkan dengan simbol darah yang belum terbalaskan serta semangat melawan kezaliman. Bersamaan dengan itu, terdengar pula slogan-slogan yang menyerukan permusuhan terhadap Amerika Serikat dan "Israel".

Pada hari ketiga, Ahad (5/7), prosesi memasuki tahap keagamaan melalui pelaksanaan salat jenazah yang dipimpin Ayatollah Ja'far Subhani di Musala Imam Khomeini. Salat tersebut dihadiri ribuan pelayat, tiga putra Khamenei, para pejabat tinggi, komandan militer, serta sejumlah tokoh dalam dan luar negeri.
Selain jenazah Khamenei, salat juga dilakukan untuk beberapa anggota keluarganya yang turut menjadi korban.

Penunjukan Ayatollah Ja'far Subhani sebagai imam salat dinilai memiliki makna tersendiri. Ulama senior yang berasal dari kota Tabriz dan merupakan salah satu marja taklid terkemuka di Qom itu dianggap memberikan legitimasi keagamaan terhadap seluruh rangkaian prosesi.
Pengamat menilai tiga hari pertama pemakaman Khamenei memperlihatkan pola yang jelas, yakni diawali dengan diplomasi luar negeri, dilanjutkan mobilisasi pendukung di dalam negeri, lalu ditutup dengan legitimasi dari kalangan ulama.

Meski demikian, salat jenazah bukanlah akhir dari seluruh rangkaian pemakaman. Prosesi utama dijadwalkan berlanjut dengan iring-iringan jenazah di jalan-jalan Teheran pada Senin, kemudian menuju Qom pada Selasa, dilanjutkan ke Irak pada Rabu, sebelum akhirnya dimakamkan di Kota Mashhad pada Kamis.
Dengan susunan tersebut, Iran dinilai berupaya mengendalikan narasi sejak awal masa berkabung, dengan menampilkan citra negara yang tetap solid, dukungan publik yang besar, serta dukungan penuh dari lembaga keagamaan.
(Samirmusa/arrahmah.id)
