Memuat...

Pertahanan Sipil Gaza Mulai Fase Kedua Operasi 400 Jam untuk Menemukan 8.500 Warga yang Hilang di Bawah Puing

Zarah Amala
Selasa, 7 Juli 2026 / 22 Muharam 1448 11:39
Pertahanan Sipil Gaza Mulai Fase Kedua Operasi 400 Jam untuk Menemukan 8.500 Warga yang Hilang di Bawah Puing
Pertahanan sipil di Gaza beroperasi dengan satu mekanisme tunggal untuk mengeluarkan jenazah para martir dari bawah reruntuhan (Al Jazeera).

GAZA (Arrahmah.id) - Di atas puing-puing rumahnya yang hancur di Jalur Gaza, Yusuf Al-Zaharna menanti dengan harapan besar agar tim penyelamat dapat menemukan jenazah putra keempatnya yang masih terkubur. Ia adalah satu dari ribuan warga Gaza yang kini bergantung pada proyek evakuasi yang dijalankan oleh Pertahanan Sipil Gaza bekerja sama dengan Komite Internasional Palang Merah (ICRC).

Pertahanan Sipil Gaza secara resmi memulai fase kedua dari proyek pengambilan jenazah dari bawah reruntuhan rumah yang hancur akibat perang. Proyek ini dijadwalkan berlangsung selama 400 jam kerja, dengan misi utama menjangkau ribuan warga yang hilang.

Namun, upaya ini menghadapi tantangan yang sangat berat. "Kami bekerja dengan peralatan yang sangat minim," ujar Direktur Pertahanan Sipil Gaza, Brigadir Jenderal Raed Al-Dehshan. Menurutnya, tim saat ini hanya mengoperasikan satu unit alat berat di tengah kerusakan infrastruktur yang sangat luas dan tidak adanya prospek pasokan alat berat baru untuk unit penyelamat. Dalam situasi di mana mesin tidak dapat mencapai lokasi, tim penyelamat terpaksa melakukan evakuasi secara manual dengan tangan kosong.

Bagi Al-Zaharna, proses ini adalah perjuangan terakhir untuk memberikan penghormatan terakhir bagi putranya, Mu'taz. "Tiga putra saya sudah ditemukan dan dimakamkan, namun satu lagi masih di bawah sana," ungkapnya dengan getir. Ia menceritakan bahwa keluarganya menjadi korban serangan udara saat berada di dalam rumah. Upaya evakuasi mandiri yang ia lakukan selama seminggu terakhir terhambat oleh serangan terus-menerus dan ketiadaan peralatan pertahanan sipil yang memadai.

Direktur Media Pertahanan Sipil di Gaza, Abdullah Al-Majdalawi, menyatakan bahwa pihaknya kini tengah memprioritaskan lokasi-lokasi dengan jumlah korban besar. Salah satunya adalah rumah keluarga Ghabboun yang dihancurkan pada Oktober 2023, di mana dari 45 orang yang menjadi korban, sembilan di antaranya masih belum ditemukan.

Berdasarkan data terbaru, diperkirakan sekitar 8.500 warga Gaza masih dinyatakan hilang di bawah reruntuhan. Kantor Media Pemerintah Gaza mencatat akumulasi puing bangunan di wilayah tersebut kini mencapai sekitar 61 juta ton. Sementara itu, Kementerian Kesehatan Gaza mengonfirmasi bahwa jumlah korban jiwa telah melampaui 73.000 orang selama 1.000 hari konflik yang berkepanjangan.

Pihak Pertahanan Sipil kembali menekankan urgensi bantuan internasional berupa alat berat dan perlengkapan pelindung pribadi. Mereka menegaskan bahwa dengan ketersediaan peralatan yang memadai, proses evakuasi ribuan jasad di bawah reruntuhan dapat dilakukan secara jauh lebih cepat dan sistematis. (zarahamala/arrahmah.id)