Memuat...

DIPLOMASI AYAT AL-QUR'AN ALA SYIAH: Membaca Pesan Politik Iran Melalui Tilawah

Oleh Ustadz Irfan S AwwasKatib Aam Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) Majelis Mujahidin
Sabtu, 11 Juli 2026 / 26 Muharam 1448 06:55
DIPLOMASI AYAT AL-QUR'AN ALA SYIAH:  Membaca Pesan Politik Iran Melalui Tilawah
Warga Iran memadati kawasan Musala Imam Khomeini di Teheran menjelang prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. (Reuters)

Dalam tradisi diplomasi modern, pesan-pesan politik umumnya disampaikan melalui pidato resmi, komunike diplomatik, atau bahasa tubuh para pemimpin negara. Namun, pada prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, Teheran memilih bentuk komunikasi yang berbeda: menggunakan ayat-ayat Al-Qur'an sebagai instrumen diplomasi.

Khamenei meninggal pada 28 Februari 2026 setelah serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan "Israel" menghantam kediamannya di Teheran. Pemerintah Iran mengonfirmasi kematiannya sehari kemudian. Karena perang yang masih berlangsung, prosesi pemakaman kenegaraan tidak dapat segera dilaksanakan dan baru digelar sekitar empat bulan kemudian.

Rangkaian penghormatan dimulai pada Jumat (3/7/2026) di Teheran, berlanjut di sejumlah kota, dan ditutup dengan pemakaman di Mashhad pada Kamis (9/7/2026).

Di tengah prosesi tersebut, muncul pola yang menarik perhatian para pengamat. Setiap delegasi dari negara-negara Muslim yang datang menyampaikan belasungkawa disambut dengan pembacaan ayat Al-Qur'an yang berbeda. Tidak ada penjelasan resmi mengenai alasan pemilihan ayat-ayat tersebut. Namun, banyak pengamat Timur Tengah menilai bahwa perbedaan itu bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari symbolic diplomacy (diplomasi simbolik), yaitu penyampaian pesan politik melalui simbol-simbol keagamaan yang sarat makna.

Jika tafsir tersebut benar, Iran tengah menyampaikan pesan politik secara halus namun kuat. Melalui pemilihan ayat yang berbeda bagi setiap delegasi, Teheran diduga mengomunikasikan pesan yang disesuaikan dengan posisi, hubungan, dan kepentingan masing-masing negara terhadap Republik Islam Iran.

Al-Qur'an sebagai Instrumen Diplomasi

Bagi Republik Islam Iran, agama bukan sekadar fondasi ideologi negara, melainkan juga bagian dari strategi komunikasi politik. Dalam sistem politik Iran, agama dan negara merupakan dua unsur yang saling menyatu. Karena itu, penggunaan ayat-ayat Al-Qur'an dalam forum kenegaraan dapat dipahami bukan hanya sebagai ritual keagamaan, melainkan juga sebagai bahasa diplomasi yang sarat makna simbolik dan mudah dipahami oleh dunia Islam.

Berikut kemungkinan pesan politik yang terkandung dalam setiap ayat yang diperdengarkan kepada para delegasi.

1. Qatar: Apresiasi bagi Sang Mediator

Delegasi Qatar disambut dengan Surah Al-Fath ayat 2. Secara tekstual, ayat ini berbicara tentang kesempurnaan nikmat Allah, ampunan, dan petunjuk menuju jalan yang lurus.

Dalam konteks politik kawasan, sejumlah analis menafsirkannya sebagai bentuk penghargaan Iran terhadap peran Qatar yang selama bertahun-tahun menjadi mediator antara Teheran, negara-negara Barat, dan berbagai aktor regional.

Apabila tafsir tersebut benar, pesan yang ingin disampaikan bukan mengenai kemenangan militer, melainkan pengakuan atas kontribusi diplomatik Doha dalam menjaga ruang dialog.

2. Turki: Sindiran Halus tentang Makna Solidaritas

Turki memperoleh Surah An-Nisa ayat 95 yang membandingkan mereka yang berjihad dengan mereka yang tidak ikut berjuang.

Ayat tersebut dapat dibaca sebagai pesan bernuansa evaluatif. Ankara selama ini kerap menyuarakan dukungan terhadap Palestina, tetapi pada saat yang sama tetap mempertahankan hubungan strategis dengan Barat dan memiliki dinamika hubungan yang kompleks dengan "Israel".

Jika dimaksudkan sebagai pesan politik, Iran tampaknya ingin menegaskan bahwa solidaritas tidak cukup diwujudkan melalui retorika, melainkan juga melalui tindakan dan pengorbanan nyata.

3. Arab Saudi: Mengingatkan Kemenangan Kaum yang Sedikit

Delegasi Arab Saudi diperdengarkan Surah Ali Imran ayat 13 yang mengisahkan kemenangan kaum Muslim dalam Perang Badar.

Ayat ini mengandung pesan bahwa jumlah pasukan dan kekuatan militer bukanlah penentu utama kemenangan. Sebagian pengamat menafsirkan pemilihannya sebagai pernyataan bahwa Iran tetap meyakini kemampuannya bertahan menghadapi tekanan musuh yang lebih kuat.

Di sisi lain, ayat tersebut juga dapat dipahami sebagai ajakan kepada Riyadh untuk melihat dinamika konflik kawasan melalui perspektif yang melampaui sekadar kalkulasi kekuatan militer.

4. Pakistan: Penghormatan terhadap Jalur Diplomasi

Pakistan memperoleh Surah Ali Imran ayat 200 yang menekankan kesabaran, keteguhan, kesiapsiagaan, dan ketakwaan.

Dibandingkan ayat-ayat lain yang bernuansa perjuangan bersenjata, ayat ini lebih menonjolkan keteguhan dan kesabaran. Sejumlah laporan menyebut Pakistan berperan membuka ruang komunikasi antara Iran dan Amerika Serikat melalui jalur diplomasi.

Karena itu, ayat tersebut dapat dimaknai sebagai bentuk apresiasi atas konsistensi Islamabad dalam menjaga komunikasi di tengah eskalasi konflik.

5. Hamas: Legitimasi atas Konsistensi Perlawanan

Delegasi Hamas disambut dengan Surah Al-Ahzab ayat 23 yang memuji orang-orang yang tetap setia pada janji mereka kepada Allah, baik yang telah gugur maupun yang masih berjuang.

Bagi Iran, ayat ini memperkuat narasi bahwa Hamas merupakan bagian dari Axis of Resistance yang tetap mempertahankan komitmennya meski menghadapi tekanan besar.

Pesan yang ingin ditegaskan adalah legitimasi moral sekaligus penghormatan terhadap mereka yang gugur dalam perjuangan.

6. Hizbullah: Kekalahan Bukan Akhir Perjuangan

Untuk delegasi Hizbullah dipilih Surah Ali Imran ayat 139–140 yang menyerukan agar kaum beriman tidak menjadi lemah ataupun berduka, karena kemenangan dan kekalahan merupakan bagian dari pergiliran sejarah.

Pemilihan ayat ini selaras dengan posisi Hizbullah yang menghadapi tekanan besar dalam beberapa tahun terakhir. Secara simbolik, Iran tampaknya ingin menegaskan bahwa kemunduran taktis tidak identik dengan kekalahan strategis.

Dalam perspektif ideologi Revolusi Islam, perjuangan dipandang sebagai proses jangka panjang yang tidak ditentukan oleh hasil satu pertempuran.

7. Houthi: Peneguhan Solidaritas Internal

Delegasi Houthi dari Yaman memperoleh Surah Al-Fath ayat 29 yang menggambarkan karakter orang-orang beriman: tegas terhadap musuh, tetapi penuh kasih terhadap sesama.

Dalam konteks hubungan Iran dan Houthi, ayat tersebut dapat dimaknai sebagai peneguhan atas loyalitas, disiplin organisasi, dan solidaritas internal di tengah meningkatnya tekanan militer di kawasan Laut Merah.

Politik Simbol yang Sulit Diabaikan

Apakah seluruh pemilihan ayat tersebut benar-benar dirancang sebagai pesan diplomatik? Hingga kini belum ada penjelasan resmi dari pemerintah Iran yang mengonfirmasi maksud di balik setiap bacaan.

Meski demikian, dalam politik Timur Tengah—terutama dalam tradisi Republik Islam Iran—simbol sering kali memiliki bobot yang hampir setara dengan pidato resmi. Bahasa agama, ritual kenegaraan, dan referensi Al-Qur'an kerap digunakan untuk menyampaikan pesan yang dipahami para aktor regional tanpa harus diungkapkan secara eksplisit.

Karena itu, prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei tampaknya bukan sekadar penghormatan kepada seorang pemimpin yang wafat. Jika pembacaan para pengamat tersebut tepat, maka Iran telah menjadikan tilawah Al-Qur'an sebagai medium komunikasi geopolitik: menghormati sekutu, menguatkan poros perlawanan, mengapresiasi negara-negara mediator, sekaligus mengirimkan sinyal politik kepada negara-negara yang memiliki hubungan strategis dengannya.

Dalam tradisi diplomasi Republik Islam Iran, ayat-ayat Al-Qur'an tidak hanya berfungsi sebagai teks keagamaan, tetapi juga sebagai bahasa diplomasi yang mampu menyampaikan pesan politik secara lebih halus daripada seribu kata.

Yogyakarta, 11 Juli 2026

IRFAN S. AWWAS

(*/arrahmah.id)