TEHERAN (Arrahmah.id) -- Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) kembali melontarkan pernyataan keras terhadap 'Israel' dengan menyebut perdamaian di kawasan Timur Tengah mustahil tercapai selama negara tersebut belum “dilenyapkan”. Pernyataan itu disampaikan IRGC setelah serangan 'Israel' yang menewaskan dua komandan senior Hamas di Jalur Gaza, di tengah meningkatnya ketegangan regional dan upaya diplomatik internasional untuk mendorong gencatan senjata yang lebih permanen.
Dalam pernyataan resminya, seperti dilansir The Times of India (29/5/2026), IRGC mengutuk pembunuhan Mohammed Odeh dan Ezzeddin al-Haddad alias Abu Suhaib, dua petinggi sayap militer Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam. Menurut laporan media Iran, Odeh tewas bersama istri dan tiga anaknya dalam serangan udara Israel di wilayah Kota Gaza.
IRGC menyebut serangan tersebut menunjukkan apa yang mereka gambarkan sebagai “sifat predator dan jahat” 'Israel'. Dalam pernyataannya, pasukan elite Iran itu menegaskan bahwa kawasan Asia Barat atau Timur Tengah tidak akan menikmati stabilitas selama Israel masih berdiri.
“Kawasan ini tidak akan mengalami perdamaian sampai rezim pembunuh anak-anak ini dilenyapkan dari muka bumi,” demikian pernyataan IRGC yang dikutip sejumlah media internasional.
Pernyataan tersebut muncul ketika berbagai negara tengah berupaya meredakan konflik yang melibatkan Iran, 'Israel', Amerika Serikat, serta kelompok-kelompok bersenjata yang didukung Teheran di kawasan. Dalam beberapa pekan terakhir, muncul pembicaraan mengenai kemungkinan kesepakatan baru antara Washington dan Teheran untuk memperpanjang gencatan senjata serta membuka jalan menuju perundingan yang lebih luas terkait program nuklir Iran dan keamanan regional.
Namun, retorika keras dari IRGC memperlihatkan masih kuatnya sikap konfrontatif di dalam struktur keamanan Iran. Sejumlah analis menilai pernyataan tersebut berpotensi memperumit proses diplomasi yang sedang berlangsung karena Israel tetap menjadi salah satu aktor utama yang terlibat dalam konflik kawasan.
The Guardian melaporkan bahwa pernyataan IRGC itu menjadi salah satu sikap paling keras yang dikeluarkan Iran dalam beberapa bulan terakhir. IRGC menegaskan bahwa keamanan dan perdamaian di Timur Tengah tidak dapat dicapai selama apa yang mereka sebut sebagai “rezim Israel” masih eksis.
Di sisi lain, Amerika Serikat masih berusaha menjaga jalur negosiasi dengan Iran. Presiden AS Donald Trump menyatakan dirinya sedang mengambil “keputusan akhir” terkait kemungkinan kesepakatan dengan Teheran, termasuk isu penghentian konflik dan pembatasan program nuklir Iran. Washington menuntut Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir dan menjamin kebebasan pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia.
Meski demikian, berbagai perbedaan mendasar masih membayangi proses perundingan. Iran dan 'Israel' tetap berada dalam posisi saling berseberangan, sementara konflik di Gaza dan Lebanon terus memicu ketegangan baru. Dalam situasi tersebut, pernyataan IRGC dipandang sebagai sinyal bahwa sebagian elemen kekuatan Iran masih menempatkan konfrontasi terhadap Israel sebagai bagian utama dari strategi regional mereka.
Ketegangan yang terus berlangsung membuat prospek perdamaian jangka panjang di Timur Tengah masih menghadapi banyak hambatan. Di tengah upaya diplomasi yang dilakukan berbagai negara, pernyataan terbaru Garda Revolusi Iran menunjukkan bahwa konflik ideologis dan politik antara Teheran dan Tel Aviv masih jauh dari kata selesai. (hanoum/arrahmah.id)
