Memuat...

Ide Gila Ben-Gvir Berencana Kelilingi Penjara Tahanan Palestina dengan Buaya

Zarah Amala
Sabtu, 18 Juli 2026 / 4 Safar 1448 13:19
Ide Gila Ben-Gvir Berencana Kelilingi Penjara Tahanan Palestina dengan Buaya
Ide Gila Ben-Gvir Berencana Kelilingi Penjara Tahanan Palestina dengan Buaya

TEL AVIV (Arrahmah.id) - Menteri Keamanan Nasional 'Israel', Itamar Ben-Gvir, meluncurkan rencana kontroversial dan ekstrem yang memicu kecaman luas: menggunakan buaya hidup untuk mengepung penjara-penjara yang menahan para tahanan Palestina. Rencana yang disebut sebagai "mimpi buruk baru" ini secara resmi didukung oleh Menteri Perlindungan Lingkungan, Idit Silman.

Melalui saluran Telegram pribadinya, Ben-Gvir memposting foto dirinya bersama seekor buaya dengan ancaman langsung kepada para tahanan, khususnya mereka yang diklasifikasikan sebagai tahanan "elit". "Apakah Anda berpikir untuk mencoba melarikan diri? Pikirkan lagi," tulisnya sebagai pesan ancaman.

Rencana ini tidak sekadar menjadi retorika, melainkan telah masuk ke ranah kebijakan formal. Menteri Idit Silman dilaporkan telah melakukan amandemen hukum yang mengklasifikasikan buaya Nil sebagai hewan ternak alih-alih hewan liar. Langkah ini diambil untuk memfasilitasi izin pengadaan dan pemeliharaan buaya di sekitar penjara Negev (Ketziot), meski ditentang oleh Otoritas Taman dan Alam 'Israel'.

Pihak otoritas penjara bahkan telah melakukan survei ke resor Hamat Gader untuk mempelajari mekanisme pembelian dan pengangkutan hewan-hewan tersebut, dengan harga yang berkisar antara $8.000 untuk buaya muda hingga $20.000 untuk buaya dewasa per ekor.

Ide ini memicu gelombang kritik tajam dari dalam negeri 'Israel' sendiri. Di parlemen (Knesset), anggota parlemen Naor Shiri mengejek istilah buaya yang dipelihara yang digunakan kementerian untuk memuluskan rencana tersebut. Ia menyindir, "Musuh 'Israel' selama 100 tahun konflik tidak takut pada militer, tapi kini mereka akan takut pada buaya?"

Para analis dan jurnalis di 'Israel' pun bereaksi keras. Penulis Nadav Eyal, mengkritik pemerintah yang membuang waktu untuk rencana irasional ini di tengah krisis keamanan dan kriminalitas yang sedang memuncak di dalam negeri. Sementara itu, penulis Shay Ben-Efraim, menyebut langkah ini membuktikan sifat asli penjara 'Israel', yakni sebagai kamp yang dirancang untuk penyiksaan dan pembunuhan

Jurnalis Haaretz, Noa Shpigel, menyatakan rasa simpatinya kepada staf pemerintah yang dipaksa membuang waktu menyusun regulasi terkait buaya daripada melayani masyarakat.

Di media sosial, banyak warga 'Israel' menyebut pemerintah saat ini sebagai "pemerintah yang kekanak-kanakan" dan menilai rencana ini sebagai tanda kemunduran moral negara ke level "negara dunia ketiga".

Rencana "Penjara Buaya" ini menambah daftar kelam pelanggaran hak asasi manusia di sistem penjara 'Israel'. Berdasarkan data lembaga advokasi tahanan, saat ini terdapat sekitar 9.400 warga Palestina di penjara 'Israel', termasuk 99 perempuan dan lebih dari 350 anak-anak.

Para tahanan tersebut dilaporkan menghadapi kondisi kemanusiaan yang tragis, mulai dari penyiksaan sistematis, kelaparan sengaja, pengabaian medis, hingga isolasi ketat. Sejak dimulainya perang di Gaza, puluhan tahanan telah gugur di dalam penjara, dan rencana penggunaan buaya ini dinilai sebagai bentuk sadisme terbaru untuk menghancurkan mental para tahanan secara psikologis. (zarahamala/arrahmah.id)