KABUL (Arrahmah.id) -- Otoritas Taliban atau Imarah Islam Afghanistan (IIA) saat ini mulai membatasi ruang gerak komunitas Syiah di Afghanistan melalui tekanan terhadap pemuka agama, pembatasan ritual keagamaan, hingga intervensi terhadap kehidupan sosial warga Hazara Syiah. Tuduhan itu muncul setelah seorang pemuka agama Syiah senior mengungkap meningkatnya intimidasi terhadap komunitas Syiah dalam beberapa bulan terakhir.
Dilansir Kabul Now (29/5/2026), pemuka agama Syiah Afghanistan menyebut IIA semakin aktif mencampuri urusan internal komunitas Syiah, terutama di wilayah-wilayah mayoritas Hazara seperti Bamiyan, Daykundi, dan Herat.
Tokoh politik Hazara Mohammad Mohaqiq mengungkap sejumlah kasus yang menurutnya menunjukkan pola tekanan sistematis terhadap warga Syiah. Ia menyebut aparat IIA memanggil, mengintimidasi, bahkan memukul ulama Syiah terkait persoalan agama dan sosial di komunitas mereka.
Mohammad Mohaqiq mengatakan, “Campur tangan terhadap urusan agama komunitas Syiah dapat merusak kohesi sosial Afghanistan.”
Laporan Kabul Now juga menyebut seorang pemuka agama Syiah mengaku dipanggil dan dipukuli aparat IIA setelah menyampaikan kritik terkait kebijakan pemerintah IIA terhadap komunitas Hazara Syiah. Insiden tersebut memicu kekhawatiran baru mengenai kebebasan beragama di Afghanistan pasca kembalinya Taliban berkuasa pada 2021.
Tekanan terhadap Syiah Afghanistan sebenarnya telah menjadi perhatian organisasi internasional selama beberapa tahun terakhir. Amnesti Internasional menyebut IIA melakukan diskriminasi terhadap kelompok etnis dan agama minoritas, termasuk memaksa sebagian komunitas Ismailiyah Syiah berpindah menjadi muslim.
Selain itu, Amnesty melaporkan IIA juga membatasi pelaksanaan ritual Karbala di sejumlah provinsi dan melakukan tekanan terhadap komunitas Hazara Syiah dalam berbagai aspek kehidupan sosial dan keagamaan.
Laporan Amnesty menyebut, “IIA mendiskriminasi kelompok etno-religius, termasuk komunitas Syiah.”
Komunitas Hazara yang mayoritas memeluk Syiah merupakan salah satu kelompok minoritas terbesar di Afghanistan. Selama beberapa dekade mereka kerap menjadi sasaran diskriminasi, serangan sektarian, dan kekerasan bersenjata, baik oleh Taliban maupun kelompok militan seperti Islamic State Khurasan Provience (ISKP).
Meski IIA beberapa kali menyatakan akan melindungi seluruh kelompok etnis dan mazhab di Afghanistan, berbagai laporan HAM menunjukkan tekanan terhadap Syiah justru meningkat. Sejumlah media lokal juga melaporkan adanya pelarangan buku-buku Syiah, pembatasan peringatan Muharram, hingga penahanan tokoh agama Syiah di beberapa wilayah Afghanistan. (hanoum/arrahmah.id)
