TEL AVIV (Arrahmah.id) - Di tengah perang berkepanjangan yang telah mengubah lanskap Gaza, muncul pengakuan baru dari internal institusi keamanan 'Israel'. Terdapat keyakinan yang semakin menguat di kalangan pejabat tinggi keamanan 'Israel' bahwa masa depan Jalur Gaza tidak lagi dapat diukur dengan skenario menyingkirkan Hamas, melainkan dengan mengakui bahwa gerakan tersebut adalah komponen integral yang sulit dihapuskan dari perhitungan praktis.
Laporan dari situs berita 'Israel' Walla mengutip estimasi institusi keamanan yang menyebutkan sejumlah indikator mengapa Hamas tetap memegang kendali kuat di Gaza. Salah satu indikator utamanya adalah absennya gelombang protes massa yang signifikan, meskipun kondisi kemanusiaan di lapangan sangat buruk, di mana upaya mobilisasi demonstrasi melalui media sosial baru-baru ini pun gagal memicu respons masyarakat.
Selain itu, intelijen 'Israel' menilai bahwa minimnya aksi protes bukan hanya disebabkan oleh faktor keamanan semata, melainkan juga karena kemampuan Hamas dalam menjaga kontrol melalui penyebaran personel bersenjata di titik-titik strategis yang menciptakan atmosfer pencegahan terhadap oposisi terbuka.
Di samping itu, Hamas juga dinilai telah berhasil melakukan pemulihan organisasi dengan meregenerasi alat pemerintahan dan kontrol mereka pasca-perang, bahkan di tengah situasi kehancuran infrastruktur yang masif.
Kondisi ini membuat kalangan keamanan 'Israel' menilai bahwa rencana internasional atau regional untuk mengelola Gaza tanpa partisipasi Hamas adalah hal yang tidak realistis. Pesan ini secara implisit ditujukan kepada pihak Amerika Serikat dan pemerintahan teknokrat yang berupaya membentuk kawasan tanpa Hamas, dengan peringatan bahwa selama Hamas masih memegang otoritas, perubahan realitas politik di sana hampir mustahil dilakukan.
Kritik terhadap Narasi "Kemenangan Mutlak"
Analisis ini sejalan dengan pandangan beberapa pengamat di 'Israel' yang mempertanyakan slogan politik "kemenangan mutlak" yang didengungkan pemerintah. Ron Ben-Yishai, analis militer senior di Yedioth Ahronoth, dalam opininya menekankan bahwa Hamas bukanlah entitas yang dipaksakan dari luar, melainkan cerminan dari bagian luas struktur sosial dan politik di Gaza. Menurutnya, upaya memisahkan Hamas dari masyarakat Gaza jauh lebih kompleks daripada yang diklaim dalam retorika politik resmi.
Di sisi lain, kekhawatiran militer 'Israel' semakin mendalam terkait kapasitas militer Hamas yang kembali dibangun. Laporan dari otoritas penyiaran resmi 'Israel' menyebutkan bahwa Hamas kini memproduksi ratusan bahan peledak dan rudal anti-tank setiap bulan.
Hamas dilaporkan terus melakukan rekrutmen elemen baru, melatih unit elit, serta berupaya memulihkan jaringan terowongan dan menyelundupkan peralatan komunikasi.
Para pejabat militer memperingatkan bahwa Hamas saat ini kuat di lapangan dan tidak ada entitas lain yang mampu menandinginya. Kebuntuan ini diperparah oleh absennya alternatif yang layak; Otoritas Palestina dianggap kurang kredibel, sementara gagasan mengenai pasukan internasional ditolak oleh 'Israel'.
Pada akhirnya, perang ini telah menempatkan 'Israel' dalam dilema. Hamas tetap menjadi pusat gravitasi di Gaza, sementara setiap rencana untuk merekayasa ulang pemerintahan di sana tanpa keterlibatan mereka saat ini dipandang hanya sebatas teori tanpa kemungkinan implementasi praktis. (zarahamala/arrahmah.id)
