Memuat...

Iran Hujani Pangkalan Udara 'Israel' dengan 10 Rudal Balistik, Apa yang Kita Ketahui Sejauh Ini?

Zarah Amala
Senin, 8 Juni 2026 / 23 Zulhijah 1447 08:43
Iran Hujani Pangkalan Udara 'Israel' dengan 10 Rudal Balistik, Apa yang Kita Ketahui Sejauh Ini?
Otoritas Penyiaran 'Israel' melaporkan bahwa Iran meluncurkan 10 rudal balistik ke arah 'Israel' (AFP).

TEL AVIV (Arrahmah.id) - Eskalasi militer di Timur Tengah kembali membara setelah Iran meluncurkan dua gelombang serangan rudal balistik mabaat ke wilayah 'Israel' pada Ahad malam (7/6/2026). Serangan langsung ini menjadi hantaman keras pertama yang secara nyata meruntuhkan kesepakatan gencatan senjata rapuh yang sempat dideklarasikan sejak 8 April lalu.

Komando Jargon Domestik 'Israel' (Home Front Command) melaporkan raungan sirine bahaya berbunyi serentak di koridor luas wilayah 'Israel' Utara dan Tengah, mencakup Galilea Tengah, Hadera, Haifa, Tiberias, Safed, Afula, Nazareth, Karmiel, hingga Dataran Tinggi Golan. Otoritas pendidikan 'Israel' langsung mengambil tindakan darurat dengan menutup seluruh operasional sekolah di seantero negeri pada Senin (8/6/2026) hari ini.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara resmi mengonfirmasi telah melepaskan sedikitnya 10 rudal balistik yang secara khusus membidik Pangkalan Udara Ramat David milik 'Israel' yang terletak di tenggara Haifa.

Pasukan Pertahanan 'Israel' (IDF) mengklaim bahwa sistem pertahanan udara mereka berhasil mengintersepsi seluruh rudal balistik tersebut. Dinas paramedis 'Israel' juga menyatakan tidak menerima laporan adanya korban jiwa atau luka-luka akibat hantaman proyektil.

Militer 'Israel' mengeluarkan instruksi ketat kepada warga sipil untuk tidak mendokumentasikan, menyebarkan, atau mempublikasikan lokasi-lokasi jatuhnya serpihan rudal demi menjaga kerahasiaan taktis.

Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan serangan ini adalah bentuk hak membela diri yang sah atas pelanggaran gencatan senjata berulang oleh 'Israel'. Teheran menegaskan bahwa Lebanon adalah bagian tak terpisahkan dari kesepakatan gencatan senjata regional.

Serangan rudal Iran dipicu oleh operasi udara masif 'Israel' beberapa jam sebelumnya yang menghantam wilayah Dahiyeh di pinggiran selatan Beirut, Lebanon, yang menewaskan dua orang dan melukai 20 lainnya. 'Israel' mengklaim serangan tersebut menyasar pusat komando Hizbullah dan telah berkoordinasi dengan AS, dengan dalih Hizbullah melanggar gencatan senjata terlebih dahulu.

Namun, langkah sepihak 'Israel' memicu kemarahan Teheran. Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menuding 'Israel' sengaja membakar meja perundingan untuk ketiga kalinya di saat proses diplomasi tengah berjalan. IRGC memperingatkan akan meluncurkan serangan yang jauh lebih destruktif dan mencakup pangkalan militer AS di kawasan Teluk jika 'Israel' nekat melakukan serangan balasan.

Upaya Intervensi Donald Trump Demi Selamatkan Kesepakatan Damai

Di tengah kepanikan regional, Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu langsung menggelar rapat darurat bersama kabinet perang dan Kepala Staf IDF Eyal Zamir guna merumuskan skenario balasan. Sayap kanan 'Israel', termasuk Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dan politisi oposisi Avigdor Liberman, mendesak militer untuk segera "membakar Teheran" dan menghancurkan infrastruktur strategis Iran.

Melihat situasi yang hampir lepas kendali, Presiden Amerika Serikat Donald Trump langsung melakukan intervensi diplomatik. Trump secara terbuka mengkritik serangan sepihak 'Israel' di Beirut yang disebutnya tidak dikoordinasikan dengan AS.

"Saya menyarankan kepada Iran: Anda sudah menembakkan rudal Anda, itu sudah cukup. Sekarang kembalilah ke meja perundingan dan buatlah kesepakatan," tegas Trump dalam wawancara dengan Fox News.

Trump mengungkapkan kekhawatirannya bahwa aksi saling balas ini akan menyeret kawasan kembali ke siklus perang tanpa akhir. Ia menegaskan bahwa AS sebenarnya sudah sangat dekat untuk menandatangani kesepakatan damai permanen dengan Iran yang dijadwalkan pada awal pekan ini.

Guna meredam situasi, pemerintahan Trump dilaporkan telah mengirimkan pesan khusus yang meminta 'Israel' untuk menahan diri selama beberapa hari ke depan demi memberikan ruang bagi jalur diplomasi. Sementara itu, sebagai dampak langsung dari eskalasi ini, Irak, Suriah, dan wilayah barat Iran secara resmi mengumumkan penutupan wilayah udara mereka untuk penerbangan sipil. (zarahamala/arrahmah.id)