TEHERAN (Arrahmah.id) - Pemerintah Iran mengeluarkan peringatan keras akan meluncurkan serangan balasan yang jauh lebih menghancurkan dan menyeluruh ke jantung teritori 'Israel'. Gertakan militer ini mencuat pada Senin (8/6/2026), berselang beberapa jam setelah Teheran menghujani wilayah utara 'Israel' dengan tiga gelombang rudal balistik pada Ahad malam (7/6).
Kementerian Luar Negeri Iran dalam rilis resminya menegaskan bahwa setiap petualangan militer baru dari Tel Aviv yang menyasar kedaulatan Lebanon maupun Republik Islam Iran akan langsung direspons secara destruktif oleh Angkatan Bersenjata Iran di titik mana pun yang dianggap strategis. Serangan rudal ini menjadi torehan konfrontasi langsung pertama yang secara resmi merusak kesepakatan gencatan senjata regional yang baru berjalan sejak 8 April lalu.
Teheran memaparkan sejumlah pembenaran hukum dan kronologi operasional yang melandasi keputusan mereka untuk meluncurkan serangan udara. Kemenlu Iran menyatakan tindakan ofensif tersebut sepenuhnya sejalan dengan hak membela diri yang sah sesuai Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Serangan dipicu oleh pelanggaran gencatan senjata berulang oleh 'Israel', termasuk agresi udara mematikan di Dahiyeh, pinggiran selatan Beirut. Teheran menegaskan wilayah Lebanon adalah bagian integral tak terpisahkan dari kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi AS.
Iran juga membongkar rangkaian serangan 'Israel' dalam dua pekan terakhir yang menargetkan kapal-kapal dagang dan pos militer di Iran Selatan, yang mereka kualifikasikan sebagai tindakan bajak laut maritim yang didukung oleh militer Amerika Serikat.
Sementara itu, penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengonfirmasi bahwa pengeboman ke Pangkalan Udara Ramat David menggunakan rudal balistik tersebut barulah sebuah pesan peringatan.
"Itu adalah peringatan agar 'Israel' menghentikan aksi permusuhannya di Lebanon. Jika mereka mengambil langkah agresif baru, mereka akan menghadapi balasan yang jauh lebih kuat dengan biaya yang jauh lebih mahal," tegas Rezaei.
Guna mengantisipasi serangan balasan, Otoritas Penerbangan Sipil Iran langsung menutup total wilayah udara bagian barat negara tersebut hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Media 'Israel' Channel 12 melaporkan Iran meluncurkan tiga gelombang rudal beruntun, di mana salah satu gelombang membawa hulu ledak berat. Serangan tersebut dilaporkan memicu kerusakan infrastruktur di Kota Tiberias.
Merespons ancaman jatuhnya proyektil, pemerintah 'Israel' mengambil langkah darurat dengan menutup total seluruh aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Ben Gurion di dekat Tel Aviv, serta membatalkan seluruh kegiatan belajar-mengajar di sekolah-sekolah seantero negeri.
Otoritas penyiaran 'Israel' menegaskan bahwa jajaran kabinet perang Tel Aviv telah bulat memutuskan untuk membalas serangan Iran. Seorang pejabat senior 'Israel' kepada Reuters menyatakan bahwa serangan langsung ke tanah 'Israel' ini tidak akan dibiarkan, dan Tel Aviv justru memandang krisis ini sebagai peluang emas untuk memperbarui kampanye militer skala besar yang sempat tertahan oleh perjanjian (gencatan senjata) April lalu. (zarahamala/arrahmah.id)
