TEHERAN (Arrahmah.id) – Di balik pegunungan berbatu di Provinsi Isfahan, Iran, terdapat sebuah kompleks bawah tanah misterius yang kini menjadi perhatian dunia. Lokasi yang dikenal sebagai Gunung Kapak (Kuh-e Kolang Gaz La atau Pickaxe Mountain) itu disebut-sebut memiliki tingkat perlindungan yang membuatnya nyaris mustahil dihancurkan, bahkan oleh bom penghancur bunker paling canggih milik Amerika Serikat.
Kompleks tersebut berada kurang dari dua kilometer di selatan fasilitas pengayaan uranium Natanz. Menurut pemerintah Iran, lokasi itu dibangun sebagai pusat perakitan dan manufaktur sentrifugal generasi terbaru. Namun, badan intelijen Amerika Serikat dan "Israel" mencurigai fasilitas tersebut dapat digunakan sebagai lokasi alternatif untuk pengayaan uranium secara rahasia.
Lembaga Institute for Science and International Security (ISIS) yang menganalisis citra satelit menyebut pembangunan kompleks tersebut masih berlangsung dan hingga kini belum mulai beroperasi.

Berada di jantung Pegunungan Zagros
Gunung Kapak terletak sekitar 220 kilometer di selatan Teheran dengan ketinggian sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut. Kompleks bawah tanahnya membentang di area sekitar satu kilometer persegi, dilindungi pagar keamanan yang terhubung dengan kawasan Natanz.
Dua jalan beraspal menuju pintu masuk terowongan, sementara analisis citra satelit memperkirakan fasilitas tersebut berada pada kedalaman sedikitnya 100 meter di bawah gunung.
Pembangunan kompleks dimulai pada Desember 2020, tidak lama setelah kebakaran di fasilitas Natanz yang oleh Iran disebut sebagai akibat sabotase siber. Sejumlah laporan Barat ketika itu menuduh "Israel" berada di balik insiden tersebut.
Kala itu, Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Ali Akbar Salehi, mengumumkan bahwa negaranya akan membangun pusat perakitan sentrifugal baru "di jantung gunung", dan pekerjaan konstruksi telah dimulai.
Mengapa Gunung Kapak begitu penting?
Nilai strategis Gunung Kapak bukan hanya karena lokasinya yang tersembunyi, tetapi juga karena perlindungan alaminya. Menurut sejumlah perkiraan intelijen Amerika, jaringan terowongannya digali jauh di bawah lapisan granit tebal, sehingga mampu menahan serangan bom penghancur bunker paling kuat sekalipun.
Amerika Serikat dan "Israel" menduga lokasi tersebut dapat digunakan untuk membangun fasilitas pengayaan uranium bawah tanah atau memindahkan komponen penting program nuklir Iran ke tempat yang lebih aman.
Sementara itu, Teheran menolak seluruh tuduhan tersebut. Pemerintah Iran menilai narasi mengenai Gunung Kapak sengaja dibesar-besarkan sebagai alasan untuk memperluas operasi militer terhadap Iran.
Media militer "Israel" bahkan pernah mengutip perkiraan bahwa kompleks itu dapat menampung fasilitas pengayaan uranium hingga tingkat 90 persen, tingkat yang dapat digunakan untuk keperluan militer. Namun hingga kini tidak ada bukti independen yang mengonfirmasi klaim tersebut maupun keberadaan uranium yang telah diperkaya di lokasi itu.
Trump ancam serang Gunung Kapak
Sejak pecahnya perang Amerika Serikat-"Israel"-Iran pada 28 Februari 2026, Presiden AS Donald Trump berulang kali mengancam akan menghancurkan Gunung Kapak.
Dalam wawancara pada 13 Juli 2026, Trump mengatakan, "Kami akan menghancurkan Gunung Kapak. Katakan kepada Iran agar bersiap."
Pada 21 Juli, ia kembali menyatakan bahwa Washington terus memantau lokasi tersebut. Meski mengakui tidak memiliki informasi pasti mengenai kemungkinan pemindahan sentrifugal ke dalam kompleks, Trump menegaskan bahwa Amerika akan menyerang setiap lokasi yang diduga digunakan untuk kepentingan program nuklir Iran.
Sebaliknya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa tidak ada aktivitas nuklir di Gunung Kapak. Dalam pernyataannya di platform X pada 22 Juli 2026, ia menyebut seluruh aktivitas nuklir Iran telah dilaporkan kepada Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sesuai kewajiban pengawasan.
Menurut Baqaei, fokus Washington terhadap Gunung Kapak hanyalah dalih untuk membenarkan agresi, penghancuran, dan tindakan sabotase terhadap Iran.
Sejumlah pakar menilai kompleks bawah tanah tersebut memiliki tingkat perlindungan yang melampaui kemampuan bom penghancur bunker Amerika Serikat. Institute for Science and International Security bahkan menyebut penghancuran fasilitas itu kemungkinan lebih efektif dilakukan melalui operasi darat dibandingkan serangan udara, meski tetap ada beberapa titik lemah yang berpotensi dimanfaatkan dalam serangan dari udara.
(Samirmusa/arrahmah.id)
