Memuat...

Kelompok Islamic Resistance Front in Syria Mengajak Pejuang Baru untuk Melawan 'Israel'

Hanoum
Senin, 1 Juni 2026 / 16 Zulhijah 1447 04:45
Kelompok Islamic Resistance Front in Syria Mengajak Pejuang Baru untuk Melawan 'Israel'
Tangkapan layar. [Foto: Youtube]

DAMASKUS (Arrahmah.id) -- Kelompok bersenjata Islamic Resistance Front in Syria (IRFS) kembali menjadi sorotan setelah merilis video propaganda terbaru yang berisi ajakan kepada masyarakat untuk bergabung dalam barisan mereka.

Dalam video yang beredar melalui akun Youtube resmi mereka, Ulwi Albas (31/5/2026), seorang komandan kelompok mereka, Abu Mujahid, tersebut tampil bersenjata sambil menyerukan perlawanan terhadap 'Israel' dan pihak-pihak yang mereka anggap sebagai musuh di wilayah Suriah selatan.

Video itu pertama kali menyebar melalui kanal media sosial yang berafiliasi dengan kelompok tersebut sebelum kemudian diunggah ulang oleh sejumlah akun pemantau konflik Timur Tengah, termasuk akun analis militer independen War Noir di platform X.

Dalam rekaman tersebut, komandan IRFS terlihat membawa senapan serbu tipe AKS-47 Type 3, salah satu varian Kalashnikov yang dikenal luas dan banyak digunakan di berbagai konflik bersenjata selama puluhan tahun.

Dalam pidatonya, komandan kelompok itu mengajak warga Suriah untuk bergabung dengan apa yang mereka sebut sebagai “barisan perlawanan”.

“Kami menyerukan kepada seluruh pemuda yang mampu memanggul senjata untuk bergabung bersama kami dalam menghadapi pendudukan dan agresi,” ujar komandan tersebut dalam video yang diterjemahkan dari bahasa Arab.

Identitas lengkap tokoh yang tampil dalam video tidak disebutkan secara jelas dalam rekaman yang beredar.

Kemunculan video terbaru itu terjadi ketika situasi keamanan di Suriah selatan kembali memanas setelah meningkatnya ketegangan antara kelompok-kelompok pro-Iran, pasukan 'Israel', dan berbagai faksi bersenjata lokal.

IRFS sendiri merupakan kelompok yang relatif baru dan mulai muncul ke publik setelah jatuhnya pemerintahan lama Suriah serta meningkatnya aktivitas militer 'Israel' di wilayah dekat Dataran Tinggi Golan.

Menurut berbagai laporan pemantau keamanan kawasan, IRFS pertama kali mengumumkan pembentukannya pada akhir 2024 dengan nama “Southern Liberation Front” sebelum kemudian berganti nama menjadi “Islamic Resistance Front in Syria” pada Januari 2025.

Kelompok tersebut mengklaim berdiri untuk melawan kehadiran militer 'Israel' di wilayah Suriah dan menyebut dirinya sebagai gerakan perlawanan rakyat. Namun sejumlah analis keamanan internasional menilai kelompok itu memiliki kedekatan ideologis maupun operasional dengan jaringan kelompok pro-Iran yang aktif di kawasan.

Dalam beberapa bulan terakhir, kelompok tersebut mengaku bertanggung jawab atas sejumlah serangan terhadap posisi militer 'Israel' di wilayah Quneitra dan sekitar zona demiliterisasi Golan.

Salah satu operasi yang mereka klaim adalah penembakan drone Israel dan penyergapan terhadap pasukan 'Israel' di Suriah selatan selama eskalasi konflik regional pada 2026. Meski demikian, sebagian klaim operasi mereka sulit diverifikasi secara independen.

Video terbaru itu juga menarik perhatian pengamat militer karena senjata yang digunakan sang komandan tergolong model lama namun masih banyak ditemukan di kawasan Timur Tengah.

Berdasarkan analisis sejumlah akun pemantau persenjataan, senapan yang tampak dalam video memiliki karakteristik Type 3 AKS-47 dengan popor lipat logam. Varian tersebut merupakan salah satu model Kalashnikov yang diproduksi secara luas dan telah digunakan oleh berbagai kelompok bersenjata sejak era Perang Dingin.

Media dan lembaga penelitian keamanan Barat sebelumnya telah memperingatkan munculnya kelompok-kelompok baru yang mengusung narasi “poros perlawanan” atau Islamic Resistance di Suriah. Mereka menilai kelompok semacam IRFS berpotensi menjadi bagian dari jaringan yang lebih luas yang beroperasi di bawah pengaruh Iran dan sekutunya di kawasan, meskipun kelompok tersebut berulang kali menyatakan tidak berafiliasi secara resmi dengan negara atau organisasi tertentu.

Sejumlah analis juga melihat video rekrutmen terbaru ini sebagai upaya memperluas basis dukungan di tengah perubahan besar yang sedang berlangsung di Suriah pascaperang. Dengan memanfaatkan simbol perlawanan terhadap 'Israel' dan narasi nasionalisme Suriah, kelompok tersebut tampaknya berusaha menarik anggota baru sekaligus memperkuat legitimasi mereka di wilayah selatan negara itu.

Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Suriah maupun militer 'Israel' terkait video terbaru tersebut. Namun kemunculan kembali propaganda IRFS menunjukkan bahwa persaingan pengaruh dan konflik bersenjata di Suriah masih jauh dari berakhir, bahkan setelah berbagai perubahan politik besar yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. (hanoum/arrahmah.id)