WASHINGTON (Arrahmah.id) – Amerika Serikat dilaporkan tengah mempertimbangkan sejumlah opsi eskalasi terhadap Iran, mulai dari serangan militer terbatas, operasi khusus, hingga tekanan maritim di kawasan strategis Selat Hormuz, di tengah kebuntuan perundingan program nuklir Iran.
Laporan dari berbagai media internasional menyebutkan bahwa pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menilai langkah-langkah tersebut sebagai upaya untuk menekan Teheran agar kembali ke meja perundingan, atau memperoleh posisi tawar yang lebih kuat dalam dinamika konflik yang terus meningkat.
Namun, para pengamat memperingatkan bahwa setiap bentuk eskalasi berpotensi memperluas konflik di kawasan Teluk yang sudah sangat sensitif.
Rencana serangan cepat dan terbatas
Surat kabar The Telegraph dalam laporan jurnalis Benedict Smith menyebutkan bahwa Kementerian Pertahanan AS tengah menyusun skenario serangan “cepat dan kuat” terhadap wilayah Iran, dengan target infrastruktur strategis.
Tujuan dari rencana tersebut adalah untuk memecah kebuntuan diplomatik sekaligus memaksa Iran mengubah sikap dalam perundingan nuklir yang belum menunjukkan kemajuan berarti.
Laporan itu juga menyebutkan meningkatnya frustrasi di dalam lingkaran pemerintahan AS akibat stagnasi negosiasi.
Menurut sumber yang dikutip The Telegraph, Trump lebih mempertimbangkan opsi tekanan maritim di Selat Hormuz dibandingkan serangan udara langsung, karena faktor risiko politik dan dampak eskalasi yang lebih luas.
Briefing militer untuk Trump
Situs Axios melaporkan bahwa Presiden Trump dijadwalkan menerima pengarahan militer dari Komandan Komando Pusat AS, Laksamana Brad Cooper.
Briefing tersebut mencakup sejumlah opsi baru terkait potensi tindakan militer terhadap Iran, termasuk skenario operasi terbatas dan strategi tekanan tambahan.
Selat Hormuz dan potensi eskalasi
Meningkatnya ketegangan disebut memicu kekhawatiran serius akan kemungkinan meluasnya konflik di kawasan Teluk.
The Telegraph melaporkan bahwa militer AS juga mempertimbangkan opsi penguasaan sementara sebagian wilayah Selat Hormuz untuk memastikan kelancaran jalur pelayaran internasional.
Namun, langkah tersebut dinilai sangat berisiko karena dapat memicu konfrontasi langsung di laut dan melibatkan berbagai kekuatan regional.
Selain itu, terdapat pula opsi operasi khusus yang menargetkan stok uranium Iran yang telah diperkaya tinggi, guna mencegah kemajuan lebih lanjut dalam program nuklir Teheran.
Tekanan militer dan blokade maritim
Axios menambahkan bahwa skenario serangan terbatas terhadap infrastruktur Iran masih menjadi bagian dari pembahasan aktif di lingkaran militer AS.
Di sisi lain, kebijakan blokade atau tekanan maritim disebut menjadi salah satu opsi utama yang sedang dipertimbangkan Washington.
Namun demikian, Presiden Trump disebut belum menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer secara langsung jika Iran tetap menolak kompromi dalam isu nuklir.
Peringatan Rusia
Di tengah meningkatnya ketegangan, Rusia turut memberikan peringatan keras.
Presiden Vladimir Putin dilaporkan telah memperingatkan Trump bahwa setiap eskalasi militer terhadap Iran dapat menimbulkan “konsekuensi serius” yang tidak hanya berdampak pada kawasan, tetapi juga stabilitas global.
Dengan berbagai opsi yang masih terbuka—serangan terbatas, tekanan maritim, hingga operasi khusus—Washington kini berada dalam fase penentuan strategi yang sangat krusial terhadap Iran.
Namun para analis menilai situasi ini tetap sangat rentan dan berpotensi berkembang menjadi konflik yang lebih luas jika salah langkah terjadi.
(Samirmusa/arrahmah.id)
