WASHINGTON (Arrahmah.di) - Di tengah tekanan politik domestik yang kian meningkat, badan intelijen Amerika Serikat dilaporkan tengah menyusun analisis mendalam mengenai potensi respons Iran jika Presiden Donald Trump memutuskan untuk menyatakan kemenangan sepihak dan mengakhiri perang secara dini. Langkah ini dipicu oleh kekhawatiran bahwa konflik yang berkepanjangan telah menjadi beban politik berat yang dapat mengancam posisi Partai Republik dalam pemilu sela mendatang.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Reuters, intelijen AS menganalisis dua skenario utama terkait respons Teheran. Skenario pertama, Trump mengumumkan kemenangan sepihak dan menarik seluruh pasukan. Intelijen memprediksi Iran akan menganggap ini sebagai kemenangan mutlak bagi pihak mereka.
Skenario kedua, Trump menyatakan kemenangan namun tetap mempertahankan kehadiran militer yang masif. Iran diperkirakan akan menafsirkan hal ini hanya sebagai taktik negosiasi yang tidak akan menghentikan permusuhan.
Data dari Reuters/Ipsos menunjukkan penurunan dukungan publik yang drastis. Hanya 26% warga AS yang menganggap biaya perang sepadan, dan hanya 25% merasa perang ini meningkatkan keamanan nasional AS.
Kegagalan diplomasi untuk membuka kembali Selat Hormuz pasca-gencatan senjata telah memicu lonjakan harga energi global, yang berdampak langsung pada kenaikan harga bensin di Amerika.
Meskipun pengakhiran perang dapat meredam tekanan politik, para penasihat Trump khawatir hal ini akan memberi celah bagi Iran untuk membangun kembali program nuklir dan rudalnya, yang mengancam sekutu AS di kawasan.
Di tengah tarik-ulur diplomatik, Trump telah membatalkan rencana pertemuan utusannya dengan pejabat Iran di Pakistan, menegaskan bahwa dialog harus dimulai dari inisiatif Teheran. Gedung Putih menegaskan tidak akan terburu-buru dalam kesepakatan yang tidak memprioritaskan keamanan nasional.
Sementara, Militer Iran, melalui Garda Revolusi, melontarkan ancaman balasan dengan "kejutan militer yang belum pernah terjadi sebelumnya" jika agresi terus berlanjut. Sementara di lapangan, Iran telah memanfaatkan masa gencatan senjata sejak 8 April untuk memulihkan kembali persenjataan yang sebelumnya sempat terkubur akibat serangan udara.
Meski tekanan domestik sangat besar, beberapa opsi militer tetap dipertimbangkan, seperti serangan udara terarah terhadap pemimpin militer dan politik Iran. Namun, opsi invasi darat kini secara resmi dianggap sebagai langkah yang paling tidak mungkin dilakukan oleh pemerintahan Trump.
Keputusan final belum diambil, namun upaya pemahaman akan konsekuensi dari langkah Trump ini menjadi prioritas intelijen, mengingat waktu yang semakin sempit menuju pemilu sela yang krusial bagi masa depan kekuasaan Partai Republik di Washington. (zarahamala/arrahmah.id)
