DAMASKUS (Arrahmah.id) -- Presiden Suriah Ahmad asy-Syaraa secara resmi menerima kedatangan Issam Buwaydani, pemimpin kelompok bersenjata Jaysh al-Islam, di Damaskus pada Kamis (23/4/2026), setelah sebelumnya dibebaskan dari penahanan di Uni Emirat Arab.
Pertemuan ini menjadi sorotan karena keduanya memiliki sejarah konflik panjang selama perang Suriah. Asy-Syaraa dan Buwaydani pernah saling melontarkan tuduhan ideologis keras, di mana Buwaydani disebut sebagai “murji’ah”, sementara asy-Syaraa sebelumnya dilabeli “khawarij” oleh pihak Jaysh al-Islam.
Menurut Syrian Observer dan Enab Baladi (24/4), pertemuan tersebut berlangsung di ibu kota Damaskus dan menjadi bagian dari upaya rekonsiliasi nasional di tengah fase baru pembangunan pascakonflik.
Kunjungan Buwaydani terjadi setelah ia dibebaskan dari tahanan di UEA dan kembali ke Suriah untuk berpartisipasi dalam proses politik serta rekonstruksi nasional. Dalam pernyataannya, Buwaydani menyerukan persatuan di antara kelompok-kelompok Suriah.
“Kita harus bersatu untuk membangun kembali Suriah dalam fase baru ini,” ujah Issam Buwaydani.
Sementara itu, Ahmad asy-Syaraa menyambut langkah tersebut sebagai bagian dari pendekatan inklusif pemerintah terhadap berbagai faksi yang sebelumnya terlibat konflik.
Ia menyatakan, “Suriah hari ini membutuhkan persatuan, bukan perpecahan yang pernah terjadi di masa lalu,”
Media seperti ILKHA News Agency melaporkan bahwa pertemuan ini mencerminkan perubahan dinamika politik di Suriah, di mana mantan kelompok oposisi kini mulai dilibatkan dalam proses rekonstruksi.
Momen tersebut juga ditandai dengan simbol rekonsiliasi, termasuk interaksi langsung antara kedua tokoh yang sebelumnya berada di kubu berseberangan dalam konflik bersenjata.
Meski demikian, sejumlah pihak masih mempertanyakan sejauh mana rekonsiliasi ini akan berjalan efektif, mengingat sejarah panjang konflik dan perbedaan ideologis yang pernah terjadi antara kedua tokoh tersebut. (hanoum/arrahmah.id)
