DAMASKUS (Arrahmah.id) -- Pengakuan mengerikan datang dari Amjad Youssef yang mengaku sebagai pelaku utama dalam pembantaian Tadamon di Suriah pada 2013, setelah rekaman video kekerasan tersebut kembali viral dan memicu perhatian internasional.
Dalam pernyataan yang dirilis otoritas Suriah dan dilaporkan Anadolu Agency (25/4/2026), Amjad Youssef mengakui keterlibatannya dalam eksekusi sekitar 40 warga sipil di kawasan Tadamon, Damaskus, pada awal konflik Suriah. Ia menyebut para korban dikumpulkan secara acak dengan dalih sebagai “teroris” sebelum dieksekusi di sebuah lubang yang telah disiapkan sebelumnya.
Peristiwa itu terjadi pada fase awal revolusi Suriah, ketika konflik bersenjata mulai meluas di berbagai wilayah. Dalam pengakuannya, Youssef menyebut ia tidak bertindak atas perintah militer, melainkan atas keputusan pribadi.
“Orang yang terlihat dalam video pembantaian Tadamon itu adalah saya. Kami mengumpulkan sekitar 40 orang secara acak dan mengeksekusi mereka di sebuah lubang yang telah disiapkan,” ujar Amjad Youssef dalam pernyataannya.
Ia juga mengungkap bahwa dirinya tidak bertindak sendiri. Dalam pelaksanaan eksekusi, ia dibantu oleh seorang rekannya bernama Najib al-Halabi, serta seorang fotografer yang mendokumentasikan kejadian tersebut. Para korban ditembak satu per satu, sebagian saat sudah jatuh ke dalam lubang, sementara lainnya ditembak sebelum jatuh.
Setelah eksekusi, pelaku mengaku menutupi jejak dengan membakar jasad korban menggunakan ban kendaraan untuk menghilangkan bau pembusukan, sebelum akhirnya lubang tersebut ditutup kembali.
“Kami membakar mereka agar bau tidak menyebar ke lingkungan sekitar,” kata Amjad Youssef.
Pengakuan ini menguatkan temuan sebelumnya yang diungkap oleh berbagai laporan investigasi internasional, termasuk analisis visual dan kesaksian yang mengaitkan aparat keamanan Suriah dengan pembantaian tersebut. Video yang beredar luas sejak beberapa tahun terakhir menunjukkan eksekusi brutal terhadap warga sipil dalam konflik yang telah menewaskan ratusan ribu orang.
Hingga kini, pembantaian Tadamon tetap menjadi salah satu simbol pelanggaran hak asasi manusia dalam perang Suriah. Pengakuan terbaru ini diperkirakan akan memperkuat tekanan internasional terhadap akuntabilitas dan proses hukum bagi para pelaku kejahatan perang.
Konflik Suriah sendiri telah berlangsung sejak 2011 dan melibatkan berbagai aktor domestik maupun internasional, dengan dampak kemanusiaan yang luas. Kasus Tadamon menjadi salah satu contoh paling mencolok dari kekerasan terhadap warga sipil selama konflik tersebut. (hanoum/arrahmah.id)
