TEL AVIV (Arrahmah.id) -- Sekitar ratusan warga India tiba di 'Israel' dalam beberapa hari terakhir sebagai bagian dari program pemindahan resmi pemerintah 'Israel', memicu perhatian global terkait identitas dan asal-usul kelompok ini.
Dilansir JNS (25/4/2026), rombongan sekitar 240–250 orang dari komunitas Bnei Menashe mendarat di Bandara Ben-Gurion, Israel, pada 23–24 April 2026. Mereka merupakan bagian dari gelombang awal program “Operation Wings of Dawn” yang bertujuan memindahkan ribuan anggota komunitas tersebut dari India ke 'Israel' hingga 2030.
Bnei Menashe merupakan kelompok yang berasal dari wilayah timur laut India, khususnya negara bagian Manipur dan Mizoram. Mereka berasal dari komunitas etnis Kuki, Mizo, dan Chin yang meyakini diri sebagai keturunan salah satu dari Sepuluh Suku 'Israel' yang hilang, yakni suku Manasseh dalam tradisi Alkitab. Klaim tersebut telah lama menjadi perdebatan akademik, namun otoritas keagamaan Israel mengakui mereka sebagai bagian dari komunitas Yahudi setelah melalui proses konversi resmi.
Kementerian Aliyah dan Integrasi 'Israel' menyebut kedatangan ini sebagai bagian dari upaya reunifikasi keluarga serta penguatan identitas diaspora Yahudi di Israel. Para pendatang baru tersebut selanjutnya akan ditempatkan di sejumlah wilayah permukiman dan menjalani proses integrasi sosial serta ekonomi.
Migrasi ini juga tidak lepas dari faktor kondisi di daerah asal mereka. Selain dorongan religius untuk kembali ke tanah yang mereka yakini sebagai leluhur, sejumlah laporan media internasional menyebutkan adanya tantangan sosial dan keamanan di wilayah timur laut India yang turut mempercepat proses perpindahan.
Seorang pemimpin komunitas Bnei Menashe, Tongkhohao Aviel Hangshing, menyatakan keyakinan kelompoknya terhadap asal-usul mereka.
“Kami percaya bahwa kami adalah bagian dari suku 'Israel' yang hilang dan kini kembali ke tanah leluhur kami,” ujarnya.
Program pemindahan ini direncanakan berlangsung dalam beberapa tahap, dengan target sekitar 6.000 anggota komunitas Bnei Menashe akan direlokasi ke 'Israel' hingga 2030. Pemerintah 'Israel' menilai proses ini sebagai bagian dari kebijakan aliyah, yakni kepulangan orang-orang Yahudi dari berbagai belahan dunia ke 'Israel'.
Kedatangan ratusan warga India ini menjadi sorotan internasional karena menyentuh isu identitas, sejarah, dan migrasi lintas negara. Selain mempererat hubungan sosial-budaya antara India dan 'Israel', fenomena ini juga memunculkan kembali diskusi mengenai asal-usul komunitas diaspora Yahudi di berbagai wilayah dunia. (hanoum/arrahmah.id)
