Memuat...

Kontaminasi Air Gaza Naik Hampir Tiga Kali Lipat, WHO Bunyikan Alarm

Zarah Amala
Rabu, 2 September 2026 / 21 Rabiulawal 1448 12:00
Kontaminasi Air Gaza Naik Hampir Tiga Kali Lipat, WHO Bunyikan Alarm
(Anadolu)

JENEWA (Arrahmah.id) - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan meningkatnya risiko wabah penyakit di Gaza akibat memburuknya kualitas air. Ancaman tersebut diperkirakan semakin besar saat musim hujan tiba dan berpotensi membawa limbah serta air tercemar ke kawasan yang dipadati warga Palestina.

Perwakilan WHO untuk wilayah Palestina yang diduduki, Reinhilde Van de Weerdt, mengatakan tingkat kontaminasi mikrobiologis dalam sampel air di Gaza hampir tiga kali lipat sejak awal tahun.

“Yang sangat mengkhawatirkan bagi kami adalah kualitas air yang semakin memburuk,” kata Van de Weerdt dalam konferensi pers mingguan di Jenewa, Selasa (1/9/2026).

WHO menyebut telah menguji lebih dari 6.500 sampel air. Tingkat kontaminasi meningkat dari kurang dari 6 persen pada Januari menjadi hampir 20 persen pada Agustus.

Pada saat yang sama, kasus diare cair akut hampir dua kali lipat, dari sekitar 30.000 kasus pada Maret menjadi lebih dari 58.000 kasus pada Agustus.

Van de Weerdt mengatakan kehancuran besar-besaran di Gaza membuat masyarakat hidup dalam kondisi padat, dikelilingi puing, sampah dan saluran pembuangan yang meluap.

Ia memperingatkan musim hujan dapat memperburuk situasi tersebut. Banjir berpotensi membawa limbah dan air tercemar ke tempat-tempat warga tidur, memasak dan merawat anggota keluarga.

Air yang menggenang juga dapat meningkatkan populasi nyamuk dan hama lainnya. Sementara itu, kelembapan dan jamur di dalam tenda pengungsian berpotensi memperparah penyakit pernapasan, terutama pada anak-anak.

Menurut WHO, pencegahan wabah penyakit menjadi penting untuk mempertahankan kemajuan yang masih rapuh dalam sektor kesehatan

WHO juga menyoroti kondisi warga Palestina yang mengalami amputasi akibat konflik.

Van de Weerdt memperkirakan lebih dari 6.600 orang di Gaza membutuhkan perawatan jangka panjang setelah kehilangan anggota tubuh. Namun, mereka menghadapi kesulitan besar untuk memperoleh alat bantu yang diperlukan.

Ia mengatakan tidak ada alat bantu yang memungkinkan warga, termasuk banyak anak-anak, untuk berjalan dan menjalani kehidupan dengan lebih bermartabat yang masuk ke Gaza sejak Mei 2024.

WHO menyerukan agar pasokan medis, material untuk tempat tinggal permanen serta kebutuhan pokok lainnya dapat masuk ke Gaza secara cepat dan tanpa hambatan.

Badan tersebut juga mendesak adanya akses yang dapat diandalkan terhadap air bersih serta sistem pengelolaan limbah yang memadai.

Sistem kesehatan Gaza sendiri mengalami kerusakan parah akibat perang. Sejumlah rumah sakit dan fasilitas medis rusak atau hancur, sementara masuknya obat-obatan, peralatan medis dan bahan bakar juga menghadapi berbagai pembatasan. (zarahamala/arrahmah.id)