TEPI BARAT (Arrahmah.id) -- Upaya pembakaran kembali terjadi terhadap sebuah masjid di Tepi Barat bagian utara pada Selasa (1/9/2026), ketika sejumlah pemukim 'Israel' dilaporkan mencoba memasuki Masjid Nur al-Din Zengi di Desa Bazariya, barat laut Nablus. Setelah gagal membuka pintu masjid, mereka disebut membakar sebuah ruangan di dekat bangunan dan meninggalkan tulisan bernada rasis di sekitar lokasi.
Menurut laporan Wafa yang dikutip Anadolu dan TRT World (1/9), percobaan tersebut terjadi sebelum fajar ketika para pelaku berusaha menerobos pintu masjid. Tidak ada laporan korban jiwa dalam insiden tersebut, sementara kerusakan terutama terjadi pada ruangan di sekitar masjid.
Kementerian Wakaf dan Urusan Keagamaan Palestina mengecam insiden tersebut dan menyebut serangan terhadap masjid serta tempat ibadah sebagai “eskalasi berbahaya dan sistematis” yang bertujuan memprovokasi umat Muslim.
Kementerian itu meminta organisasi internasional dan kelompok hak asasi manusia mengambil langkah untuk melindungi tempat-tempat ibadah serta mencegah berulangnya serangan terhadap desa-desa Palestina.
Presiden Palestina juga memperingatkan meningkatnya serangan terhadap situs-situs keagamaan. Dalam pernyataannya, kantor kepresidenan Palestina menyebut serangkaian serangan tersebut telah “melewati semua garis merah” dan menuduh serangan terhadap tempat-tempat suci telah menjadi kebijakan sistematis.
Mike Huckabee, yang sebelumnya mengecam kekerasan pemukim di Tepi Barat, juga menanggapi tulisan yang ditujukan kepadanya.
“Sungguh menyedihkan bahwa seseorang justru bangga menjadi teroris. Namun, sekelompok kecil yang merusak reputasi 99,9 persen warga Israel yang hidup berdasarkan hukum sipil dan Taurat tidak mewakili bangsa Yahudi atau seluruh Israel,” kata Mike Huckabee, seperti dikutip Times of Israel.
Insiden di Bazariya terjadi di tengah peningkatan kekerasan pemukim di Tepi Barat. Anadolu mengutip data Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menyebut lebih dari 1.430 serangan pemukim yang menimbulkan korban atau kerusakan properti telah terdokumentasi sepanjang 2026 hingga awal Agustus.
Serangan terhadap masjid bukan kejadian pertama dalam beberapa bulan terakhir. Reuters melaporkan pada Juli bahwa pemukim 'Israel' membakar dua masjid di sejumlah desa Tepi Barat setelah bentrokan yang menewaskan warga Palestina dan warga Israel. Dalam salah satu insiden di Desa Kour, dekat Tulkarm, tiga pemukim dilaporkan mencoba membakar sebuah masjid sebelum api dipadamkan oleh jamaah.
Laporan Times of Israel pada 1 September juga menyebut polisi 'Israel' menangkap delapan orang yang diduga terlibat dalam sejumlah kasus pembakaran dan penyerangan terhadap warga Palestina di Tepi Barat. Para tersangka berusia antara 16 dan 20 tahun dan ditahan untuk menjalani pemeriksaan.
Pemerintah 'Israel' sebelumnya menyatakan aparat keamanan mengecam serangan terhadap tempat ibadah. Dalam kasus pembakaran masjid di Qusra pada Juli, militer 'Israel' mengatakan pasukannya menemukan tanda-tanda pembakaran dan grafiti serta melakukan pencarian terhadap tersangka.
Kasus Bazariya kini menambah daftar insiden yang memperburuk ketegangan di Tepi Barat, wilayah yang diduduki Israel sejak 1967 dan menjadi bagian utama wilayah yang diklaim Palestina untuk negara masa depan. Persoalan kekerasan pemukim, perluasan permukiman, serta perlindungan tempat ibadah menjadi salah satu isu yang terus mendapat perhatian internasional, sementara 'Israel' menolak pandangan internasional bahwa seluruh permukiman di Tepi Barat ilegal dan mempertahankan klaim historis serta keamanan atas wilayah tersebut. (hanoum/arrahmah.id)
