Memuat...

Layanan Medis Gaza Kolaps: 17.730 Pasien Kritis Terjebak Akibat Blokade Total Perbatasan

Zarah Amala
Rabu, 10 Juni 2026 / 25 Zulhijah 1447 10:31
Layanan Medis Gaza Kolaps: 17.730 Pasien Kritis Terjebak Akibat Blokade Total Perbatasan
Konferensi pers oleh Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza di depan reruntuhan bangunan yang mengelilingi Kompleks Medis Al-Shifa (Al Jazeera)

GAZA (Arrahmah.id) - Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza kembali membunyikan alarm tanda bahaya menyusul keputusan otoritas 'Israel' yang memperketat pengepungan dan menutup total seluruh akses pintu perbatasan pada Senin (8/6/2026). Kebijakan blokade ini secara masif memutus hak ribuan pasien sipil dan korban luka parah untuk mendapatkan akses evakuasi medis darurat ke luar negeri, yang dikualifikasikan oleh otoritas medis sebagai vonis mati perlahan bagi pasien dalam kondisi kritis.

Dalam konferensi pers resmi yang digelar di antara puing-puing reruntuhan Kompleks Medis Al-Shifa, Direktur Jenderal Rumah Sakit di Gaza, Dr. Muhammad Zaqout, membongkar data statistik penundaan medis yang mengejutkan. Kementerian Kesehatan mencatat sedikitnya terdapat 17.730 rujukan medis aktif untuk pasien dan korban luka yang saat ini sangat membutuhkan evakuasi segera ke luar Gaza. Dari jumlah tersebut, lebih dari 3.300 kasus dikategorikan sebagai status darurat ekstrem yang memerlukan intervensi bedah instan demi menyelamatkan nyawa mereka.

Di balik angka-angka statistik tersebut, laporan lapangan Al Jazeera menggambarkan penderitaan fisik dan psikologis yang mendalam dari para pasien yang terjebak di ruang perawatan. Seorang pasien bernama Nael telah terbaring koma tanpa respons selama 18 bulan akibat cedera otak parah. Meski telah mengantongi dokumen rujukan resmi, penutupan pintu perbatasan membuat keluarganya hanya bisa pasrah menunggu ketidakpastian dalam kondisi kritis.

Hamada, seorang pemuda yang menderita kelumpuhan total pada kedua kaki (paraplegia) akibat cedera tulang belakang pasca-pengeboman dua tahun lalu, terdampar di halaman Rumah Sakit Al-Shifa dengan menggenggam berkas medisnya. Ia terus menyuarakan tuntutannya untuk mendapatkan hak pengobatan dasar agar dapat kembali berjalan.

Dr. Muhammad Zaqout menuding pemerintah 'Israel' secara sengaja menerapkan kebijakan sistemik untuk membatasi dan memotong kuota jumlah pasien kemanusiaan yang diizinkan melintasi perbatasan. Jenis penyakit yang mendominasi daftar kritis ini mencakup pasien kanker stadium lanjut, penderita penyakit darah kronis, serta anak-anak yang mengalami amputasi dan luka bakar parah akibat hantaman artileri.

"Pembatasan logistik ini tidak hanya menghentikan mobilitas manusia, tetapi juga mencekik sisa-sisa fasilitas medis yang masih beroperasi di dalam Gaza," tegas Dr. Muhammad Zaqout.

Selain melarang evakuasi pasien, otoritas pendudukan dilaporkan terus memperketat penyaringan masuknya kargo medis esensial, pasokan obat-obatan khusus, serta instrumen bedah utama. Dampaknya, sebagian besar ruang operasi besar di Gaza terpaksa berhenti berfungsi, menghancurkan rantai pasokan obat, dan mengeluarkan sejumlah departemen medis vital dari sistem layanan kesehatan publik. Ribuan pasien di Gaza kini berada dalam antrean panjang yang melelahkan, menunggu dibukanya gerbang perbatasan yang menjadi satu-satunya peluang mereka untuk bertahan hidup. (zarahamala/arrahmah.id)