Memuat...

Apa Rahasia Ahmad Asy-Syaraa?

Oleh Ali Adh-DhufairiJurnalis dan Presenter program Al-Muqabalah di Al Jazeera.
Kamis, 30 Juli 2026 / 16 Safar 1448 13:12
Apa Rahasia Ahmad Asy-Syaraa?
Presiden Suriah Ahmad Asy-Syaraa bersama jurnalis Ali Adh-Dhufairi, pembawa acara "Al-Muqabalah", di Masjid Umayyah (Al Jazeera).

Di sepanjang jalan yang menghubungkan rumah Presiden Suriah Ahmad Asy-Syaraa di kawasan Al-Mazzah, Damaskus, menuju masjid tempat ia biasa menunaikan salat, terdapat sebuah lorong teduh yang dipenuhi pepohonan di antara deretan bangunan. Lorong itu merupakan jalur yang setiap hari ia lalui menuju salat Subuh maupun salat lima waktu lainnya.

Dengan senyum malu-malu, Abu Muhammad menoleh kepada saya ketika kami berjalan menuju masjid seraya berkata, "Dulu tempat ini bernama Lorong Para Pecinta."

Sebuah ironi yang, tampaknya, akan terus melekat pada perjalanan hidupnya.

Ketika kebanyakan remaja seusianya sibuk menikmati berbagai kesenangan hidup, pemuda Damaskus yang berwajah tampan itu justru dipenuhi oleh satu kegelisahan besar: kewajiban.

"Kewajiban" adalah kata kunci dalam perjalanan hidup Ahmad Asy-Syaraa—kewajiban dalam makna syariat, pemikiran, sekaligus perjuangan. Sebuah konsep yang dahulu menginspirasi ribuan pemuda Muslim untuk menempuh jalan jihad sebagaimana dirumuskan secara khusus oleh organisasi Al-Qaeda, yang jejak awalnya bermula sejak perang Soviet di Afghanistan.

Perasaan wajib itulah yang kemudian membawa Asy-Syaraa meninggalkan Damaskus menuju Irak, lalu kembali ke perbatasan Suriah dalam perjalanan panjang dan penuh penderitaan yang berlangsung hampir seperempat abad.

Entah apakah perjalanan itu akhirnya berhasil melepaskan beban berat yang selama ini dipikulnya, atau justru menjadi fondasi ketika ia berhasil membebaskan Suriah dan kemudian memimpinnya.

Ketika bertemu Ahmad Asy-Syaraa, Anda akan merasakan penghargaan dan keramahan yang begitu tulus darinya. Namun, ia tidak pernah benar-benar sibuk dengan Anda. Ia juga tidak berbicara hanya untuk menjawab pertanyaan Anda. Setiap gagasan yang ia sampaikan terasa seperti telah mulai dirangkai sejak berada di Penjara Bucca di Irak, kemudian berkembang di Idlib, dan hingga kini terus melahirkan makna baru di Damaskus.

Saya menghabiskan lebih dari tujuh jam bersama pria itu pada 25 Juli lalu untuk merekam sebuah wawancara televisi yang beberapa kali tertunda sejak tahun lalu.

Bagian pertama wawancara tersebut telah ditayangkan Al Jazeera pada Ahad lalu, sementara bagian kedua yang lebih bersifat personal akan ditayangkan Ahad mendatang.

Sebelum bertemu dengannya, saya menerima berbagai peringatan.

Yang paling ringan datang dari seorang sahabat yang sama-sama kami kenal dan sangat menghormatinya.

Ia berkata kepada saya, "Berhati-hatilah agar tidak terjebak dalam pesona sang pemimpin."

Menurutnya, pesona itu bisa memengaruhi profesionalisme dan objektivitas saya dalam wawancara, apalagi saya termasuk orang yang sejak awal percaya kepada Revolusi Suriah selama tahun-tahun paling sulitnya, dan kini berada pada momen yang sangat emosional: mengunjungi Damaskus yang telah merdeka serta bertemu pemimpinnya.

Tepat pukul lima sore saya bertemu Ahmad Asy-Syaraa di kantornya di Istana Rakyat.

Istana itu benar-benar menjadi istana milik rakyat setelah kedatangannya. Sebelumnya, tempat itu sama sekali tidak mencerminkan makna tersebut.

Tampaknya, berbagai peringatan yang saya dengar memang ada benarnya.

Keramahan, kehangatan, kesopanan, dan adabnya begitu luar biasa.

Hal itu membuat saya memahami mengapa banyak pemimpin dunia begitu menghormati sekaligus mengaguminya.

Salah satu yang paling menonjol adalah Presiden Donald Trump.

Tampaknya, kekaguman Trump terhadap Ahmad Asy-Syaraa bukan sekadar kesan yang tampak di permukaan atau diungkapkan secara terbuka.

Ia juga tampak mengagumi cara berpikir Asy-Syaraa, cara pandangnya terhadap berbagai persoalan, pemahamannya terhadap berbagai peristiwa, serta visinya mengenai masa depan.

Saya tidak menyebut kekaguman Trump sebagai bentuk sanjungan.

Saya menyebutkannya karena ada sesuatu yang sangat menarik pada diri Ahmad Asy-Syaraa.

Ia tampak benar-benar mengetahui apa yang sedang dilakukannya.

Ia memiliki gambaran yang hampir sepenuhnya jelas mengenai langkah-langkah berikutnya, kapan waktu yang tepat untuk melakukannya, dan bagaimana cara mewujudkannya.

Hal itu telah kita saksikan ketika proses pembebasan Suriah berlangsung, dan saya yakin kita akan kembali menyaksikannya dalam berbagai persoalan besar berikutnya.

Ketika Anda berbicara dengannya, Anda akan merasakan penghargaan dan kasih sayangnya.

Namun, ia tidak pernah larut dalam percakapan dengan Anda.

Setiap ide yang ia kemukakan terasa seperti sebuah kalimat yang mulai disusun sejak masa-masa di Penjara Bucca di Irak, berkembang di Idlib, dan hingga kini terus menemukan makna-makna baru di Damaskus.

Ia tidak sekadar menjawab pertanyaan Anda.

Ia hidup dalam dunia yang disebutnya sebagai kewajiban—sebuah dunia yang telah menguras batinnya sejak ia berjalan melewati Lorong Para Pecinta dan Masjid Al-Akram di kawasan Al-Mazzah.

Ini bukan berarti ia meremehkan lawan bicaranya.

Yang saya maksud adalah, Anda sedang berhadapan dengan seseorang yang telah memiliki metodologi, pandangan, dan visi yang hampir sepenuhnya matang mengenai arah yang hendak ia tempuh.

Bahkan, dalam visi itu telah tersedia jawaban atas berbagai pertanyaan maupun kritik yang mungkin Anda ajukan.

Ia tidak terlalu berhenti pada rincian-rincian kecil, padahal rincian semacam itu sangat banyak, rumit, dan seakan tidak ada habisnya.

Sebaliknya, ia langsung membawa Anda kepada gambaran yang lebih besar.

Kadang-kadang ia memilih melewati beberapa kesalahan atau kekurangan.

Terkadang itu dilakukan karena kecerdasannya.

Di lain waktu, karena ia memahami bahwa hal-hal tersebut merupakan kenyataan yang belum bisa dihindari, dan waktunya memang belum tepat untuk diperbaiki.

Ia, tampaknya, adalah seorang yang sangat memahami arti momentum.

Apakah saya akhirnya jatuh ke dalam hal yang sejak awal diperingatkan kepada saya? Apakah saya ikut terpesona oleh Ahmad Asy-Syaraa? Mungkin saja.

Namun, saya tidak akan mengabaikan kritik yang disampaikan sebagian aktivis mengenai dua persoalan utama. Pertama, tentang penyebutan dirinya sebagai pemimpin Revolusi Suriah, khususnya pada tahun-tahun terakhir revolusi. Kedua, mengenai demokrasi dan komentar saya tentang memudarnya demokrasi sebagai gagasan di berbagai belahan dunia. Selain itu, ada pula pandangannya mengenai identitas Suriah baru beserta penjelasan dan jawabannya atas isu tersebut.

Saya kemudian menemaninya di dalam mobil dari Istana Rakyat menuju kawasan Al-Mazzah. Ia sendiri yang mengemudikan mobil dengan tenang dan sangat percaya diri.

Rombongan pengawalnya relatif kecil dan sederhana jika dibandingkan dengan ancaman keamanan yang semestinya dihadapi seorang presiden.

Tampaknya, Ahmad Asy-Syaraa mengenal Damaskus lebih baik daripada tim pengamannya sendiri. Bahkan beberapa kali ia justru berada di depan rombongan yang mengawalnya.

Dalam percakapan pribadi, saya sempat memanggilnya dengan sebutan "Yang Mulia Presiden", kemudian "Syekh kami", sebagaimana para pengikutnya di Hayat Tahrir Asy-Syam biasa menyapanya, juga sebagaimana sebagian masyarakat memanggilnya.

Namun pada akhirnya, saya lebih sering memanggilnya "Abu Muhammad" atau "Thal 'Umruk" (semoga Allah memanjangkan umur Anda), sebagaimana kebiasaan masyarakat Teluk dalam menghormati seseorang yang memiliki kedudukan tinggi.

Menariknya, dari penampilan, cara berbicara, pembawaan, keramahan, hingga wataknya, Ahmad Asy-Syaraa terasa sangat dekat dengan karakter masyarakat Jazirah Arab.

Percakapan pribadi kami selama perjalanan menuju Al-Mazzah memang bukan untuk dipublikasikan. Tidak ada rahasia besar atau informasi khusus di dalamnya. Itu hanyalah obrolan ringan sembari menuju lokasi pengambilan gambar.

Justru bagian itulah yang paling berkesan dan paling saya nikmati.

Saya berbicara dengannya layaknya seorang sahabat, sampai-sampai saya lupa bahwa orang yang sedang menyetir mobil itu adalah Abu Muhammad Al-Jaulani—yang kini menjadi Presiden Ahmad Asy-Syaraa.

Hal yang paling menonjol dari dirinya adalah kemampuannya berbicara sekaligus sebagai seorang pemimpin, kepala negara, dan teman yang begitu hangat serta dekat.

Saya sama sekali tidak melihat adanya kepura-puraan atau sikap yang dibuat-buat.

Begitulah sifat alaminya.

Di Gunung Qasioun, satu pertanyaan terus mengganggu pikiran saya: bagaimana mungkin Ahmad Asy-Syaraa mampu bertahan bertahun-tahun di penjara Irak, keluar dari kehidupan yang dipenuhi orang-orang dengan pemahaman agama dan realitas yang rancu, sementara ia sendiri tidak pernah benar-benar menjadi seperti mereka?

Apa yang terjadi di Al-Mazzah—mulai dari sekolah pertamanya, masjid tempat ia dahulu beribadah, hingga rumah keluarganya—saya simpan untuk episode kedua wawancara yang memang kami khususkan membahas sisi personal kehidupannya.

Di sana, Anda akan melihat Ahmad Asy-Syaraa bersama masyarakat tanpa persiapan atau rekayasa apa pun.

Saya menyaksikan sendiri keterkejutan warga.

Setiap kali kami berpindah dari satu tempat ke tempat lain, jumlah orang yang mengerumuninya terus bertambah.

Raut wajah mereka memancarkan keterkejutan sekaligus kegembiraan yang sama sekali tidak dibuat-buat.

Mulai dari para jamaah masjid, penduduk kampung, seorang perempuan yang berseru penuh sukacita, anak-anak kecil, hingga seorang pekerja asal Mesir yang hampir menangis ketika meminta izin untuk menyalami Ahmad Asy-Syaraa, namun justru disambut dengan pelukan hangat.

Hal lain yang membuat saya dan seluruh tim sangat terkesan adalah energi luar biasa yang dimilikinya.

Selama lebih dari tiga jam ia terus berdiri, berjalan, berfoto, lalu berbaur bersama masyarakat yang mengelilinginya, tanpa sedikit pun menunjukkan rasa lelah ataupun kejengkelan.

Saya mengatakan kepada rekan-rekan saya bahwa pengalaman memimpin di medan perang, menghadapi pertempuran, dan menjalani perjalanan hidup yang begitu berat mungkin telah membentuk ketahanan luar biasa seperti itu.

Namun, di balik semua antusiasme tersebut, saya juga menyimpan satu kekhawatiran.

Saya khawatir perasaan yang begitu meluap-luap terhadap seorang tokoh pada akhirnya berubah menjadi kultus individu.

Padahal, budaya mengagungkan seseorang secara berlebihan merupakan salah satu penyebab utama berbagai tragedi di dunia Arab.

Budaya itu telah melahirkan banyak diktator dan penguasa zalim yang akhirnya tidak pernah menyadari, bahkan tidak pernah meragukan, bahwa masyarakat sesungguhnya memiliki perasaan yang berbeda terhadap mereka.

Mereka tidak pernah melihat rakyat sebagaimana adanya, atau tidak pernah memberi kesempatan kepada rakyat untuk menunjukkan kenyataan yang sebenarnya.

Usai menyelesaikan pengambilan gambar yang panjang dan melelahkan di Al-Mazzah, kami kembali menaiki mobil menuju Gunung Qasioun.

Sekali lagi, saya menikmati percakapan yang begitu hangat bersama Abu Muhammad.

Saya bertanya kepadanya, "Mengapa Anda begitu bersikeras pergi ke Qasioun, padahal hari sudah menjelang malam, Tuan Presiden?"

Ia menjelaskan bahwa pada hari pembebasan Suriah, ada tiga tempat yang langsung ia datangi.

Pertama, Masjid Umayyah.

Kedua, rumahnya di Al-Mazzah.

Ketiga, Gunung Qasioun.

Dari puncak Qasioun, Damaskus terbentang dari ketinggian dalam keindahan yang luar biasa.

Di sanalah saya melihat Damaskus yang selama ini menjadi "kewajiban" yang dipikul Ahmad Asy-Syaraa.

Damaskus yang begitu dicintai oleh sahabat kami, Menteri Kebudayaan Suriah, Muhammad Yasin Shaleh, dalam bait puisinya:

Aku mencintaimu sebagai tempat bernaung dan tempat kembali, Keindahanmu terasa melampaui nalar. Setiap kali mataku memandangmu, Seakan itulah kali pertama aku melihatmu. Wahai Damaskus, harum semerbak dunia, Pedang Bani Umayyah yang selalu terhunus. Aku berperang agar dapat hidup di sini, Namun ketika akhirnya tiba, aku justru merasa gugur.

Sekali lagi Ahmad Asy-Syaraa mengarahkan rombongan menuju titik yang tepat di Qasioun.

Di belakangnya, saya menunaikan salat Magrib di salah satu puncak gunung yang menghadap langsung ke Damaskus.

Sulit menggambarkan perasaan pada saat itu.

Di hadapan mata saya terlintas seluruh penderitaan rakyat Suriah selama tahun-tahun kelam yang kami semua saksikan sepanjang satu setengah dekade terakhir.

Seluruh adegan memilukan itu kembali hadir dalam ingatan.

Sementara di depan kami, imam membaca ayat-ayat Al-Qur'an dengan suara yang tenang dan penuh kekhusyukan.

Di telinga saya terngiang bait-bait penyair almarhum Nader Shaleesh:

Malam pasti akan berlalu oleh datangnya fajar, Cahaya akan bersinar dan kegelapan pun sirna. Kebenaran akan kembali menjulang tinggi, Dengan panji-panji putihnya, tanpa kekufuran dan tanpa tipu daya. Tanda-tanda fajar telah tampak membawa kabar gembira, Tak ada lagi Al-Uzza maupun Hubal yang tersisa di negeri ini.

Dan benar saja, cahaya Damaskus kembali bersinar pada pagi 8 Desember, ketika Ahmad Asy-Syaraa berpidato di Masjid Umayyah dengan mengatakan:

"Dengan pertolongan Allah, belenggu telah dipatahkan, orang-orang yang tertindas telah dibebaskan, debu kehinaan telah disingkirkan dari pundak Negeri Syam, dan matahari Suriah kembali terbit."

Di Gunung Qasioun, satu pertanyaan terus memenuhi benak saya: bagaimana Ahmad Asy-Syaraa mampu bertahan selama bertahun-tahun di penjara Irak, lalu keluar dari lingkungan yang dipenuhi orang-orang dengan pemahaman agama dan realitas yang menurutnya keliru, sementara ia sendiri tidak sepenuhnya menjadi bagian dari cara berpikir mereka?

Bagaimana ia pernah bergabung dengan ISIS—yang menurutnya memiliki program destruktif—padahal dalam lubuk hatinya ia meyakini bahwa jalan tersebut bukanlah jalan, proyek, ataupun kewajiban yang sesungguhnya ia yakini?

Bagaimana ia kemudian melepaskan diri dari ISIS dan warisan Al-Qaeda, lalu memasuki pusaran konflik antarfaksi di Suriah yang dipenuhi persaingan pengaruh, sempitnya cakrawala berpikir, dan ambisi-ambisi kecil untuk menguasai wilayah? Semua itu sempat membuat sebagian pihak keberatan ketika ia disebut sebagai seorang pemimpin.

Lalu, bagaimana ia mulai membangun komunikasi dengan berbagai negara di dunia untuk menawarkan visi lama yang dikemas dalam pendekatan baru? Langkah itu membuat sebagian orang menuduhnya memiliki hubungan rahasia dengan Barat, bahkan menudingnya sebagai agen badan-badan intelijen.

Demikian pula dalam hubungannya dengan Turki. Ia mampu mengambil manfaat terbaik dari hubungan tersebut, namun tetap mempertahankan independensi keputusan bagi dirinya dan kelompoknya. Hal ini berbeda dengan anggapan yang tidak tepat bahwa Operasi "Menolak Agresi" sepenuhnya merupakan keputusan Turki.

Padahal, banyak orang tidak mengetahui bahwa Turki justru tidak menyetujui operasi tersebut dan bahkan telah memperingatkan Hayat Tahrir Asy-Syam agar tidak melaksanakannya. Sikap itu tetap bertahan hingga pasukan oposisi berhasil menguasai Aleppo sepenuhnya dan melanjutkan operasi ke wilayah-wilayah berikutnya.

Saya juga bertanya-tanya bagaimana Asy-Syaraa mampu mengungguli sisa-sisa rezim lama dan pihak-pihak yang kalah, yang kini justru ingin mendikte bagaimana Suriah harus dipimpin, padahal merekalah yang selama bertahun-tahun menghancurkan negeri, menumpahkan darah, dan melakukan berbagai kekejaman.

Dan bagaimana pula ia menjawab kritik para intelektual yang selama ini tidak pernah berhasil mewujudkan model pemerintahan yang mereka cita-citakan di mana pun dan kapan pun, tetapi kini datang untuk mengajarkan berbagai teori kepada orang lain?

Bagaimana seorang yang lahir dari dunia jihad dan peperangan justru mampu mencairkan kebekuan hubungan diplomatik, membangun relasi dengan hampir seluruh negara, termasuk mereka yang sebelumnya bersikap hati-hati atau bahkan memusuhi ideologi yang pernah dikaitkan dengannya?

Pelajaran terbesar yang saya peroleh dari hari yang luar biasa itu adalah bahwa Ahmad Asy-Syaraa sesungguhnya adalah seorang politikus yang piawai membangun kompromi dan kesepakatan, namun menurut pandangannya, tanpa mengorbankan prinsip-prinsip mendasar yang diyakininya.

Ia memahami bagaimana tetap teguh sekaligus mampu beradaptasi sesuai keadaan. Hingga hari ini, pendekatan itu tampak berhasil.

Ia bergerak sejauh ruang geraknya memungkinkan.

Orang-orang Arab dahulu berpesan agar seseorang jangan terlalu keras hingga mudah dipatahkan, dan jangan terlalu lunak hingga mudah diperas.

Tampaknya, Ahmad Asy-Syaraa menjalankan nasihat itu dengan keberhasilan yang cukup mencolok.

Saya membayangkan bagaimana keadaan Revolusi Suriah ketika terpecah menjadi begitu banyak faksi, kelompok politik, dan organisasi yang nyaris tak terhitung jumlahnya.

Situasi ketika berbagai kelompok itu tidak lagi benar-benar mencerminkan aspirasi rakyat Suriah yang telah membayar harga sangat mahal demi merebut kembali negeri dan kebebasan mereka.

Benar, Ahmad Asy-Syaraa tidak pernah menjadi pemimpin revolusi yang disepakati secara bulat oleh seluruh rakyat Suriah, terutama mereka yang berada di luar negeri.

Kelompok itu memiliki karakteristik tersendiri yang membutuhkan pembahasan panjang dan tidak mungkin dijelaskan dalam tulisan ini.

Namun, dengan segala penghormatan kepada pandangan dan pendapat mereka, saya melihat bahwa kecenderungan untuk terus memprotes segala sesuatu sedikit demi sedikit justru menjauhkan mereka dari realitas.

Menurut saya, Asy-Syaraa telah melakukan tiga langkah besar.

Pertama, menghancurkan ISIS—yang ia sebut sebagai proyek yang menyimpang—serta mengakhiri dominasi simbol-simbol besarnya, meskipun ideologinya masih tersisa.

Kedua, menyingkirkan pengaruh Al-Qaeda dari Suriah, baik sebagai gagasan, program, maupun proyek politik.

Ketiga, membangun pemerintahan di wilayah-wilayah yang telah dibebaskan, menghadirkan pengalaman pemerintahan yang dianggap menonjol di tengah kondisi yang sangat sulit, menyatukan berbagai faksi melalui perpaduan pendekatan persuasif dan ketegasan, lalu memimpin Operasi "Menolak Agresi" hingga akhirnya Suriah berhasil dibebaskan dan rezim diktator beserta proyek regionalnya berhasil dijatuhkan.

Semua itu, menurut saya, menjadikannya lebih dari sekadar seorang pemimpin revolusi.

Lantas, siapa lagi yang layak menempati posisi tersebut menurut para intelektual revolusioner?

Perlu dipahami bahwa penyebutan "pemimpin revolusi" yang saya gunakan memiliki konteks tertentu, yakni pada fase tertentu dalam perjalanan revolusi, bukan sebagai gelar mutlak yang mencakup seluruh sejarah perjuangan, sebagaimana dituduhkan sebagian pihak.

Ketika dukungan terhadap revolusi mulai melemah, keraguan terhadap keberhasilannya semakin besar, dan semangat perjuangan mulai surut, perubahan yang dilakukan Abu Muhammad Al-Jaulani terhadap pendekatan, slogan, wacana, dan mekanisme perjuangannya justru melahirkan pengalaman Idlib yang kemudian menjadi landasan bagi proses pembebasan Suriah berikutnya.

Persoalan ini bukan sekadar soal memberikan gelar atau penghormatan.

Peran sejarah yang dimainkan Ahmad Asy-Syaraa bersama rekan-rekannya, ditambah perubahan besar dalam pemikiran, metodologi, dan visi mereka, memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai situasi yang dihadapi Suriah saat ini.

Mereka yang lebih menyukai teori-teori mungkin memiliki pandangan berbeda.

Namun, yang saya maksud adalah kepemimpinannya pada salah satu fase paling sulit dan paling gelap dalam revolusi Suriah, bukan kepemimpinan mutlak atas seluruh revolusi.

Saya juga bertanya kepadanya mengenai identitas Suriah baru.

Bagaimana ia memandang identitas negara itu?

Jawabannya singkat, "Identitasnya adalah identitas Suriah."

Ia tidak menjelaskan lebih jauh dan tidak mencoba membangun berbagai teori.

Sepintas, jawaban itu mungkin terasa kurang memuaskan.

Namun jika dipikirkan lebih dalam, maknanya justru sangat besar.

Apakah Suriah masih memerlukan orang lain untuk mendefinisikan bagaimana seharusnya Suriah menjadi Suriah?

Menurut saya, pikirannya saat ini lebih tertuju pada upaya membangun posisi, pengaruh, dan stabilitas Suriah di tengah lingkungan regional yang penuh ancaman.

Perhatiannya lebih banyak diarahkan kepada geopolitik, tantangan-tantangan besar, dan bagaimana membawa negara itu menuju titik stabil.

Hingga kini, saya melihat ia telah melakukan langkah-langkah penting dalam isu keberagaman dan identitas nasional.

Ia tidak memaksakan program keagamaan sebagaimana dikhawatirkan sebagian orang.

Ia memberikan hak-hak kepada warga Kurdi yang selama puluhan tahun dirampas oleh rezim Assad, sekaligus menindak upaya-upaya separatis yang muncul ketika situasi dimanfaatkan secara tidak bertanggung jawab.

Ia juga menangani persoalan kelompok-kelompok minoritas lain dan berbagai bentuk pemberontakan dengan pendekatan yang relatif terkendali.

Memang masih terdapat kesalahan dan pelanggaran, tetapi pendekatan itu jauh dari semangat balas dendam maupun monopoli kekuasaan yang dahulu melekat pada banyak aparat militer dan keamanan.

Ahmad Asy-Syaraa telah memberikan jaminan bagi Suriah yang mencakup seluruh warganya, kecuali mereka yang terbukti terlibat dalam pertumpahan darah rakyat Suriah.

Untuk saat ini, menurut saya, hal itu sudah cukup sebagai dasar pembentukan identitas utama Suriah yang baru, dan semestinya tidak menjadi sumber kemarahan, keresahan, ataupun ketegangan bagi siapa pun.

Apa yang saya lihat di Damaskus—cara kerja lembaga-lembaga negara, perilaku aparat di sekitar pemerintahan, hingga sikap pribadi presiden—memberikan alasan untuk berharap.

Saya bertemu banyak anak muda Suriah yang kini memegang posisi-posisi penting.

Mereka memiliki cita-cita yang nyaris tanpa batas bagi Suriah baru.

Percakapan saya dengan presiden mengenai visi dan rencananya juga memberi optimisme, karena menurut saya semua itu tetap berpijak pada realitas serta capaian yang telah diraih hingga hari ini.

Tentu saja, tidak seorang pun mengetahui apa yang akan terjadi esok.

Sebelum datang ke Damaskus, saya sempat khawatir akan merasakan kekecewaan besar terhadap revolusi, rakyat, dan negeri yang selama ini kami cintai.

Perasaan seperti itu sering muncul setelah perubahan-perubahan besar, terutama pada masa transisi.

Namun, lima hari yang saya habiskan di Damaskus justru memperlihatkan kenyataan yang berbeda dari dugaan saya.

Hari-hari itu menumbuhkan harapan akan lahirnya Suriah baru yang mampu berkontribusi dalam menata kembali kawasan, setelah sekian lama dirusak oleh berbagai proyek ambisius dan destruktif yang membentang dari ujung ke ujung kawasan.

(Selesai)

Tulisan opini ini diambil dan diterjemahkan oleh arrahmah.id dari Al Jazeera Arabic dengan judul asli "أي سر في الشرع!" (Apa Rahasia Ahmad Asy-Syaraa?), karya Ali Adh-Dhufairi, pembawa acara program Al-Muqabalah di Al Jazeera.

(Samirmusa/arrahmah.id)