BRUSSELS (Arrahmah.id) -- Seorang pria Muslim di Belgia meninggal dunia setelah mengalami luka parah saat berusaha melindungi seorang perempuan Muslim dari dugaan serangan verbal bermuatan rasis dan Islamofobia di sebuah trem di ibu kota Brussels. Korban, Driss Atouane, mengembuskan napas terakhir pada Ahad (27/7/2026) setelah beberapa hari dirawat dalam kondisi kritis akibat penganiayaan yang diterimanya.
Menurut keterangan keluarga dan laporan media Belgia, seperti dilansir Anadolu Agency (28/7/), insiden tersebut terjadi di atas Trem 55 yang melintasi wilayah Evere, Brussels. Seorang pria melontarkan komentar rasis dan anti-Muslim kepada seorang perempuan Muslim yang berada di dalam trem.
Melihat kejadian itu, Driss Atouane, yang dikenal sebagai pengelola sebuah supermarket di distrik Schaerbeek, memutuskan untuk turun tangan dan menegur pelaku. Namun upaya Atouane untuk membela korban justru berujung tragis.
Berdasarkan keterangan keluarga, ia diserang dari belakang menggunakan benda berat setelah menghadapi pelaku. Setelah terjatuh ke lantai, pelaku dilaporkan terus menendang tubuhnya hingga sejumlah penumpang lain datang untuk menghentikan penganiayaan tersebut.
"Driss hanya berusaha membela seorang perempuan yang menjadi sasaran hinaan rasis dan Islamofobia. Ia diserang secara brutal hingga mengalami luka yang akhirnya merenggut nyawanya," kata anggota keluarga korban yang dikutip kantor berita Anadolu.
Setelah serangan itu, Atouane sempat berada dalam kondisi sadar dan dilarikan ke Rumah Sakit Universitas Brugmann di Schaerbeek untuk mendapatkan perawatan medis. Namun kondisinya memburuk dalam beberapa hari berikutnya hingga ia mengalami koma. Pada Minggu pagi, pihak rumah sakit mengonfirmasi bahwa ia meninggal dunia akibat luka yang dideritanya.
Kejaksaan Brussels telah membuka penyelidikan atas kasus tersebut dan menangkap seorang tersangka yang diduga terlibat dalam penganiayaan. Otoritas Belgia sedang menyelidiki apakah motif rasial dan kebencian terhadap Muslim menjadi faktor utama dalam serangan tersebut. Jika terbukti, kasus ini dapat dikategorikan sebagai tindak pidana bermotif kebencian (hate crime), yang memiliki konsekuensi hukum lebih berat di Belgia.
Dalam pernyataannya, Walter Derieuw, juru bicara pemadam kebakaran dan layanan darurat Brussels yang turut mengonfirmasi penanganan korban, mengatakan bahwa korban sempat menerima pertolongan medis darurat sebelum dibawa ke rumah sakit. Sementara itu, sejumlah organisasi masyarakat sipil menyerukan penyelidikan menyeluruh dan meminta pemerintah mengambil langkah lebih tegas dalam memerangi rasisme serta Islamofobia.
Kasus kematian Driss Atouane memicu gelombang duka dan kemarahan di Belgia. Warga Schaerbeek menggelar penghormatan bagi korban, sementara tokoh masyarakat Muslim menyebut Atouane sebagai sosok yang kehilangan nyawanya karena membela sesama warga dari tindakan diskriminatif.
Data dari berbagai lembaga pemantau di Eropa menunjukkan bahwa insiden Islamofobia dan kejahatan bermotif kebencian terhadap Muslim masih menjadi tantangan serius di sejumlah negara Eropa.
Dalam beberapa tahun terakhir, organisasi hak asasi manusia dan lembaga Uni Eropa berulang kali memperingatkan meningkatnya ujaran kebencian dan kekerasan terhadap komunitas Muslim, terutama setelah meningkatnya polarisasi politik dan sentimen anti-imigran di beberapa negara.
Kematian Driss Atouane kini menjadi simbol perlawanan terhadap rasisme dan Islamofobia di Belgia. Banyak pihak menilai keberaniannya membela seorang perempuan Muslim yang menjadi sasaran penghinaan menunjukkan pentingnya solidaritas sosial dalam menghadapi tindakan diskriminatif yang masih terjadi di ruang publik Eropa. (hanoum/arrahmah.id)
