ANKARA (Arrahmah.id) -- Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menerima pemimpin politik baru Hamas, Khalil al-Hayya, dalam pertemuan resmi di Ankara. Pertemuan ini menjadi kunjungan luar negeri pertama Al-Hayya sejak terpilih sebagai kepala Biro Politik Hamas dan berlangsung di tengah upaya diplomatik regional terkait perang Gaza, krisis kemanusiaan Palestina, serta negosiasi gencatan senjata yang masih berjalan.
Kementerian Luar Negeri Turki menyatakan, seperti dilansir Anadolu Agency (30/7/2026), pertemuan tersebut digelar pada 29 Juli 2026 dan dihadiri delegasi Hamas yang dipimpin langsung oleh Al-Hayya.
Dalam pembicaraan itu, kedua pihak membahas perkembangan terbaru di Jalur Gaza, situasi di Tepi Barat yang diduduki Israel, serta berbagai upaya internasional untuk menghentikan konflik dan mempercepat penyaluran bantuan kemanusiaan kepada warga Palestina.
Menurut sumber diplomatik Turki, Hakan Fidan juga menyampaikan ucapan selamat kepada Khalil al-Hayya atas terpilihnya sebagai pemimpin baru Hamas. Turki menegaskan kembali dukungannya terhadap perjuangan rakyat Palestina dan menekankan pentingnya tercapainya perdamaian yang adil dan berkelanjutan di kawasan.
Dalam pernyataan yang dikutip media Turki, Hakan Fidan mengatakan, "Turki akan terus mendukung rakyat Palestina serta upaya-upaya yang bertujuan menghentikan penderitaan kemanusiaan di Gaza dan mewujudkan perdamaian yang berkelanjutan."
Pernyataan tersebut mencerminkan posisi Ankara yang selama ini menjadi salah satu pendukung paling vokal bagi Palestina di kawasan Timur Tengah.
Khalil al-Hayya sendiri baru terpilih sebagai pemimpin tertinggi Hamas pada pertengahan Juli 2026, menggantikan kepemimpinan sebelumnya setelah perubahan struktur organisasi Hamas akibat perang berkepanjangan dengan Israel.
Al-Hayya dikenal sebagai salah satu tokoh senior Hamas dan selama beberapa tahun terakhir menjadi figur utama dalam berbagai perundingan tidak langsung dengan Israel mengenai gencatan senjata dan pertukaran tahanan.
Media Israel melaporkan bahwa pertemuan di Ankara mendapat perhatian luas karena berlangsung ketika sejumlah negara regional sedang berupaya mencari formula politik untuk mengakhiri konflik Gaza.
Sementara itu, Turki terus memainkan peran diplomatik aktif dalam berbagai forum internasional yang membahas masa depan Palestina dan rekonstruksi Gaza pascaperang.
Middle East Monitor melaporkan bahwa kunjungan Al-Hayya ke Turki dipandang sebagai sinyal penting mengenai arah hubungan Hamas dengan negara-negara regional setelah pergantian kepemimpinan organisasi tersebut. Turki selama bertahun-tahun menjadi salah satu tujuan utama diplomasi Hamas dan menjadi lokasi berbagai pertemuan antara pejabat Hamas dengan otoritas Turki. (hanoum/arrahmah.id)
