ANKARA (Arrahmah.id) -- Libya dan Suriah untuk pertama kalinya ikut ambil bagian dalam latihan militer terbesar Turki, EFES 2026, yang digelar di wilayah Izmir, Turki barat.
Keikutsertaan kedua negara tersebut menjadi momen bersejarah karena menandai semakin eratnya hubungan pertahanan Ankara dengan pemerintah Libya dan Suriah pascaperubahan geopolitik besar yang terjadi di kawasan Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir.
Dilansir The New Arab (25/5/2026), latihan militer EFES 2026 berlangsung pada akhir Mei 2026 dan melibatkan lebih dari 50 negara, termasuk anggota NATO serta sejumlah negara dari Timur Tengah, Afrika, dan Asia.
Kementerian Pertahanan Turki menyebut latihan itu dirancang untuk meningkatkan interoperabilitas, koordinasi tempur gabungan, serta kesiapan menghadapi berbagai ancaman keamanan modern.
EFES 2026 menjadi sorotan internasional karena untuk pertama kalinya Suriah berpartisipasi secara resmi dalam latihan militer yang dipimpin Turki. Langkah tersebut dianggap sebagai perkembangan besar mengingat hubungan Ankara dan Damaskus sempat memburuk selama lebih dari satu dekade akibat perang saudara Suriah.
Kehadiran delegasi Suriah dalam latihan ini menunjukkan perubahan signifikan dalam dinamika hubungan kedua negara setelah proses normalisasi yang berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.
Selain Suriah, Libya juga tercatat untuk pertama kalinya mengirim personel dalam latihan berskala besar tersebut. Ankara selama ini merupakan salah satu pendukung utama pemerintah Libya yang diakui internasional dan memiliki kerja sama keamanan yang luas dengan Tripoli sejak penandatanganan perjanjian militer pada 2019.
Latihan EFES 2026 mencakup berbagai skenario operasi militer, mulai dari pendaratan amfibi, operasi udara, peperangan perkotaan, serangan gabungan lintas matra, hingga penggunaan sistem persenjataan modern dan kendaraan tanpa awak.
Turki juga memamerkan sejumlah teknologi pertahanan dalam negeri, termasuk drone tempur, sistem rudal, kendaraan lapis baja, dan perlengkapan perang elektronik yang dikembangkan industri pertahanan nasionalnya.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan yang menghadiri demonstrasi utama latihan tersebut menegaskan pentingnya kerja sama militer internasional di tengah meningkatnya ketidakstabilan global.
“Turki akan terus memperkuat kerja sama dengan negara-negara sahabat demi menjaga keamanan, stabilitas, dan perdamaian regional,” ujar Erdoğan dalam pidatonya yang dikutip TRT World.
Kehadiran Suriah dalam latihan ini menjadi perhatian khusus para pengamat karena sebelumnya Ankara mendukung kelompok oposisi yang berupaya menggulingkan pemerintahan Presiden Bashar al-Assad selama perang saudara Suriah.
Namun setelah perubahan politik yang terjadi di Damaskus dan meningkatnya kebutuhan kerja sama keamanan kawasan, hubungan kedua negara mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
Media pertahanan internasional menilai partisipasi Suriah dan Libya mencerminkan upaya Turki memperluas pengaruh strategisnya di kawasan.
Dalam beberapa tahun terakhir Ankara aktif membangun kemitraan militer dengan negara-negara Timur Tengah, Afrika Utara, Asia Tengah, hingga kawasan Afrika Sub-Sahara melalui kerja sama pelatihan, ekspor persenjataan, dan perjanjian keamanan.
Menurut laporan Defense News, latihan EFES 2026 juga menjadi panggung penting bagi industri pertahanan Turki yang terus berkembang. Ankara memanfaatkan kegiatan tersebut untuk menunjukkan kemampuan teknologi militernya kepada delegasi asing yang hadir, sekaligus memperluas peluang ekspor produk pertahanan ke berbagai negara peserta.
Analis keamanan regional menilai keterlibatan Libya dan Suriah dalam EFES 2026 tidak hanya memiliki dimensi militer, tetapi juga pesan politik yang kuat.
Keikutsertaan kedua negara menunjukkan semakin luasnya jaringan kerja sama keamanan yang dibangun Turki di tengah persaingan geopolitik yang terus berkembang di kawasan Timur Tengah dan Mediterania Timur.
Dengan hadirnya Libya dan Suriah untuk pertama kalinya, EFES 2026 menjadi salah satu latihan militer paling penting dalam sejarah modern Turki sekaligus simbol perubahan peta hubungan strategis di kawasan tersebut. (hanoum/arrahmah.id)
