Memuat...

Mantan Tahanan Ungkap Kronologi Negosiasi Yahya Sinwar dengan Shin Bet di Dalam Penjara

Zarah Amala
Sabtu, 30 Mei 2026 / 14 Zulhijah 1447 10:00
Mantan Tahanan Ungkap Kronologi Negosiasi Yahya Sinwar dengan Shin Bet di Dalam Penjara
Yahya Sinwar dikenai hukuman isolasi (Anadolu Agency)

GAZA (Arrahmah.id) - Tokoh senior mantan tahanan Gerakan Perlawanan Islam (Hamas), Abdel Nasser Issa, mengungkapkan dinamika gerakan perjuangan di dalam penjara 'Israel' serta pola pengorganisasian militer pada periode 1995 hingga 2000.

Dalam kesaksiannya pada program Shahid 'Ala al-Asr di Al Jazeera 360, Issa menjelaskan bahwa para tahanan Hamas menghadapi tekanan di dalam penjara, termasuk tindakan represif dari otoritas keamanan. Otoritas penjara juga berupaya memisahkan para tahanan setelah mengetahui adanya upaya perekrutan terhadap tahanan yang mendekati masa pembebasan mereka.

Issa menambahkan bahwa pimpinan gerakan di dalam penjara tetap membangun komunikasi dengan pihak luar untuk membentuk kelompok operasional. Ia menyebut kelompoknya, yang saat itu dipimpin oleh anggota Brigade Al-Qassam, Muadh Bilal, merupakan salah satu unit yang aktif melakukan pergerakan. Kelompok ini juga beranggotakan beberapa tokoh lain seperti Muhyi ad-Din al-Sharif, Yusuf al-Sarkaji, Nasim Abu al-Ruos, dan Jaser Samaro.

Kelompok tersebut terlibat dalam serangkaian operasi di Yerusalem yang menyebabkan 27 warga 'Israel' tewas, serta melakukan upaya penahanan tentara 'Israel' dengan tujuan mendesak pembebasan para tahanan Palestina. Meskipun menghadapi proses interogasi, Issa menyatakan para tahanan berkomitmen untuk tidak membuka identitas jaringan mereka di luar penjara.

Isolasi dan Negosiasi dengan Shin Bet

Mantan tahanan Hamas tersebut mengonfirmasi bahwa otoritas 'Israel' menerapkan kebijakan isolasi ketat terhadap para tahanan dari dunia luar. Namun, pada periode tersebut ia secara pribadi sempat mendapatkan akses komunikasi seluler melalui seorang warga sipil 'Israel'.

Selama masa isolasi, Issa berada bersama sejumlah tokoh penting Hamas lainnya, termasuk mantan Kepala Biro Politik Hamas, mendiang Yahya Sinwar, serta Mahmoud Issa, Majid Abu Qatish, dan pemimpin gerakan di Tepi Barat, Zaher Jabarin. Demi mendesak penghentian kebijakan isolasi tersebut, para tahanan melakukan aksi mogok makan yang didukung oleh gelombang aksi protes di Tepi Barat menjelang Intifada Al-Aqsha pada 2000, yang kemudian mendorong pihak otoritas untuk membuka ruang dialog.

Mantan Kepala Badan Keamanan Internal 'Israel' (Shin Bet), Yuval Diskin, kemudian menggelar pertemuan dengan para tokoh yang diisolasi, termasuk Yahya Sinwar, Rawhi Mushtaha, Tawfiq Abu Naim, Ali Al-Amoudi, dan Zaher Jabarin. Dalam pertemuan tersebut, pihak Shin Bet dilaporkan meminta komitmen tertulis terkait pembatasan aktivitas operasional di masa mendatang sebagai syarat pelonggaran kebijakan.

Melalui negosiasi tersebut, pimpinan Hamas di dalam penjara berupaya memperbaiki kondisi penahanan dan memperoleh hak-hak dasar bagi para tahanan, sebagai timbal balik atas penurunan tensi protes di dalam fasilitas penjara.

Dampak Intifada Al-Aqsa

Kendati demikian, kesepakatan lisan yang bersifat rahasia tersebut batal terlaksana setelah meletusnya Intifada Al-Aqsha pada September 2000. Pasca-peristiwa tersebut, otoritas penjara kembali memperketat prosedur keamanan terhadap para tahanan.

Seiring meluasnya eskalasi, jumlah tahanan Palestina meningkat signifikan hingga mencapai lebih dari 9.000 orang pada 2005. Issa menyebutkan bahwa gelombang penahanan meluas secara masif, termasuk melalui mekanisme penahanan administratif tanpa proses peradilan formal di pengadilan, di mana beberapa tahanan menjalani masa penahanan yang bervariasi antara 22 hingga 23 tahun. Pada periode tersebut, faksi-faksi perlawanan Palestina meluncurkan setidaknya 135 operasi di berbagai wilayah perbatasan. (zarahamala/arrahmah.id)