Memuat...

MBS Desak Trump Lanjutkan Perang Iran

Hanoum
Rabu, 25 Maret 2026 / 6 Syawal 1447 11:10
MBS Desak Trump Lanjutkan Perang Iran
Putra Mahkota dan Perdana Menteri Kerajaan Arab Saudi Mohammed bin Salman melihat foto Presiden AS Donald Trump (kiri) yang dibingkai di samping gambar autopen (kanan) saat ia berjalan menyusuri Kolonade menuju Ruang Oval di Washington, DC pada 18 November 2025. [Foto; AFP)]

RIYADH (Arrahmah.id) -- Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) dilaporkan mendorong Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk melanjutkan perang melawan Iran, bahkan mendorong langkah militer yang lebih agresif. Desakan tersebut muncul di tengah konflik yang terus memanas antara AS-Israel dan Iran, sekaligus memicu kekhawatiran eskalasi lebih luas di Timur Tengah.

Dilansir Middle East Monitor (24/3/2026), Mohammed bin Salman secara aktif melakukan komunikasi langsung dengan Trump dalam beberapa hari terakhir. Dalam percakapan tersebut, ia disebut mendesak agar operasi militer terhadap Iran tidak dihentikan hingga rezim di Teheran benar-benar dilemahkan atau bahkan tumbang.

Menurut The Times of Israel yang mengutip pejabat Amerika Serikat, pemimpin de facto Arab Saudi itu melihat konflik sebagai “kesempatan strategis” untuk mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan Timur Tengah. Ia juga menilai Iran sebagai ancaman jangka panjang yang akan terus membahayakan stabilitas regional jika tidak dihentikan secara militer.

Tidak hanya itu, Mohammed bin Salman bahkan dilaporkan mendorong Washington untuk menargetkan infrastruktur energi Iran sebagai bagian dari strategi melemahkan negara tersebut. Dalam beberapa skenario, ia disebut mendukung opsi pengerahan pasukan darat untuk menguasai fasilitas energi strategis Iran.

Desakan tersebut muncul saat konflik antara AS-Israel dan Iran memasuki fase kritis. Sejumlah laporan menyebut perang yang dimulai pada akhir Februari 2026 telah melibatkan serangan udara, serangan balasan Iran, serta ancaman terhadap jalur energi global seperti Selat Hormuz.

Di sisi lain, laporan media juga menunjukkan bahwa negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, mulai bergerak lebih dekat untuk terlibat dalam konflik setelah serangan Iran terhadap fasilitas militer dan energi mereka.

Namun, sikap resmi Riyadh di depan publik tetap mendorong solusi diplomatik. Kontras antara posisi publik dan laporan di balik layar ini menunjukkan kompleksitas strategi Arab Saudi dalam menghadapi Iran—di satu sisi menghindari perang terbuka, namun di sisi lain mendukung tekanan militer terhadap Teheran.

Pengamat geopolitik menilai langkah MBS mencerminkan perubahan strategi regional, di mana konflik dengan Iran tidak lagi sekadar pertahanan, tetapi juga bagian dari perebutan pengaruh di Timur Tengah. Jika tekanan militer terus meningkat, konflik ini berpotensi meluas dan menyeret lebih banyak negara di kawasan ke dalam perang terbuka. (hanoum/arrahmah.id)