SANA'A (Arrahmah.id) - Angkatan Bersenjata Yaman mengumumkan telah melancarkan 133 operasi militer terhadap kelompok Houtsi dalam 24 jam terakhir. Pada saat yang sama, Dewan Pertahanan Nasional Yaman memerintahkan perluasan operasi terhadap kelompok tersebut.
Juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman, Kolonel Majed al-Nuzaili, mengatakan pasukannya menggunakan peluncur roket, artileri, dan pesawat nirawak untuk menghancurkan sumber ancaman. Operasi tersebut melibatkan unit-unit militer yang ditempatkan di sejumlah garis kontak, tanpa merinci lokasi dan hasil serangan.
Pusat Media Angkatan Bersenjata Yaman juga melaporkan artileri militer menembaki posisi dan konsentrasi pasukan Houtsi di front selatan Marib.
Media Yaman, mengutip sumber militer, melaporkan pasukan pemerintah terlibat pertempuran sengit dengan Houtsi di front Al-Ahkum, wilayah pedesaan selatan Provinsi Taiz.
Dalam perkembangan yang sama, Dewan Pertahanan Nasional Yaman mengancam akan melancarkan lebih banyak operasi yang disebutnya sebagai "operasi penangkalan yang menyakitkan" terhadap Houtsi.
Dewan menuduh Houtsi melakukan serangan terhadap kamp-kamp pengungsi, fasilitas sipil, dan sejumlah fasilitas ekonomi.
Menurut kantor berita resmi Yaman, Saba, Dewan Pertahanan menggelar rapat yang dipimpin Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman, Rashad al-Alimi, di ibu kota Arab Saudi, Riyadh.
Dewan memerintahkan perluasan operasi penangkalan melalui serangan udara dan rudal terhadap sumber ancaman. Operasi tersebut akan dikoordinasikan di berbagai front dan formasi militer.
Dewan juga memerintahkan peningkatan aktivitas intelijen dan keamanan untuk memburu sel-sel Houtsi serta jaringan penyelundupan, pasokan, dan dukungan internal terhadap kelompok tersebut.
Selain itu, Dewan Pertahanan meminta tingkat kesiapsiagaan militer dan keamanan di berbagai front dipertahankan pada level tertinggi. Sistem peringatan dini juga akan diperkuat, sementara perlindungan terhadap fasilitas vital, fasilitas negara, dan objek sipil ditingkatkan.
Pemerintah dan otoritas daerah juga diminta segera mendata dan menangani kerusakan yang disebut sebagai akibat dari "serangan Houtsi", memulihkan fasilitas umum dan layanan yang rusak, memberikan perawatan medis bagi korban luka, serta merawat keluarga korban tewas.
Sehari sebelumnya, kelompok Houtsi mengklaim telah menyerang sebuah kapal pendarat militer Arab Saudi dan empat kapal militer yang mengawalnya dengan sejumlah rudal balistik di Laut Merah, di lepas pantai Al-Makha.
Hingga kini, belum ada konfirmasi dari otoritas Arab Saudi mengenai klaim tersebut.
Perkembangan ini terjadi ketika Houtsi terus melancarkan serangan terhadap wilayah yang berada di bawah kendali pemerintah Yaman, serta ke arah Arab Saudi dan Laut Merah. Houtsi menuduh Arab Saudi memberlakukan blokade terhadap wilayah yang mereka kuasai, tuduhan yang dibantah Riyadh.
Yaman mengalami peningkatan ketegangan sejak akhir Juni antara Houtsi di satu pihak dan pasukan pemerintah serta koalisi pendukung pemerintah yang dipimpin Arab Saudi di pihak lain. Situasi tersebut ditandai dengan saling serang dan pertempuran di sejumlah front serta garis kontak.
Perkembangan terbaru ini sejalan dengan peringatan PBB bahwa Yaman menghadapi risiko konflik besar yang meningkat, dengan aktivitas militer dan permusuhan antara Houtsi dan pemerintah yang didukung Saudi kembali meningkat. (zarahamala/arrahmah.id)
