Memuat...

Mengenang Kebaikan Sheikh Hamad dan Penerusnya, Sheikh Tamim bin Hamad Al-Tsani

Oleh Ibnu SalmanJurnalis
Selasa, 14 Juli 2026 / 29 Muharam 1448 21:05
Mengenang Kebaikan Sheikh Hamad dan Penerusnya, Sheikh Tamim bin Hamad Al-Tsani
Mengenang Kebaikan Sheikh Hamad dan Penerusnya, Sheikh Tamim bin Hamad Al-Tsani

Pada Ahad (12/7/2026) pagi, otoritas Qatar mengumumkan wafatnya mantan Emir Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa Al-Tsani Rahimahullah, pada usia 75 tahun.

Sheikh Hamad bin Khalifa Al-Tsani merupakan Emir Qatar kelima dan salah satu pemimpin paling berpengaruh dalam sejarah modern negara tersebut. Di bawah kepemimpinannya, Qatar mengalami transformasi besar, dari sebuah negara kecil di kawasan Teluk dengan pengaruh terbatas menjadi salah satu pemain penting di tingkat regional maupun internasional.

Naiknya Sheikh Hamad ke tampuk kekuasaan pada 1995 menjadi titik balik strategis dalam sejarah Qatar. Selama lebih dari 18 tahun pemerintahannya, Qatar berkembang menjadi kekuatan utama dalam sektor energi, diplomasi, media, pendidikan, dan olahraga. Ia juga dikenal melalui kebijakan luar negeri yang aktif, termasuk perhatian terhadap isu-isu dunia Islam, seperti dukungan terhadap rakyat Gaza yang telah lama menghadapi penderitaan akibat penjajahan "Israel".

Sheikh Hamad meletakkan fondasi bagi kebijakan luar negeri Qatar yang berpengaruh, ekonomi yang kuat, serta pembangunan lembaga pendidikan dan media yang menjadikan Qatar memiliki posisi penting di panggung dunia.

Warga Qatar memadati Istana Lusail untuk menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani. (Al Jazeera)

Perjalanan Hidup Sheikh Hamad

Sheikh Hamad lahir di Doha pada tahun 1952. Saat muda, ia menempuh pendidikan militer di Akademi Militer Sandhurst, Inggris, dan lulus pada tahun 1971.

Setelah kembali ke Qatar, ia menjabat sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Qatar dengan pangkat Mayor Jenderal. Pada tahun 1977, ia diangkat sebagai Putra Mahkota.

Pada dekade 1980-an, Sheikh Hamad memimpin Dewan Perencanaan Tertinggi yang bertanggung jawab dalam merumuskan berbagai kebijakan ekonomi dan sosial Qatar. Sejak 1992, ia mulai mengambil peran lebih besar dalam administrasi pemerintahan, termasuk mengawasi pengembangan sumber daya minyak dan gas alam Qatar.

Pada 27 Juni 1995, Sheikh Hamad mengambil alih kepemimpinan Qatar dan memulai proyek pembangunan nasional yang ambisius dengan beberapa pilar utama:

  • Pengembangan sektor energi, terutama gas alam, yang menjadikan Qatar sebagai salah satu eksportir gas alam cair (LNG) terbesar di dunia.
  • Kebebasan dan perkembangan media, termasuk pendirian jaringan televisi internasional Al-Jazeera pada tahun 1996.
  • Pendidikan dan penelitian ilmiah, melalui pembangunan Kota Pendidikan (Education City) dan kerja sama dengan berbagai universitas ternama dunia.
  • Diplomasi aktif, yang menjadikan Qatar sebagai mediator dalam berbagai konflik regional dan internasional, termasuk di Lebanon, Sudan, Afghanistan, dan Palestina.

Di dalam negeri, Sheikh Hamad juga melakukan sejumlah reformasi penting. Qatar menggelar pemilihan Dewan Kota Pusat pada tahun 1999, yang menjadi salah satu pemilihan pertama di kawasan Teluk dengan hak pilih universal. Ia juga meratifikasi Konstitusi Permanen Qatar pada tahun 2004 serta memperluas peran perempuan dalam pendidikan, pekerjaan, dan pelayanan publik.

Di bidang olahraga, dukungannya terhadap pembangunan olahraga nasional mencapai puncaknya ketika Qatar berhasil menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA 2022, ajang sepak bola terbesar dunia yang pertama kali digelar di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA).

Amir Qatar saat ini Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani menerima para pelayat di Istana Lusail yang datang menyampaikan belasungkawa atas wafatnya ayahnya Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani. (Al Jazeera)

Dukungan untuk Gaza dan Lebanon

Selama kepemimpinan Sheikh Hamad, Qatar memainkan peran penting dalam berbagai upaya kemanusiaan dan diplomasi, terutama setelah konflik besar di Lebanon dan Gaza.

Gaza mengalami blokade "Israel" sejak 2007 yang memberikan dampak besar terhadap kehidupan masyarakat. Kemudian pada akhir 2008 hingga awal 2009, Gaza menghadapi serangan besar "Israel" yang menimbulkan banyak korban jiwa dan kehancuran infrastruktur.

Sementara itu, Lebanon mengalami kehancuran akibat perang antara Hizbullah dan "Israel" pada tahun 2006.

Dalam menghadapi perang Gaza 2008-2009, Sheikh Hamad mengkritik sikap sebagian negara Arab yang dinilai tidak tegas dalam merespons tragedi kemanusiaan tersebut. Dalam sebuah pidato yang dikenang luas, ia menyampaikan kritik keras terhadap sikap diam dan menyerukan keberpihakan kepada rakyat Palestina.

Ia juga menggelar pertemuan para pemimpin Arab dan Muslim di Doha yang menyerukan penghentian agresi, gencatan senjata, serta memberikan komitmen bantuan untuk rekonstruksi Gaza.

Selain Turki, Qatar menjadi salah satu negara Arab yang membuka ruang bagi sejumlah tokoh, ulama, dan aktivis gerakan Islam yang mengalami tekanan politik di negara asal mereka.

Salah satu tokoh yang mendapat tempat di Qatar adalah ulama besar Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi Rahimahullah. Setelah meninggalkan Mesir pada tahun 1961, beliau berperan besar dalam perkembangan pendidikan Islam di Qatar. Ia mendirikan Fakultas Syariah di Universitas Qatar dan kemudian menjadi profesor bidang Syariah pada tahun 1975.

Di Qatar pula, Syaikh Al-Qaradhawi mendirikan Persatuan Ulama Muslim Internasional (International Union of Muslim Scholars/IUMS) pada tahun 2004. Organisasi tersebut berkembang menjadi salah satu wadah ulama dan cendekiawan Muslim dari berbagai negara.

Syaikh Al-Qaradhawi wafat di Doha pada 26 September 2022 dalam usia 96 tahun, meninggalkan duka mendalam bagi umat Islam di berbagai penjuru dunia.

Qatar dan Musim Semi Arab

Pada tahun 2011, ketika gelombang protes politik melanda Tunisia, Mesir, Libya, dan Suriah dalam peristiwa yang dikenal sebagai Musim Semi Arab, Sheikh Hamad mengambil sikap yang berbeda dibandingkan sebagian pemimpin Arab lainnya.

Qatar mendukung perubahan politik di sejumlah negara dan melalui Liga Arab ikut memberikan tekanan terhadap pemerintahan yang melakukan kekerasan terhadap rakyatnya.

Pada saat yang sama, jaringan media Al-Jazeera memberikan liputan luas terhadap berbagai peristiwa tersebut.

Qatar memiliki pendekatan yang berbeda dibandingkan sejumlah negara Arab lainnya. Di bawah kepemimpinan Sheikh Hamad dan penerusnya, Sheikh Tamim bin Hamad Al-Tsani, Qatar dikenal sebagai tempat yang menerima sejumlah tokoh, ulama, dan aktivis yang berpindah karena tekanan politik di negara asal mereka.

Dalam konflik Suriah yang berlangsung sejak 2011 hingga jatuhnya rezim Basyar Assad pada Desember 2024, Qatar bersama Turki menjadi salah satu negara yang memberikan dukungan kepada kelompok oposisi Suriah.

Setelah tumbangnya kekuasaan keluarga Assad yang telah berlangsung lebih dari lima dekade, Suriah memasuki era baru dengan kepemimpinan Presiden Ahmad Asy-Syaraa, yang sebelumnya dikenal sebagai Abu Muhammad Al-Jolani dalam perjuangan revolusi Suriah.

Peran Qatar dan Turki dalam perjalanan panjang konflik Suriah hingga masa transisi politik tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah kawasan.

Warisan untuk Dunia Islam

Dalam isu Palestina, peran Qatar juga dikenang oleh banyak warga Gaza. Pada Oktober 2012, Sheikh Hamad menjadi salah satu pemimpin Arab pertama yang mengunjungi Gaza, memantau distribusi bantuan kemanusiaan Qatar serta mendukung pembangunan fasilitas kesehatan dan pendidikan.

Sebelumnya pada tahun 2006, ia juga menjadi pemimpin Arab pertama yang mengunjungi Lebanon Selatan setelah perang, membantu proses rekonstruksi dan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak.

Salah satu keputusan terbesar Sheikh Hamad adalah ketika ia memilih turun takhta pada tahun 2013 dan menyerahkan kepemimpinan kepada putranya, Sheikh Tamim bin Hamad Al-Tsani.

Pergantian kepemimpinan tersebut berlangsung dengan lancar dan Sheikh Tamim berhasil menjaga stabilitas Qatar serta melanjutkan pembangunan negara di tengah berbagai tantangan regional dan internasional.

Semoga Allah mengampuni beliau, merahmati beliau, memberikan kesehatan dan memaafkan segala kekhilafannya.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa 'aafihii wa'fu 'anhu.

(*/arrahmah.id)

Editor: Samir Musa