Memuat...

Trump Ancam Bombardir Fasilitas Nuklir Rahasia Iran, Mengapa "Gunung Kapak" Jadi Target?

Samir Musa
Selasa, 14 Juli 2026 / 29 Muharam 1448 14:43
Trump Ancam Bombardir Fasilitas Nuklir Rahasia Iran, Mengapa "Gunung Kapak" Jadi Target?
Foto satelit memperlihatkan pintu masuk terowongan di "Gunung Kapak", yang merupakan bagian dari kompleks nuklir Natanz. (Reuters)

TEHERAN (Arrahmah.id) – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menghancurkan fasilitas nuklir bawah tanah Iran yang dikenal sebagai "Gunung Kapak" (Pickaxe Mountain), di tengah eskalasi konflik yang terus meningkat antara Washington dan Teheran.

Berbicara di Ruang Oval pada Senin (13/7/2026), Trump mengatakan bahwa serangan terhadap fasilitas tersebut bisa dilakukan dalam waktu dekat. Meski demikian, ia menegaskan peluang tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Iran masih terbuka.

"Kami akan menghabisi Pickaxe Mountain. Katakan kepada Iran agar bersiap," ujar Trump dalam wawancaranya dengan program The Hugh Hewitt Show, sebagaimana dilansir Al Jazeera.

Trump menambahkan bahwa Amerika Serikat terus memantau aktivitas di fasilitas tersebut dan mengklaim program nuklir Iran kini berada dalam kondisi yang buruk.

Ancaman itu kembali menyoroti "Gunung Kapak", sebuah fasilitas yang disebut-sebut sebagai salah satu kompleks nuklir paling terlindungi milik Iran.

Fasilitas tersebut berada di selatan Teheran, tidak jauh dari kompleks pengayaan uranium Natanz yang sebelumnya mengalami kerusakan akibat serangan. Kompleks itu dibangun jauh di dalam gunung, terlindung ratusan meter lapisan batu granit, sehingga diyakini mampu menahan serangan bom penghancur bunker paling canggih sekalipun.

Menurut laporan Al-Monitor, badan intelijen Amerika menduga Iran sedang membangun fasilitas pengayaan uranium rahasia di lokasi tersebut sebagai cadangan bagi program nuklirnya. Namun, Teheran membantah tuduhan itu dan menegaskan fasilitas tersebut hanya digunakan untuk merakit serta memproduksi mesin sentrifugal canggih.

Di tengah ancaman terhadap "Gunung Kapak", Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan dimulainya gelombang baru serangan terhadap Iran. Operasi tersebut menandai malam ketiga berturut-turut serangan militer Washington yang diklaim bertujuan melemahkan kemampuan militer Iran.

CENTCOM menyatakan telah menggunakan amunisi berpemandu presisi untuk menghantam sistem pertahanan pantai, lokasi rudal, pangkalan pesawat nirawak, serta fasilitas angkatan laut Iran. Operasi yang berlangsung sekitar lima jam itu disebut menyasar berbagai target militer di sejumlah wilayah Iran.

Seorang pejabat Amerika yang dikutip CNN mengatakan serangan difokuskan pada fasilitas yang menampung sistem pengawasan, drone, dan peluncur rudal. Sementara itu, Gedung Putih melalui ABC News menegaskan bahwa operasi militer dilakukan secara terbatas, terukur, dan dirancang untuk meminimalkan korban sipil.

Di pihak lain, media-media Iran melaporkan serangkaian ledakan di wilayah selatan negara itu. Kantor berita Fars menyebut ledakan terdengar di Pulau Kish, Pulau Qeshm, Pulau Abu Musa, Bandar Abbas, serta Kota Jam di Provinsi Bushehr.

Komando militer Amerika Serikat merilis rekaman ledakan di Pangkalan Bandar Abbas. (Associated Press)

Kantor Berita Resmi Iran (IRNA) melaporkan sedikitnya tiga ledakan mengguncang Bandar Abbas, sementara televisi pemerintah Iran mengabarkan dua ledakan terjadi di Pulau Kish.

Kantor berita Mehr juga mengutip seorang pejabat Provinsi Khuzestan yang menyatakan empat orang terluka akibat serangan Amerika di Kota Omidiyeh, Iran barat daya. Sementara itu, Nour News melaporkan tiga kapal di Pelabuhan Pulau Kish terbakar setelah serangan pada Senin malam.

Meski tekanan militer terus meningkat, Trump tetap menyatakan penyelesaian melalui jalur diplomasi masih memungkinkan. Menurutnya, Washington sebenarnya telah hampir mencapai kesepakatan dengan Teheran dua hari sebelumnya, namun Iran kemudian meminta agar perundingan dilanjutkan.

Dalam perkembangan lain, Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab mengumumkan bahwa dua kapal tanker nasional menjadi sasaran rudal jelajah Iran di jalur selatan Selat Hormuz, tepatnya di perairan teritorial Oman. Serangan itu menewaskan satu orang dan melukai delapan lainnya.

UEA mengecam insiden tersebut sebagai "agresi terang-terangan" yang dinilai melanggar hukum internasional.

Sementara itu, Garda Revolusi Iran mengumumkan telah menyerang sejumlah fasilitas di Pangkalan Al Jufair, Bahrain. Mereka juga menegaskan angkatan laut Iran akan terus mempertahankan hak-haknya di Selat Hormuz dan menyatakan dua kapal tanker mengalami kerusakan setelah mengabaikan peringatan dari pusat pengawasan keamanan pelayaran Iran.

Sebuah kapal berlayar di dekat Selat Hormuz. (AFP)

Konflik yang terus memanas ini memperlihatkan bahwa meski jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup, kedua negara masih mengandalkan tekanan militer sebagai alat utama dalam menghadapi satu sama lain.

(Samirmusa/arrahmah.id)