Memuat...

Militer 'Israel' Serang Prosesi Pemakaman Bocah 14 Tahun di Al-Mughayyir

Zarah Amala
Kamis, 23 April 2026 / 6 Zulkaidah 1447 11:00
Militer 'Israel' Serang Prosesi Pemakaman Bocah 14 Tahun di Al-Mughayyir
Jenazah Aws Hamdi al-Naasan dihambat saat tiba di rumah (Foto: tangkapan video)

RAMALLAH (Arrahmah.id) - Suasana duka di desa Al-Mughayyir, Ramallah, berubah menjadi arena konfrontasi pada Selasa lalu (21/4/2026). Militer 'Israel' secara paksa menghalangi iring-iringan jenazah seorang anak berusia 14 tahun, Aws Hamdi al-Naasan, saat hendak dibawa ke rumahnya untuk penghormatan terakhir. Tentara 'Israel' dilaporkan menyerang para pelayat yang memanggul peti jenazah dengan tembakan peluru tajam dan gas air mata.

Insiden ini bukanlah kejadian terisolasi, melainkan puncak dari rangkaian serangan terencana di desa tersebut. Penjaga keamanan desa menyebut bahwa serangan bermula dari kelompok pemukim ilegal yang menembaki warga dan siswa di sekolah menengah desa tersebut secara brutal.

Segera setelah serangan pemukim, tentara 'Israel' datang dan bukannya mengamankan situasi, mereka justru menembakkan gas air mata ke arah sekolah dan warga yang sedang berupaya mengevakuasi anak-anak mereka.

Keluarga Al-Naasan kini menanggung beban trauma yang tak terbayangkan. Aws al-Naasan menyusul jejak ayahnya, Hamdi al-Naasan, yang gugur akibat peluru pemukim dalam serangan di desa yang sama pada tahun 2019. Kini, hanya tersisa anggota keluarga lain, Karim, yang harus tumbuh tanpa ayah dan kakaknya.

Tragedi ini juga menelan korban lain, Jihad Abu Naeem (32), yang gugur di tangan pemukim ilegal sebulan sebelum ia sempat bertemu dengan putri pertamanya yang telah ia nantikan selama 14 tahun. Ayah Jihad, Marzouq Abu Naeem, menceritakan kepiluan saat ia harus mengosongkan kamar yang sudah dipersiapkan khusus untuk cucunya karena anaknya lebih dulu gugur.

Eskalasi di Tepi Barat

Serangan di sekolah menengah Al-Mughayyir, satu-satunya sekolah yang menampung siswa dari kelas satu SD hingga tingkat SMA di wilayah tersebut, menjadi bukti nyata target yang disasar oleh para pemukim dan militer.

Data resmi Palestina mencatat bahwa sejak Oktober 2023, lebih dari 1.152 warga Palestina gugur di Tepi Barat akibat peningkatan drastis serangan militer dan kekerasan pemukim yang sistematis. Aksi penghalangan prosesi pemakaman ini menambah daftar panjang pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di wilayah pendudukan, di mana akses terhadap ritual duka yang paling mendasar pun kini menjadi sasaran penindasan. (zarahamala/arrahmah.id)