Memuat...

Negosiasi Iran Kacau Total, Bocoran Dalam Gedung Putih Bongkar Kepanikan Trump

Samir Musa
Rabu, 22 April 2026 / 5 Zulkaidah 1447 21:54
Negosiasi Iran Kacau Total, Bocoran Dalam Gedung Putih Bongkar Kepanikan Trump
Analisis tersebut menegaskan adanya perpecahan di dalam lingkaran kepemimpinan Amerika Serikat antara pihak yang menentang dan mendukung perang, seperti Pete Hegseth (Reuters).

WASHINGTON – Sebuah laporan analisis yang diterbitkan media Inggris The Telegraph mengungkap gambaran kacau dan penuh ketidakpastian dalam proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang dipimpin Presiden Donald Trump.

Laporan tersebut menggambarkan bahwa pemerintahan AS saat ini terjebak dalam kontradiksi internal tanpa arah strategi yang jelas, bahkan cenderung dikendalikan oleh keputusan impulsif sang presiden.

Menurut Connor Stringer, koresponden utama di Washington D.C, kebijakan Amerika telah berubah drastis. Dari yang semula merupakan rencana militer “terukur” untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir, kini berubah menjadi kekacauan yang dipengaruhi oleh suasana hati Trump.

Seorang sumber yang mengetahui situasi tersebut mengatakan kepada Telegraph, “Tidak ada seorang pun di dalam pemerintahan yang benar-benar memahami apa yang sedang terjadi, apa rencananya, atau tujuan akhirnya. Ini adalah kekacauan total tanpa akuntabilitas.”

Hilangnya Arah Strategis

Laporan itu menyoroti bahwa Trump kini semakin menjauh dari mekanisme kelembagaan tradisional yang biasanya menjadi dasar pengambilan keputusan perang di Washington. Sebagai gantinya, ia lebih mengandalkan unggahan di media sosial sebagai sarana menentukan arah kebijakan.

Alih-alih menerima laporan menyeluruh, Trump disebut hanya disuguhi video harian yang menampilkan keberhasilan militer AS tanpa menyentuh kegagalan maupun kompleksitas di lapangan.

Hal ini memperkuat dugaan bahwa presiden lebih memilih mengikuti intuisi pribadi serta nasihat lingkaran kecil loyalis yang cenderung “memoles” realitas perang.

Kepala Staf Gedung Putih, Susie Wiles, bahkan dikabarkan mengkhawatirkan informasi yang sampai kepada Trump terlalu bias dan menampilkan gambaran yang terlalu optimistis, sehingga membuatnya percaya bahwa situasi berjalan sesuai rencana, meski konflik telah berlangsung lebih dari 50 hari tanpa hasil.

Sementara itu, mantan Penasihat Keamanan Nasional, John Bolton, menyatakan bahwa Trump kini bertindak sepenuhnya atas kehendaknya sendiri, berbeda dengan masa jabatan sebelumnya ketika keputusan masih melalui proses diskusi terstruktur.

Lingkaran Kekuasaan yang Terpecah

Laporan tersebut juga mengungkap dinamika internal di sekitar Trump yang dinilai semakin terfragmentasi.

Menteri Pertahanan, Pete Hegseth, disebut sebagai salah satu tokoh paling vokal dalam mendorong kelanjutan konflik. Ia bahkan memberikan nuansa “religius” dalam retorika perang, menjauh dari pendekatan pragmatis militer.

Trump sendiri dikutip menyatakan bahwa Hegseth “tidak ingin perang ini berakhir”.

Di sisi lain, suara-suara yang menentang perang tampak terpinggirkan. Wakil Presiden J.D Vance yang dikenal memiliki kecenderungan isolasionis justru ditugaskan memimpin negosiasi, sehingga perannya sebagai pengkritik perang menjadi teredam.

Sementara itu, Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard, yang dikenal sebagai penentang keras intervensi militer luar negeri, memilih diam untuk menghindari risiko pemecatan.

Situasi ini mencerminkan adanya ketegangan serius di dalam lingkaran kekuasaan AS, di mana perbedaan pandangan tidak lagi dikelola secara terbuka.

Mencari Jalan Keluar di Tengah Kebuntuan

Seiring berlanjutnya kebuntuan, laporan tersebut menyebutkan bahwa Gedung Putih kini diliputi kekhawatiran. Para pejabat menyadari bahwa negara-negara Eropa kemungkinan tidak akan turun tangan untuk menyelamatkan situasi.

Dalam kondisi tersebut, Trump dikabarkan mulai menyampaikan kepada orang-orang terdekatnya bahwa ia tidak lagi ingin menangani masalah ini dan tengah mencari jalan keluar cepat.

Ia bahkan telah mengumumkan perpanjangan gencatan senjata, yang menurutnya merupakan hasil mediasi intensif dari Pakistan. Namun hingga kini, proses negosiasi masih menemui jalan buntu.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah pemerintahan yang dinilai tidak terorganisir mampu mencapai solusi nyata dalam krisis yang terus berkembang ini?

(Samirmusa/arrahmah.id)