QUNEITRA (Arrahmah.id) - Eskalasi di wilayah selatan Suriah kembali memanas setelah militer 'Israel' dilaporkan memasukkan peralatan lapangan ke Provinsi Quneitra pada Jumat (17/4/2026). Langkah ini terjadi di tengah pernyataan diplomatik Presiden Suriah, Ahmad Asy Syaraa, yang menyatakan keseriusan Damaskus untuk mencapai kesepakatan keamanan dengan Tel Aviv.
Saluran televisi resmi Suriah, Al-Ikhbariya, melaporkan bahwa pasukan 'Israel' yang merangsek masuk ke wilayah Suriah membawa satu unit buldoser dan tiga truk bermuatan bangunan prefabrikasi (bedeng) ke area Tal Al-Ahmar Al-Sharqi, di pedesaan selatan Quneitra.
Masuknya peralatan militer ini dianggap sebagai pelanggaran baru yang kontradiktif dengan pesan damai yang disampaikan Presiden Ahmad Asy Syaraa dalam wawancara dengan Anadolu Agency.
Asy Syaraa menegaskan keseriusannya dalam mencari kesepakatan keamanan yang dapat menjamin stabilitas kawasan. Asy Syaraa membantah bahwa negosiasi dengan 'Israel' telah menemui jalan buntu, meski ia mengakui prosesnya berjalan sangat sulit karena desakan 'Israel' untuk tetap menempatkan pasukannya di tanah Suriah.
Fokus utama perundingan saat ini adalah penarikan pasukan pendudukan Israel dari Dataran Tinggi Golan yang diduduki kembali ke garis batas tahun 1974.
Dalam forum diplomasi di Antalya, Turki, Presiden Syaraa kembali menegaskan bahwa pengakuan negara mana pun atas klaim 'Israel' terhadap Golan adalah tidak sah. Ia menyatakan bahwa Golan merupakan hak murni rakyat Suriah yang tidak dapat diganggu gugat.
Situasi di Lapangan
Meskipun ada upaya diplomatik di tingkat atas, situasi di lapangan menunjukkan tren yang berbeda. Pelanggaran oleh pihak 'Israel' di Suriah selatan dilaporkan terjadi hampir setiap hari dalam beberapa bulan terakhir.
'Israel' melakukan penggeledahan rumah warga dan pemasangan barikade jalan, penahanan warga sipil, termasuk anak-anak dan penggembala ternak di wilayah perbatasan serta penempatan gubuk-gubuk prefabrikasi di Tal Al-Ahmar menunjukkan adanya potensi penguatan posisi militer di wilayah tersebut.
Hingga saat ini, motif di balik pengiriman logistik terbaru oleh 'Israel' belum diklarifikasi secara resmi oleh pihak Tel Aviv, sementara Damaskus terus berupaya menyeimbangkan antara tekanan militer di perbatasan dan jalur meja perundingan. (zarahamala/arrahmah.id)
