WASHINGTON (Arrahmah.id) — Amerika Serikat dikabarkan tengah bersiap menjalankan salah satu operasi militer paling rumit dalam sejarah modernnya: merebut uranium Iran yang telah diperkaya dari lokasi-lokasi yang dijaga ketat.
Misi ini dinilai nyaris mustahil, mengingat kompleksitas medan, kekuatan pertahanan Iran, serta risiko eskalasi konflik yang sangat tinggi.
Dalam laporan yang ditulis oleh analis militer Michael Evans di harian The Times Inggris, disebutkan bahwa keberhasilan operasi ini tidak hanya bergantung pada kekuatan militer, tetapi juga pada kecermatan intelijen, koordinasi internasional, dan kemampuan menghadapi situasi yang sangat berbahaya.
Ujian Berat Pasukan Elite
Jika disetujui oleh Presiden AS Donald Trump, operasi ini akan menjadi ujian nyata bagi kemampuan pasukan khusus Amerika, khususnya unit elite Delta Force, dalam menjalankan misi berisiko tinggi dalam waktu singkat.
Menurut laporan tersebut, sekitar 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen diyakini tersimpan di fasilitas nuklir Natanz. Sebagian dari jumlah itu—sekitar 200 kilogram—disebut berada di bunker bawah tanah, sementara sisanya kemungkinan berada di fasilitas Fordo, dekat Teheran.
Operasi ini bukan sekadar menemukan uranium, tetapi juga menuntut pasukan untuk menyusup tanpa terdeteksi, menghadapi kemungkinan pertempuran, serta mengevakuasi material nuklir dengan aman.
Kekuatan Besar di Kedua Sisi
Sebelum pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan “Israel” pada Juni 2025, pejabat AS mengklaim Iran memiliki cukup uranium untuk memproduksi hingga 11 bom nuklir.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, Washington disebut telah menyiapkan berbagai unit tambahan, termasuk pasukan komando elit lainnya yang memiliki kemampuan menangani material nuklir.
Namun, di sisi lain, Garda Revolusi Iran menjadi penghalang utama. Dengan kekuatan lebih dari 150 ribu personel, mereka bertanggung jawab penuh atas perlindungan fasilitas nuklir Iran.
“Ini bukan operasi yang mudah,” ujar seorang mantan tentara pasukan khusus Inggris. Ia menilai bahwa mengamankan lokasi uranium di tengah kehadiran pasukan Iran yang terlatih akan menjadi tantangan luar biasa.
Dukungan Teknologi dan Ancaman Global
Amerika Serikat juga disebut mengerahkan berbagai aset udara, termasuk pesawat pengintai, jet tempur, helikopter, hingga drone untuk mendukung operasi tersebut.
Selain itu, teknologi kecerdasan buatan seperti sistem militer “Maven” digunakan untuk mempercepat analisis data dan penentuan target secara presisi.
Meski demikian, faktor eksternal turut memperumit situasi. China dan Rusia disebut berpotensi membantu Iran, terutama melalui dukungan intelijen berbasis satelit.
Mantan tentara Inggris itu pun meragukan keberanian AS untuk melancarkan operasi darat sebesar ini. “Dengan semua risiko yang ada, sulit membayangkan mereka akan mengambil langkah sejauh itu,” katanya.
Dengan segala kompleksitasnya, operasi ini—jika benar dilaksanakan—berpotensi menjadi salah satu misi paling berbahaya dan menentukan dalam dinamika konflik global saat ini.
(Samirmusa/arrahmah.id)
