WASHINGTON (Arrahmah.id) --Pernyataan lama Senator Amerika Serikat (AS) Chuck Schumer kembali mencuat di tengah konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Dalam pidatonya pada konferensi AIPAC tahun 2018, Schumer mengemukakan pandangannya mengenai akar sulitnya perdamaian antara 'Israel' dan Palestina.
Dalam pidato tersebut, seperti dilansir 927mag (7/3/20218), Schumer menyebut bahwa perbedaan keyakinan mendasar menjadi salah satu faktor utama kebuntuan konflik. Ia menyinggung bahwa sebagian masyarakat Palestina tidak menerima narasi historis dan religius yang menjadi dasar klaim 'Israel' atas wilayah tersebut.
“Mereka tidak percaya pada Taurat, jadi tidak menganggap itu tanah kami, dan itu sebabnya tidak ada perdamaian,” ungkap Schumer, dikutip dari 927mag.
Pernyataan itu disampaikan pada 5 Maret 2018 di Washington dalam forum kebijakan yang dihadiri para pejabat dan pemangku kepentingan terkait isu Israel-Palestina. Saat itu, Schumer juga menegaskan dukungannya terhadap 'Israel' serta menilai bahwa penolakan terhadap konsep negara Yahudi menjadi hambatan utama solusi dua negara.
Menurut laporan media 927mag, pernyataan tersebut menuai kritik karena dianggap menyederhanakan konflik yang kompleks dan mengabaikan faktor politik, sejarah, serta kemanusiaan yang lebih luas.
Sejumlah analis menilai konflik Timur Tengah tidak dapat dijelaskan hanya dari satu perspektif, melainkan melibatkan berbagai faktor seperti perebutan wilayah, identitas nasional, dinamika kekuasaan, serta intervensi internasional.
Pernyataan Schumer kini kembali diperbincangkan seiring meningkatnya eskalasi konflik di kawasan pada 2026, yang melibatkan berbagai aktor regional dan global. Banyak pihak menilai bahwa pernyataan tersebut mencerminkan salah satu sudut pandang politik di Amerika Serikat, namun bukan representasi menyeluruh atas akar konflik.
Hingga kini, upaya perdamaian di Timur Tengah masih menghadapi tantangan besar, dengan berbagai inisiatif diplomatik belum mampu menghasilkan solusi permanen yang diterima semua pihak. (hanoum/arrahmah.id)
