SELAT HORMUZ (Arrahmah.id) - Kelompok taktik laut Iran yang dikenal sebagai “kawanan nyamuk” kembali menjadi sorotan. Strategi ini dinilai mampu mengacaukan dominasi kapal perang modern milik Amerika Serikat, terutama di perairan sempit seperti Selat Hormuz.
Amerika Serikat dikenal memiliki armada laut canggih dengan kapal perusak berteknologi tinggi. Kapal-kapal seperti USS Frank E. Petersen Jr. dan USS Michael Murphy memiliki panjang lebih dari 155 meter, dilengkapi sekitar 96 rudal berpemandu, serta kemampuan menghadapi ancaman udara, laut, hingga serangan darat. Dengan biaya lebih dari 2 miliar dolar per unit, kapal-kapal ini menjadi simbol superioritas militer laut Washington.
USS Frank E. Petersen
Namun, di tengah keunggulan tersebut, Iran justru memilih jalur berbeda. Dalam doktrin perang tidak seimbang, Teheran mengandalkan taktik serangan cepat menggunakan puluhan hingga ratusan kapal kecil bersenjata ringan hingga menengah, yang dikenal sebagai “kawanan nyamuk”, dilansir dari Aljazeera.
Taktik ini tidak bertujuan menghancurkan kapal perang secara langsung, melainkan menciptakan kekacauan, memecah fokus pertahanan, dan menguras sistem pertahanan musuh.
Basis Tersembunyi dan Serangan Mendadak
Di kawasan strategis Selat Hormuz, Iran memanfaatkan kondisi geografis yang sempit dan kompleks. Dari pangkalan tersembunyi—termasuk gua-gua yang dibentengi di pesisir maupun pulau-pulau—kapal-kapal cepat diluncurkan secara tiba-tiba.
Haidar 110
Jenis kapal yang digunakan beragam, seperti Zolfaghar, Seraj, Ashura, Thufan, dan Haidar 110. Kapal-kapal ini tersebar di lebih dari 10 pangkalan di sepanjang pantai Iran, termasuk di Pulau Farur yang disebut memiliki nilai strategis tinggi.
Pendekatan ini mencerminkan strategi Iran dalam menyiasati kesenjangan teknologi dengan Amerika. Alih-alih berlomba membangun kapal besar, Iran memilih memperbanyak unit kecil dengan mobilitas tinggi untuk “membanjiri” sistem pertahanan lawan.
Persenjataan Berlapis dan Multi-Peran
- Senapan mesin berat dengan jangkauan di bawah 2 km
- Peluncur roket hingga jarak 8 km
- Rudal anti-kapal dengan jangkauan mencapai 100 km
- Torpedo ringan sekitar 10 km
- Drone serang dengan jangkauan hingga 50 km
- Kemampuan menebar ranjau laut dan penggunaan kapal nirawak (drone laut)
Kombinasi ini memungkinkan serangan dilakukan secara berlapis dan simultan dari berbagai arah.
Mengacaukan, Bukan Menghancurkan
Strategi ini berfokus pada gangguan, bukan penghancuran total. Kapal perusak modern memang mampu menghadapi banyak target sekaligus, tetapi tidak dirancang untuk melindungi seluruh jalur pelayaran dalam waktu bersamaan—terutama di jalur sempit seperti Selat Hormuz.
Operasi “kawanan nyamuk” biasanya berlangsung dalam radius sempit, sekitar enam mil laut—zona yang disebut Iran sebagai wilayah berbahaya. Dalam kondisi seperti ini, tidak diperlukan perang besar untuk melumpuhkan aktivitas pelayaran.
Cukup dengan satu serangan yang berhasil atau bahkan ancaman yang kredibel, maka efeknya bisa meluas: kepanikan, gangguan distribusi energi, hingga lonjakan harga global.
(Samirmusa/arrahmah.id)
