Memuat...

MUI Ingatkan Pemerintah: Pelayanan Haji Harus Utamakan Substansi Syariah, Bukan Sekadar Teknis

Ameera
Kamis, 23 April 2026 / 6 Zulkaidah 1447 21:27
MUI Ingatkan Pemerintah: Pelayanan Haji Harus Utamakan Substansi Syariah, Bukan Sekadar Teknis
MUI Ingatkan Pemerintah: Pelayanan Haji Harus Utamakan Substansi Syariah, Bukan Sekadar Teknis

JAKARTA (Arrahmah.id) - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengingatkan pemerintah agar memastikan penyelenggaraan ibadah haji tidak hanya optimal dari sisi teknis, tetapi juga tetap menjaga substansi syariah sebagai inti utama ibadah.

Penegasan tersebut disampaikan Ketua MUI Bidang Fatwa, Asrorun Ni'am Sholeh, di tengah dimulainya kedatangan jemaah haji Indonesia ke Tanah Suci.

Kloter pertama jemaah haji Indonesia telah tiba di Bandara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdulaziz, Selasa (22/4/2026) pukul 06.50 Waktu Arab Saudi, menandai dimulainya rangkaian panjang ibadah haji tahun ini.

Dalam keterangannya di Kantor MUI, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (23/4/2026), Prof. Ni’am menegaskan bahwa pelayanan haji harus mencakup berbagai aspek penting, mulai dari keamanan, transportasi, akomodasi, hingga pemantauan kesehatan jemaah.

Namun, ia mengingatkan agar fokus pada aspek teknis tidak menggeser prioritas utama, yakni terpenuhinya syarat dan rukun haji.

“Jangan sampai konsentrasi habis untuk kepentingan pemenuhan transportasi dan akomodasi, sementara aspek syariahnya diabaikan atau diminimalkan,” ujarnya.

Menurutnya, layanan syariah harus menjadi penopang utama dalam penyelenggaraan ibadah haji. Sarana dan prasarana, lanjutnya, hanya berfungsi sebagai wasilah untuk mencapai tujuan utama, yaitu terlaksananya ibadah sesuai ketentuan agama.

Pengasuh Pondok Pesantren An-Nahdlah, Depok, Jawa Barat itu menegaskan, tanpa dukungan sarana yang memadai, pelaksanaan syarat dan rukun haji berpotensi tidak berjalan optimal, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kualitas ibadah jemaah.

Selama berada di Madinah, Prof. Ni’am juga mengimbau jemaah untuk memaksimalkan waktu dengan memperbanyak ibadah dan refleksi spiritual, termasuk meneladani kehidupan Nabi Muhammad dan para sahabat.

Ia mendorong jemaah untuk memperkaya wawasan sejarah Islam dengan mengunjungi sejumlah lokasi bersejarah, seperti Masjid Quba, Masjid Qiblatain, Jabal Uhud, serta Makam Baqi, termasuk berziarah ke makam Rasulullah SAW.

Selain itu, jemaah dianjurkan memperbanyak doa di tempat-tempat mustajab, khususnya di Raudhah, serta mendoakan Indonesia agar menjadi bangsa yang aman, damai, dan sejahtera, serta dipimpin oleh pemimpin yang adil dan amanah.

Di sisi lain, Prof. Ni’am juga mengingatkan pentingnya menjaga kondisi fisik selama menjalankan ibadah haji.

Ia meminta jemaah tidak memaksakan diri menjalankan amalan sunnah secara berlebihan, terutama di tengah kondisi cuaca yang berbeda dengan di tanah air.

Jemaah juga diminta untuk mematuhi seluruh aturan, baik yang ditetapkan pemerintah Indonesia melalui petugas haji maupun regulasi pemerintah Arab Saudi.

Sebagai Guru Besar Ilmu Fikih UIN Jakarta, ia menegaskan bahwa ibadah haji merupakan ibadah mahdhah yang menuntut kepatuhan penuh terhadap syarat dan rukun.

Oleh karena itu, jemaah didorong untuk memperdalam pemahaman fikih haji melalui buku manasik serta konsultasi dengan pembimbing ibadah.

Dengan kesiapan layanan yang menyeluruh, baik dari sisi teknis maupun syariah, MUI berharap jemaah haji Indonesia dapat menjalankan ibadah secara optimal dan meraih predikat haji mabrur.

(ameera/arrahmah.id)