Memuat...

Sound Horeg Menjamur di Malang Raya, Pakar THT Ingatkan Risiko Tuli Permanen

Ameera
Selasa, 1 September 2026 / 20 Rabiulawal 1448 21:47
Sound Horeg Menjamur di Malang Raya, Pakar THT Ingatkan Risiko Tuli Permanen
Sound Horeg Menjamur di Malang Raya, Pakar THT Ingatkan Risiko Tuli Permanen

MALANG (Arrahmah.id) — Tren hiburan sound horeg dengan dentuman pengeras suara berkekuatan tinggi semakin menjamur di berbagai daerah, khususnya di kawasan Malang Raya.

Bagi sebagian masyarakat, getaran suara yang menggelegar hingga terasa di dada dianggap sebagai sensasi hiburan yang meriah dan memuaskan.

Namun, di balik kemeriahan tersebut, tersimpan ancaman serius terhadap kesehatan indera pendengaran.

Pakar Telinga, Hidung, dan Tenggorok (THT) sekaligus dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dr. Indra Setiawan, Sp.THT, mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan risiko paparan suara berintensitas ekstrem.

Menurut Indra, paparan kebisingan dengan tingkat desibel sangat tinggi dapat memicu gangguan pendengaran, mulai dari penurunan fungsi pendengaran sebagian hingga tuli permanen.

Secara medis, batas aman paparan kebisingan berada di sekitar 85 desibel selama maksimal delapan jam per hari. Sementara itu, tingkat kebisingan yang dihasilkan pengeras suara dalam pertunjukan sound horeg dapat mencapai kisaran 120-135 desibel, yang sudah masuk kategori sangat berbahaya bagi pendengaran.

Indra menjelaskan, semakin tinggi intensitas suara, semakin singkat pula waktu aman seseorang untuk terpapar. Setiap kenaikan sekitar tiga desibel menyebabkan durasi paparan yang diperbolehkan berkurang menjadi separuh.

"Kerusakan paling rentan terjadi pada bagian telinga dalam atau koklea, tepatnya pada sel-sel rambut koklea yang berfungsi mengubah energi suara menjadi impuls listrik ke otak. Jika sel ini rusak parah, sifatnya permanen dan tidak bisa diperbaiki," terang Indra kepada awak media, Senin (31/8/2026).

Paparan suara ekstrem tidak hanya mengancam telinga dalam. Menurut Indra, tekanan suara yang terlalu kuat juga dapat menyebabkan trauma pada organ telinga tengah.

Tekanan udara akibat dentuman suara yang sangat keras, terlebih jika didengarkan dari jarak dekat, berpotensi merusak struktur telinga yang berperan dalam proses penghantaran suara. Dalam kondisi tertentu, tekanan tersebut bahkan dapat menyebabkan gendang telinga mengalami robekan dan membutuhkan tindakan medis, termasuk operasi.

Telinga Berdenging Jadi Alarm Bahaya

Indra juga menyoroti fenomena masyarakat yang justru mendekatkan anak-anak, termasuk balita, ke sumber suara ketika pertunjukan sound horeg berlangsung.

Ia mengingatkan, kelompok usia tersebut merupakan salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih karena organ pendengaran mereka masih berkembang.

"Telinga yang berdenging setelah mendengar dentuman keras merupakan alarm bahaya pertama dari tubuh," jelasnya.

Menurut pengalaman klinis Indra, setelah berlangsungnya acara dengan tingkat kebisingan tinggi di kawasan Malang, jumlah pasien yang mengeluhkan penurunan fungsi pendengaran cenderung mengalami lonjakan.

Ironisnya, tidak sedikit orang yang mengalami gangguan pendengaran tetapi tidak menyadarinya. Gangguan tersebut kerap baru dirasakan ketika seseorang mulai kesulitan mendengar percakapan atau berinteraksi dengan orang lain.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kerusakan pendengaran akibat paparan suara berlebihan dapat berlangsung secara bertahap. Seseorang bisa saja merasa pendengarannya masih normal, meski sebenarnya telah terjadi kerusakan pada sel-sel rambut di koklea.

Menjauh dari Sumber Suara Jadi Langkah Utama

Di tengah maraknya hiburan sound horeg, penggunaan alat pelindung telinga menjadi salah satu upaya untuk mengurangi paparan kebisingan. Namun, Indra menilai penyumbat telinga berbahan busa yang sederhana belum tentu mampu memberikan perlindungan memadai terhadap suara ekstrem.

Penyumbat telinga jenis tersebut, menurutnya, hanya mampu memberikan pengurangan kebisingan dalam jumlah terbatas sehingga belum cukup jika seseorang berada sangat dekat dengan sumber suara berkekuatan tinggi.

Karena itu, langkah preventif paling logis adalah menghindari paparan secara langsung, terutama dengan menjaga jarak dari pengeras suara.

"Langkah paling aman adalah menjauhi lokasi acara, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak," tegasnya.

UMM Siap Bantu Pemetaan Zona Aman

Indra mengatakan, persoalan sound horeg tidak harus selalu dipandang sebagai pertentangan antara hiburan masyarakat dan kesehatan. Menurutnya, perlu ada pendekatan yang memungkinkan kegiatan seni dan hiburan tetap berlangsung dengan memperhatikan aspek keselamatan.

Untuk itu, UMM melalui Fakultas Kedokteran membuka peluang sinergi dengan pemerintah daerah dan berbagai institusi terkait. Salah satu bentuk dukungan yang dapat diberikan adalah pemanfaatan instrumen pengukur tingkat kebisingan untuk melakukan pemetaan.

"UMM memiliki alat pengukur suara yang sangat memadai, sehingga kami dari Fakultas Kedokteran sangat siap bersinergi dengan pemerintah daerah maupun institusi terkait guna memetakan jarak aman agar hiburan seni tetap bisa berjalan tanpa mengorbankan kesehatan masyarakat," tandasnya.

Dengan pemetaan tingkat kebisingan dan penentuan jarak aman, penyelenggaraan pertunjukan diharapkan dapat dilakukan secara lebih bertanggung jawab. Masyarakat tetap dapat menikmati hiburan, sementara risiko kerusakan pendengaran akibat paparan suara ekstrem dapat ditekan.

Fenomena sound horeg yang semakin populer pun diharapkan tidak hanya menjadi persoalan soal kemeriahan sebuah pertunjukan, tetapi juga menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan pendengaran.

(ameera/arrahmah.id)