ABUJA (Arrahmah.id) -- Militer Nigeria berhasil membebaskan 360 orang yang sebelumnya diculik kelompok Boko Haram dalam operasi keamanan di Negara Bagian Borno, wilayah timur laut Nigeria. Operasi yang digelar di kawasan Pegunungan Mandara itu menyelamatkan ratusan perempuan, anak-anak, dan laki-laki yang ditahan kelompok bersenjata tersebut, meski dua bayi dilaporkan meninggal dunia akibat kelelahan selama masa penyanderaan.
Keberhasilan tersebut diumumkan militer Nigeria pada Minggu (7/6). Operasi dilakukan setelah aparat memperoleh informasi intelijen mengenai lokasi para sandera yang ditahan di daerah pegunungan yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu basis pertahanan Boko Haram di Borno. Pasukan keamanan kemudian melancarkan serangan yang memicu bentrokan dengan kelompok bersenjata sebelum akhirnya berhasil membebaskan para tawanan.
Menurut keterangan militer, para korban yang diselamatkan terdiri atas pria, perempuan, dan anak-anak yang sebelumnya diculik dari berbagai komunitas di wilayah selatan Borno. Setelah dibebaskan, mereka dipindahkan ke lokasi yang aman untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan, bantuan kemanusiaan, serta pendampingan psikologis.
Juru bicara militer Nigeria menyatakan operasi tersebut merupakan bagian dari kampanye berkelanjutan untuk menghancurkan jaringan Boko Haram dan membebaskan warga sipil yang masih ditahan kelompok itu. Dalam pernyataannya, Mayor Jenderal Markus Kangye, Direktur Hubungan Media Operasi Militer Nigeria, mengatakan, "Pasukan kami berhasil menyelamatkan para korban dan memindahkan mereka ke tempat yang aman untuk menerima bantuan yang diperlukan."
Meski operasi dinilai berhasil, militer mengungkapkan bahwa dua bayi meninggal dunia akibat kelelahan dan kondisi berat yang dialami selama masa penahanan. Para petugas medis yang menangani para korban juga menemukan banyak sandera mengalami malnutrisi dan gangguan kesehatan akibat kondisi hidup yang buruk selama berada di bawah kendali Boko Haram.
Pembebasan ratusan sandera ini terjadi di tengah meningkatnya aktivitas kelompok bersenjata di Nigeria timur laut. Beberapa hari sebelumnya, militan menyerang pangkalan militer di kawasan Mandaragirau, Borno, dan menewaskan sedikitnya lima tentara Nigeria. Serangan tersebut menunjukkan bahwa Boko Haram dan kelompok pecahannya, Islamic State West Africa Province (ISWAP), masih memiliki kemampuan melakukan operasi bersenjata meskipun terus mendapat tekanan dari militer.
Borno merupakan wilayah yang paling terdampak oleh pemberontakan Boko Haram sejak kelompok itu melancarkan insurgensi pada 2009. Konflik yang telah berlangsung lebih dari 16 tahun itu menewaskan puluhan ribu orang dan memaksa jutaan warga meninggalkan rumah mereka. Penculikan massal juga menjadi salah satu taktik utama kelompok tersebut, termasuk penculikan siswi Chibok pada 2014 yang menarik perhatian dunia internasional.
Dalam beberapa pekan terakhir, ancaman penculikan masih menjadi persoalan serius di Nigeria. Laporan Reuters dan media internasional menunjukkan bahwa aksi penculikan oleh kelompok bersenjata kini tidak hanya terjadi di wilayah timur laut, tetapi juga mulai meluas ke bagian selatan negara tersebut, meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan Presiden Bola Tinubu untuk memperkuat keamanan nasional.(hanoum/arrahmah.id)
