Memuat...

Iran Peringatkan Negara Teluk agar Tak Bantu Operasi Militer AS

Zarah Amala
Kamis, 20 Agustus 2026 / 8 Rabiulawal 1448 11:54
Iran Peringatkan Negara Teluk agar Tak Bantu Operasi Militer AS
Para demonstran membawa plakat bergambar mendiang pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dan Akram al-Kaabi, Sekretaris Jenderal Kataib al-Nujaba, sebuah faksi bersenjata yang setia kepada Iran, di Baghdad pada 19 Agustus 2026. [Getty]

TEHERAN (Arrahmah.id) - Angkatan bersenjata Iran memperingatkan negara-negara Teluk agar tidak membantu operasi militer Amerika Serikat, beberapa jam setelah Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan penghentian hubungan ekonomi dengan Teheran menyusul serangkaian serangan terbaru terhadap kapal di kawasan.

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Ali Abdollahi mengatakan setiap bentuk bantuan atau fasilitasi kepada militer AS akan dianggap sebagai keterlibatan dalam operasi militer Washington.

“Setiap bantuan atau fasilitasi yang diberikan kepada militer AS sebagai agresor sama dengan ikut serta dalam operasi militer AS,” kata Abdollahi, dikutip kantor berita Mehr.

Peringatan tersebut disampaikan ketika sejumlah negara Teluk menjadi lokasi pangkalan militer AS, termasuk UEA. Abu Dhabi sebelumnya menuduh Iran meluncurkan dua rudal balistik ke arah kapal-kapal di lepas pantainya.

Abdollahi mengatakan Iran mengetahui aktivitas militer di pangkalan-pangkalan kawasan dan mempertanyakan kemungkinan sejumlah besar pesawat militer, khususnya pesawat pengisi bahan bakar, berada di pangkalan regional tanpa sepengetahuan negara tuan rumah.

UEA pada Selasa (18/8/2026) mengumumkan penghentian seluruh aktivitas ekonomi dengan Iran untuk sementara waktu.

“Sehubungan dengan eskalasi regional, seluruh perdagangan, pertukaran komersial, dan transaksi keuangan dengan Iran dihentikan hingga pemberitahuan lebih lanjut,” kata Direktur Komunikasi Kementerian Luar Negeri UEA Afra Al Hameli.

UEA sebelumnya menuduh Iran menembakkan dua rudal balistik ke arah wilayahnya, tetapi kemudian menjelaskan bahwa serangan tersebut menargetkan kapal-kapal di sekitar perairannya.

Kedua negara memiliki hubungan perdagangan yang erat. UEA selama bertahun-tahun menjadi salah satu mitra dagang penting Iran meski Teheran berada di bawah sanksi AS.

Sejumlah kapal tanker milik perusahaan minyak negara UEA, ADNOC, juga dilaporkan berulang kali menjadi sasaran dalam beberapa pekan terakhir.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio berbicara melalui telepon dengan penasihat keamanan nasional UEA untuk membahas koordinasi dalam menghadapi Iran serta pentingnya menjaga kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.

Upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik kembali menemui jalan buntu. Utusan AS sekaligus menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner, sebelumnya mengatakan Washington dan Teheran tengah melakukan “percakapan yang sangat positif dan aktif”.

Namun, Trump membantah pernyataan tersebut sehari kemudian.

“Tidak ada pembicaraan atau percakapan yang sedang berlangsung atau dijadwalkan dengan Republik Islam Iran,” tulis Trump di media sosial. Ia juga menegaskan blokade laut terhadap Iran tetap berlaku.

Trump sebelumnya mengunggah peta yang menggambarkan Selat Hormuz sebagai “wilayah baru AS”, menyusul ancaman sebelumnya untuk mengambil alih jalur strategis pengiriman minyak dan gas tersebut.

Operasi militer AS sebagian besar dilaporkan mengalami jeda, sementara media Amerika menyebut perang telah memberikan tekanan terhadap persediaan amunisi penting. Trump dan Pentagon membantah laporan tersebut.

Setelah berbulan-bulan operasi militer AS belum berhasil mengakhiri konflik secara menentukan, para pejabat Iran tetap menunjukkan sikap menantang terhadap tekanan Washington.

Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala perunding Mohammad Bagher Ghalibaf juga mengunjungi Irak. Ia mengatakan kunjungan tersebut bertujuan memperkuat tatanan baru di kawasan dan meningkatkan kerja sama tanpa campur tangan asing.

Ghalibaf juga menyebut kelompok-kelompok perlawanan di Irak sebagai salah satu unsur kekuatan negara tersebut. (zarahamala/arrahmah.id)