Memuat...

566 Siswa dan Santri Diduga Keracunan Usai Santap MBG di Sidoarjo, 88 Masih Dirawat

Ameera
Rabu, 2 September 2026 / 21 Rabiulawal 1448 17:51
566 Siswa dan Santri Diduga Keracunan Usai Santap MBG di Sidoarjo, 88 Masih Dirawat
566 Siswa dan Santri Diduga Keracunan Usai Santap MBG di Sidoarjo, 88 Masih Dirawat

 

SIDOARJO (Arrahmah.id) — Sebanyak 566 siswa dan santri tercatat mengalami dugaan keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sidoarjo Tanggulangin Kalitengah, Selasa (1/9/2026).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, mengatakan angka tersebut merupakan akumulasi korban yang telah dirujuk ke sejumlah fasilitas kesehatan sebelumnya serta pasien baru yang menjalani perawatan pada Rabu (2/9/2026).

“531 ditambah 35, kurang lebih 566 ya,” ujar Lakhsmie, di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, Rabu (2/9/2026).

Dari total tersebut, sebanyak 88 orang masih menjalani rawat inap di sejumlah rumah sakit. Sementara itu, 478 korban lainnya telah diperbolehkan pulang setelah kondisi kesehatan mereka dinilai membaik oleh tim medis.

Lakhsmie menjelaskan, korban berasal dari 19 sekolah maupun pesantren yang menerima distribusi makanan tersebut.

Mayoritas korban merupakan santri dan santriwati Pondok Pesantren Manbaul Hikam Tanggulangin.

Mengalami Mual hingga Diare

Sejumlah gejala yang dialami para korban antara lain mual, muntah, pusing, dan diare. Kendati demikian, Lakhsmie memastikan kondisi pasien yang masih dirawat secara umum stabil.

“Secara umum yang opname stabil, tidak ada yang perlu dikhawatirkan sampai ke perawatan khusus. Enggak ada, dirawat inap biasa,” katanya.

Menurut dia, sebagian besar pasien yang masih berada di rumah sakit menunjukkan perkembangan kondisi yang positif. Pasien yang telah diperbolehkan pulang tetap dianjurkan melakukan kontrol apabila keluhan masih dirasakan.

“Kalau misalnya memang dirasa perlu masih ada keluhan ya kontrol. Kalau tidak, dengan obat yang sudah diberikan cukup, ya cukup selesai,” ujarnya.

Dinkes Tetapkan Status Krisis Kesehatan

Menyusul munculnya kasus dalam jumlah besar, Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo langsung mengaktifkan status krisis kesehatan. Penanganan kemudian dibagi menjadi dua fokus, yakni penanganan di lapangan dan pelayanan bagi korban yang menjalani perawatan di rumah sakit.

Untuk penanganan di lapangan, Dinkes mengerahkan puskesmas sebagai koordinator lapangan. Sementara rumah sakit diminta menyiagakan tenaga kesehatan, obat-obatan, serta sarana pendukung untuk menangani pasien yang berdatangan.

Sejumlah fasilitas kesehatan di Sidoarjo yang menangani korban di antaranya RSUD R.T. Notopuro, RS Delta Surya, RSI Siti Hajar, RS Pusura, RS Aisyiyah, RS Bhayangkara, RS Arafah Anwar, dan RS Assakinah Medika.

Sampel Muntahan dan Makanan Diperiksa

Untuk mengetahui penyebab pasti kejadian tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo telah mengirimkan sampel muntahan korban dan sejumlah bahan makanan dari menu MBG ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLK) Surabaya.

Hingga Rabu (2/9/2026), hasil pemeriksaan laboratorium belum keluar. Lakhsmie memperkirakan hasil uji tersebut dapat diketahui dalam waktu sekitar satu pekan.

“Belum ada hasil. Muntahan dengan bahan makanan, tadi malam sudah di BBLK Surabaya,” ungkapnya.

Menurut Lakhsmie, hasil laboratorium nantinya akan menjadi salah satu dasar untuk menentukan langkah selanjutnya. Namun, investigasi tidak hanya akan berfokus pada hasil pengujian sampel.

Dinkes bersama Badan Gizi Nasional (BGN) juga akan melakukan penyelidikan secara menyeluruh terhadap proses penyediaan hingga makanan dikonsumsi oleh para siswa dan santri.

Hal yang akan diperiksa antara lain proses pengolahan makanan, penerapan standar operasional prosedur (SOP), kondisi dapur, hingga rentang waktu sejak makanan diterima sampai dikonsumsi.

“Dari makanan datang sampai dengan dikonsumsi itu ada batas waktunya, ini sudah betul atau tidak. Itu yang perlu kami investigasi dan tentunya bukan dari Dinkes saja,” jelas Lakhsmie.

Ia menambahkan, berdasarkan data sementara, kondisi dapur SPPG yang menjadi lokasi produksi makanan tersebut dinilai baik dan tidak ditemukan persoalan. Meski demikian, pemeriksaan tetap dilakukan untuk memastikan seluruh tahapan penyediaan MBG telah sesuai prosedur.

“Dari berbagai unsur termasuk dari BGN nanti diturunkan,” katanya.

Dengan jumlah korban yang mencapai ratusan orang, pemerintah daerah kini masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium sekaligus melakukan investigasi terhadap seluruh rantai penyediaan makanan untuk memastikan penyebab kejadian dan menentukan langkah penanganan berikutnya.

(ameera/arrahmah.id)