Memuat...

"Anak-anakku Takut Melihat Wajahku": Kisah Pilu Ibu Gaza yang Wajahnya Hancur akibat Serangan "Israel"

Samir Musa
Selasa, 30 Juni 2026 / 15 Muharam 1448 08:16
"Anak-anakku Takut Melihat Wajahku": Kisah Pilu Ibu Gaza yang Wajahnya Hancur akibat Serangan "Israel"
Warga Gaza, Najwa Abu Athiyah, menceritakan tragedi luka parah yang dialaminya akibat serangan "Israel". (Media sosial)

GAZA (Arrahmah.id) – Di tengah derita panjang yang dialami warga Gaza akibat agresi "Israel", kisah seorang ibu bernama Najwa Abu Athiyah menjadi potret pilu yang menggambarkan betapa perang tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga menghancurkan kehidupan dan kebahagiaan sebuah keluarga.

Dalam laporan Al Jazeera, Najwa menceritakan penderitaan berat yang bermula ketika serangan udara "Israel" menghantam wilayah tempat tinggalnya. Serangan itu menyebabkan luka yang sangat parah hingga mengubah seluruh bentuk wajahnya dan meninggalkan trauma fisik maupun psikologis yang mendalam.

Dengan suara penuh kepedihan, Najwa mengungkapkan bahwa anak-anaknya kini takut melihat wajahnya setelah mengalami cedera tersebut.

"Anak-anakku takut melihat wajahku."

Kalimat singkat itu menggambarkan bagaimana perang telah mengubah kehangatan keluarga menjadi suasana yang dipenuhi ketakutan dan trauma. Pelukan seorang ibu yang seharusnya menjadi tempat berlindung bagi anak-anaknya kini justru membuat mereka ketakutan akibat perubahan drastis pada wajah sang ibu.

Warga Gaza, Najwa Abu Athiyah, menceritakan penderitaan yang nyaris tak tertahankan setelah mengalami luka parah akibat serangan "Israel".

Akibat serangan tersebut, Najwa mengalami kerusakan parah pada tulang wajah, rahang, hidung, dan tulang pipi. Ia juga kehilangan salah satu matanya. Kondisinya memaksanya menjalani sejumlah operasi besar, namun hingga kini ia masih menderita cacat permanen serta mengalami kesulitan bergerak, berbicara, dan mengunyah makanan.

Para dokter yang menangani kondisinya menjelaskan bahwa keadaan Najwa masih berisiko memburuk karena keterbatasan fasilitas kesehatan di Jalur Gaza. Ia sangat membutuhkan perawatan lanjutan di luar Gaza, termasuk operasi rekonstruksi wajah dan tengkorak, pemasangan mata palsu, serta berbagai tindakan bedah untuk memulihkan fungsi wajahnya.

Penderitaan Najwa semakin berat setelah ia kehilangan salah seorang putrinya dalam perang. Kini ia harus menghadapi dua luka sekaligus: kehilangan buah hati tercinta dan cedera yang mengubah penampilannya untuk selamanya, di tengah kondisi kemanusiaan dan layanan kesehatan Gaza yang terus memburuk.

Seruan Mendesak Agar Najwa Diobati di Luar Gaza

Kisah Najwa memicu gelombang simpati luas di media sosial. Banyak aktivis dan pegiat hak asasi manusia menyerukan agar ia segera mendapatkan akses pengobatan dan diizinkan bepergian ke luar Gaza untuk menyelesaikan rangkaian pengobatan yang tidak dapat dilakukan di dalam wilayah yang terkepung itu.

Mereka juga menyoroti bahwa masih banyak pasien di Gaza yang tidak dapat keluar untuk berobat akibat pembatasan perjalanan. Kondisi tersebut memperburuk penderitaan para korban luka dan mengurangi peluang mereka untuk bertahan hidup.

"Tragedi Najwa adalah jeritan kepedihan di hadapan dunia yang kehilangan rasa belas kasih dan kemanusiaan. Inilah luka terdalam seorang ibu: ketika anak-anaknya takut berada dalam pelukannya," tulis sejumlah aktivis.

Najwa, ibu dari lima orang anak, juga mengaku tidak hanya harus menghadapi rasa sakit akibat luka-lukanya, tetapi juga menjadi sasaran ejekan dari sebagian orang karena perubahan pada wajahnya.

Para aktivis menegaskan bahwa kondisi Najwa hanyalah satu contoh dari penderitaan yang dialami banyak korban luka di Gaza. Banyak di antara mereka mengalami cedera kompleks yang tidak dapat ditangani oleh rumah sakit setempat karena minimnya fasilitas dan perlengkapan medis.

Mereka memperingatkan bahwa larangan bepergian untuk berobat ke luar Gaza telah merampas kesempatan banyak pasien untuk pulih, sementara jumlah korban dengan luka berat terus bertambah setiap hari.

"Jeritan Kepedihan" yang Melampaui Luka Fisik

Menurut para aktivis, kisah Najwa mencerminkan penderitaan yang melampaui rasa sakit fisik. Wajahnya yang berubah total akibat serangan Israel membuatnya harus menghadapi luka batin yang tak kalah berat.

Mereka menggambarkan bahwa inilah potret paling menyayat dari seorang ibu yang terluka: ketika pelukan yang seharusnya menghadirkan rasa aman justru berubah menjadi sumber ketakutan bagi anak-anaknya sendiri.

"Anak-anakku takut melihat wajahku…"

Najwa Abu Athiyah, ibu lima anak yang kehilangan putrinya, mata kanannya, dan sebagian besar wajahnya akibat serangan tersebut, kini mengalami kerusakan parah pada tulang wajah dan rahang sehingga kesulitan makan maupun berbicara. Ia membutuhkan perjalanan medis secepatnya ke luar negeri sebelum kondisinya semakin memburuk.

Para aktivis menyerukan agar dunia segera bertindak untuk menyelamatkan Najwa, seorang ibu yang kehilangan wajahnya, tetapi tidak pernah kehilangan haknya untuk memperoleh pengobatan dan kehidupan yang layak.

Mereka juga menegaskan bahwa tragedi Najwa merupakan gambaran kecil dari bencana kemanusiaan yang lebih luas di Gaza, tempat ribuan korban luka dan pasien terus berjuang bertahan hidup di tengah runtuhnya sistem kesehatan.

Tanpa intervensi segera, mereka memperingatkan bahwa krisis kesehatan dan kemanusiaan di Gaza akan semakin dalam. Mereka mendesak masyarakat internasional untuk mengambil langkah nyata guna menyediakan akses pengobatan bagi para korban luka dan memungkinkan mereka bepergian ke luar Gaza demi menyelamatkan nyawa serta memulihkan martabat kemanusiaan mereka.

Pembatasan Ketat Menghambat Pasien Gaza Berobat

Di sisi lain, Kementerian Kesehatan Gaza mengungkapkan bahwa sejumlah pasien yang dijadwalkan berangkat melalui Perlintasan Rafah untuk menjalani pengobatan di luar negeri terpaksa batal berangkat karena tidak memperoleh persetujuan keamanan dari otoritas pendudukan Israel.

Saat ini hanya segelintir pasien, korban luka, dan kasus-kasus kemanusiaan yang diizinkan melintasi Rafah setelah mendapatkan izin keamanan terlebih dahulu dari pihak Israel.

Dalam laporan sebelumnya, Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan bahwa Israel hanya mengizinkan 1.204 pasien keluar untuk berobat, dari total 17.757 pasien yang telah memperoleh rujukan medis ke luar negeri.

Menurut kementerian, kesenjangan yang sangat besar antara jumlah pasien yang membutuhkan perawatan dan mereka yang berhasil keluar merupakan "kesenjangan kemanusiaan yang sangat serius" yang memperparah penderitaan pasien serta meningkatkan angka kematian setiap hari.

Kementerian juga mendesak organisasi-organisasi internasional dan lembaga hak asasi manusia agar menekan Israel untuk membuka akses perlintasan sehingga pasien dapat memperoleh pengobatan yang mereka butuhkan.

"Setiap hari keterlambatan akan menambah jumlah korban dan mengancam nyawa lebih banyak pasien," tegas kementerian.

Sejak perang dimulai, puluhan ribu warga Palestina di Jalur Gaza telah gugur dan terluka, sementara sebagian besar infrastruktur sipil mengalami kehancuran akibat serangan yang terus berlangsung.

(Samirmusa/arrahmah.id)