DOHA (Arrahmah.id) – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa Iran telah mengajukan permintaan untuk mengadakan pertemuan di Qatar guna membahas perkembangan terbaru terkait ketegangan di kawasan Teluk. Menurut Trump, pertemuan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Selasa (30/6), meski ia tidak mengungkapkan rincian lebih lanjut, lansir Al Jazeera.
Sebelumnya, sejumlah media Amerika Serikat melaporkan bahwa Washington telah memutuskan menghentikan seluruh operasi militer terhadap Iran setelah terjadi eskalasi saling serang di sekitar Selat Hormuz.
Mengutip laporan Axios, seorang pejabat senior Amerika Serikat menyebutkan bahwa delegasi Washington dan Teheran akan bertemu di Doha untuk mencari penyelesaian atas perselisihan mengenai keamanan dan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.
Sumber yang sama juga mengatakan bahwa jalur komunikasi darurat (hotline) antara militer Amerika Serikat dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) hingga Sabtu lalu belum diaktifkan.
Sementara itu, Reuters mengutip sumber yang mengetahui jalannya perundingan bahwa tim teknis dari Iran dan Amerika Serikat dijadwalkan bertemu di Doha dalam beberapa hari mendatang guna membahas implementasi nota kesepahaman yang telah disepakati kedua pihak.
Sumber tersebut menambahkan bahwa para mediator telah membangun saluran komunikasi untuk meredakan ketegangan dan pembicaraan teknis akan terus berlanjut.
Sebelumnya, seorang pejabat tinggi Amerika Serikat mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pembicaraan teknis terkait pelaksanaan nota kesepahaman dengan Iran tidak dibatalkan dan masih dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat. Ia juga menegaskan bahwa mekanisme penyelesaian sengketa antara kedua negara tetap aktif setelah perundingan di Swiss pekan lalu.
Axios juga melaporkan bahwa selama proses pembicaraan teknis berlangsung, kapal-kapal tetap dapat melintas secara bebas di Selat Hormuz.
Iran Membantah
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran membantah laporan media Amerika yang menyebut akan ada pertemuan teknis antara kedua negara di Qatar.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, sebagaimana dikutip televisi pemerintah Iran, menegaskan bahwa tidak ada pertemuan kelompok kerja teknis yang dijadwalkan berlangsung pekan ini.
"Informasi mengenai adanya pertemuan tersebut tidak benar," tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa putaran pembicaraan teknis baru akan dilaksanakan setelah kondisi memungkinkan serta waktu dan lokasi pertemuan disepakati oleh kedua pihak.
Gharibabadi menambahkan bahwa konsultasi dengan Qatar akan terus dilakukan terkait implementasi komitmen pihak lain sebagaimana tercantum dalam nota kesepahaman.
Dalam perkembangan lain, media resmi Iran mengutip Presiden Masoud Pezeshkian yang menyatakan bahwa dana sebesar 6 miliar dolar AS dari total 12 miliar dolar AS aset Iran yang dibekukan di Qatar akan dicairkan dan dikembalikan kepada Teheran. Langkah tersebut disebut menyusul kesepakatan dengan Amerika Serikat yang membuka jalan bagi pencabutan sanksi terhadap sektor minyak dan petrokimia Iran.
Latar Belakang Eskalasi
Perkembangan diplomatik ini terjadi setelah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz.
Washington sebelumnya menuduh kapal dagang Keiko diserang saat melintasi jalur pelayaran strategis tersebut. Sebagai respons, Komando Pusat Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap 10 lokasi di Iran yang diklaim mencakup radar, peluncur rudal, pesawat nirawak, serta fasilitas penyiapan ranjau laut di Pulau Qeshm dan wilayah Sirik.
Iran kemudian membalas dengan menyerang sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat, termasuk Pangkalan Ali Al Salem di Kuwait dan markas Armada Kelima AS di Bahrain.
Teheran menilai serangan Amerika merupakan pelanggaran terhadap nota kesepahaman yang telah disepakati. Sebaliknya, Washington menyatakan operasi tersebut dilakukan untuk melindungi kebebasan pelayaran dan mencegah ancaman terhadap kapal-kapal dagang.
Meski serangan militer telah berhenti sejak Ahad dini hari, situasi dinilai masih sangat rapuh.
Koresponden Al Jazeera di Teheran, Omar Hawash, mengatakan kedua pihak masih "menempatkan tangan mereka di pelatuk", mengingat perselisihan mengenai pasal kelima nota kesepahaman terkait keamanan pelayaran di Selat Hormuz belum terselesaikan.
Iran juga tetap menolak upaya Amerika Serikat untuk membentuk jalur pelayaran alternatif yang lebih dekat ke wilayah Oman.
Kesepakatan sementara antara Washington dan Teheran yang terdiri atas 14 pasal itu sebelumnya dimaksudkan untuk menghentikan pertempuran yang dimulai Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu, sekaligus membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal hingga pembahasan mengenai isu-isu yang lebih kompleks, termasuk program nuklir Iran, dapat dilanjutkan.
(Samirmusa/arrahmah.id)
