Memuat...

Ancaman Perang Kembali di Gaza, Palestina Pertanyakan Sikap Mladenov

Zarah Amala
Sabtu, 29 Agustus 2026 / 17 Rabiulawal 1448 10:02
Ancaman Perang Kembali di Gaza, Palestina Pertanyakan Sikap Mladenov
Perwakilan tertinggi Dewan Perdamaian, Nikolay Mladenov (Foto: tangkapan video)

GAZA (Arrahmah.id) - Pernyataan perwakilan tertinggi Dewan Perdamaian (Board of Peace), Nikolay Mladenov, mengenai kemungkinan kembalinya perang di Gaza menuai kecaman dari sejumlah analis Palestina. Mereka menilai pernyataan tersebut secara tidak langsung mengancam Palestina dengan kembalinya perang jika mereka tidak memenuhi tuntutan 'Israel'.

Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Mladenov mengatakan kegagalan menjalankan peta jalan yang disusun Dewan Perdamaian dapat membuka kemungkinan perang kembali terjadi di Gaza. Ia juga menyebut Qatar, Mesir, dan Turki berperan penting dalam mendorong kesepakatan dengan Hamas.

Mladenov mengatakan telah ada komitmen dana sekitar 7 miliar dolar untuk rekonstruksi Gaza dan mekanisme pengerahan pasukan stabilisasi internasional telah disiapkan.

Pernyataan itu muncul setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan 'Israel' Yisrael Katz menegaskan bahwa tidak akan ada rekonstruksi Gaza sebelum Hamas dilucuti sepenuhnya.

Analis urusan 'Israel', Muhannad Mustafa, menilai pernyataan Mladenov sangat berbahaya karena menyamakan tanggung jawab kedua pihak, meski menurutnya Hamas telah menerima rencana tersebut sementara 'Israel' secara terbuka menolaknya.

Ia menilai Mladenov justru mengabaikan pelanggaran 'Israel' terhadap gencatan senjata, termasuk perluasan wilayah yang dikuasainya di Gaza dan pembatasan masuknya bantuan.

Ibrahim al-Madhoun dari Palestinian Media Foundation menyebut pernyataan tersebut “menakutkan dan mengejutkan” bagi Palestina. Menurutnya, ancaman kembalinya perang justru menunjukkan bahwa perang belum benar-benar berhenti.

Sejumlah analis lainnya menilai pernyataan Mladenov berpotensi memberikan “lampu hijau” secara tidak langsung kepada Netanyahu untuk kembali melancarkan perang, karena tekanan lebih banyak diarahkan kepada Palestina daripada 'Israel'.

Menurut para analis, 'Israel' sendiri dinilai belum memenuhi sejumlah ketentuan kesepakatan, termasuk terkait bantuan kemanusiaan dan pemerintahan teknokrat di Gaza.

'Israel' disebut masih membatasi masuknya bantuan, obat-obatan dan barang kebutuhan, serta menolak masuknya komite teknokrat yang dirancang untuk mengelola layanan dasar di Gaza.

Sementara itu, 'Israel' juga disebut telah mengambil sekitar 8 persen tambahan wilayah Gaza.

Para pengkritik Miladinov mempertanyakan mengapa ancaman kembalinya perang diarahkan kepada Palestina, sementara 'Israel' juga dinilai tidak menjalankan sejumlah ketentuan gencatan senjata. (zarahamala/arrahmah.id)