Memuat...

Ubah Nama Gerbang Damaskus, 'Israel' Dikritik Sejumlah Pihak

Hanoum
Sabtu, 29 Agustus 2026 / 17 Rabiulawal 1448 04:16
Ubah Nama Gerbang Damaskus, 'Israel' Dikritik Sejumlah Pihak
Israel mengubah papan nama Gerbang Damaskus. [Foto: MEE]

YERUSALEM (Arrahmah.id) -- Otoritas 'Israel' mengganti papan penunjuk yang sebelumnya mencantumkan nama “Damascus Gate” atau Gerbang Damaskus (Bab al-Amud) menjadi “Ancient Gate” di kawasan Yerusalem Timur, memicu kritik dari pejabat dan aktivis Palestina. Papan baru itu dipasang dalam bahasa Arab, Inggris, dan Ibrani di salah satu akses utama menuju Kota Tua Yerusalem dan kawasan Masjid Al-Aqsa.

Gerbang Damaskus berada di sisi utara Kota Tua Yerusalem dan merupakan salah satu gerbang paling dikenal pada tembok kota. Kawasan di sekitarnya juga menjadi jalur penting bagi warga Palestina yang menuju kompleks Masjid Al-Aqsa sekaligus ruang publik dan tempat berkumpul masyarakat.

Abdullah Marouf, peneliti yang berfokus pada urusan Masjid Al-Aqsa, menilai perubahan tersebut merupakan bagian dari upaya mengubah karakter Yerusalem dengan mengganti simbol-simbol Arab dan Islam di ruang publik. Ia mengatakan nama Gerbang Damaskus memiliki kedudukan penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Palestina.

“Nama Ibrani ini bertujuan menghilangkan sebutan ‘Gerbang Damaskus’ dari tempat tersebut, karena gerbang itu merupakan salah satu gerbang utama dan pusat di Yerusalem,” kata Abdullah Marouf kepada Middle East Eye (28/8/2026)

Marouf juga menyebut perubahan nama landmark di sekitar Kota Tua bukan fenomena baru. Ia mencontohkan perubahan nama Solomon’s Cave, yang berada di antara Gerbang Damaskus dan Gerbang Herodes, menjadi Zedekiah’s Cave. Menurutnya, langkah-langkah tersebut dimaksudkan untuk memengaruhi karakter dan identitas historis Yerusalem.

Kritik serupa datang dari Fakhri Abu Diab, anggota dewan pengawas Masjid Al-Aqsa. Kepada The New Arab, Abu Diab mengatakan perubahan papan tersebut merupakan bagian dari rencana untuk mengubah identitas visual kawasan-kawasan Yerusalem yang memiliki simbol Palestina, Arab, dan Islam. Ia juga mengaitkan nama “Ancient Gate” dengan narasi Yahudi kuno mengenai keberadaan gerbang yang dahulu dikaitkan dengan kompleks Bait Suci.

“Perubahan papan nama ini merupakan bagian dari rencana Israel untuk mengubah identitas visual kawasan-kawasan yang memiliki simbol Palestina, Arab, dan Islam di Yerusalem,” ujar Fakhri Abu Diab.

Pemerintahan Wilayah Yerusalem yang berafiliasi dengan Otoritas Palestina juga mengecam perubahan tersebut. Dalam pernyataannya pada 26 Agustus, lembaga itu mengatakan penggantian nama gerbang, jalan, dan situs bersejarah merupakan bagian dari kebijakan yang lebih luas untuk mengubah lanskap perkotaan dan budaya Yerusalem. Anadolu Agency melaporkan bahwa pemerintah wilayah tersebut menyebut nama-nama tradisional kota sebagai bagian dari memori nasional, sejarah, dan budaya Yerusalem.

“Nama-nama gerbang, jalan, dan landmark Yerusalem merupakan bagian integral dari memori nasional, sejarah, dan budaya kota ini,” kata Pemerintahan Wilayah Yerusalem dalam pernyataannya.

Namun, konteks mengenai nama gerbang tersebut memiliki lapisan sejarah yang jauh lebih panjang. Gerbang yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai Bab al-Amud, atau “Gerbang Tiang”, merupakan salah satu pintu utama menuju Kota Tua. Times of Israel sebelumnya mencatat bahwa nama Arab tersebut berkaitan dengan tiang Romawi yang dahulu berdiri di kawasan di belakang gerbang.

Perubahan nomenklatur tersebut juga berlangsung di tengah ketegangan yang terus berlangsung mengenai status dan identitas Yerusalem Timur. Israel menguasai Yerusalem Timur sejak 1967 dan kemudian menyatakan seluruh Yerusalem sebagai ibu kotanya, sementara masyarakat internasional tidak mengakui aneksasi Yerusalem Timur dan memandang wilayah tersebut sebagai wilayah yang diduduki. Anadolu Agency mencatat bahwa Resolusi Dewan Keamanan PBB 478 menolak langkah-langkah yang dimaksudkan untuk mengubah karakter, komposisi demografis, maupun status politik dan hukum Yerusalem.

Persoalan nama juga memiliki dimensi politik karena kawasan Gerbang Damaskus merupakan salah satu titik paling penting dalam kehidupan sosial masyarakat Palestina di Yerusalem. Gerbang tersebut menjadi akses menuju kawasan Muslim di Kota Tua dan jalur yang sering digunakan warga Palestina untuk menuju Masjid Al-Aqsa. Karena itu, perubahan tulisan pada papan jalan dinilai oleh para pengkritiknya bukan sekadar persoalan administratif, melainkan bagian dari perebutan narasi mengenai sejarah dan identitas kota. (hanoum/arrahmah.id)