Memuat...

Kasus ISPA Meningkat akibat Asap Karhutla

Ameera
Jumat, 28 Agustus 2026 / 16 Rabiulawal 1448 17:16
Kasus ISPA Meningkat akibat Asap Karhutla
Kasus ISPA Meningkat akibat Asap Karhutla

JAKARTA (Arrahmah.id) — Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mengalami peningkatan di sejumlah wilayah Indonesia yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Berdasarkan paparan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) per 25 Agustus 2026, Kalimantan Barat mencatat 165.747 kasus ISPA dalam kurun tujuh bulan. Sementara itu, Kalimantan Selatan mencatat sekitar 18.423 kasus dan Kalimantan Tengah lebih dari 3.000 kasus hanya dalam periode 10–16 Agustus 2026.

Tren peningkatan kasus ISPA juga terpantau di Provinsi Riau seiring memburuknya kualitas udara akibat asap karhutla.

Menyikapi kondisi tersebut, Kemenkes mempercepat distribusi masker dan oksigen konsentrator ke puskesmas-puskesmas di wilayah yang terdampak asap karhutla.

"Kita sudah mengirim dropping masker yang banyak. Yang kedua, oksigen konsentrator. Jadi kita akan dropping oksigen konsentrator dan masker ke puskesmas-puskesmas yang terdampak dan itu akan kita percepat," kata Budi saat ditemui wartawan di Jakarta usai rapat dengan Komisi IX DPR, Kamis (27/8/2026).

Budi mengatakan, Kemenkes telah memiliki pemetaan mengenai puskesmas yang menangani banyak pasien akibat dampak karhutla. Fasilitas kesehatan dengan jumlah pasien tinggi akan menjadi prioritas dalam distribusi bantuan.

"Saya ada datanya puskesmas-puskesmas mana yang banyak korbannya. Itu yang kita akan prioritaskan ke sana," ujarnya.

3,4 Juta Penduduk Terdampak

Data Kemenkes menunjukkan sekitar 3,4 juta penduduk terdampak karhutla yang tersebar di tujuh provinsi. Untuk memperkuat pelayanan kesehatan di wilayah terdampak, sebanyak 321 tenaga kesehatan telah dimobilisasi untuk mendukung pelayanan di rumah sakit maupun puskesmas.

Kemenkes sebelumnya telah memetakan tujuh provinsi yang memiliki risiko sangat tinggi terhadap dampak kesehatan akibat karhutla selama musim kemarau 2026.

Ketujuh provinsi tersebut yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Pemerintah meningkatkan kesiapsiagaan di wilayah tersebut, terutama dalam menghadapi potensi peningkatan gangguan kesehatan akibat paparan asap dalam jangka pendek maupun panjang.

Asap Karhutla Dapat Memperparah ISPA

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Dr. dr. Then Suyanti MM, menjelaskan asap karhutla mengandung berbagai polutan berbahaya, termasuk partikel halus PM2,5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta sejumlah senyawa organik beracun.

Paparan polutan tersebut dapat memicu maupun memperburuk gangguan pada sistem pernapasan. Kondisi yang dapat terdampak antara lain ISPA, asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), hingga gangguan pernapasan pada anak.

"Kelompok yang dinilai paling rentan terhadap paparan asap antara lain anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma dan PPOK, serta pekerja yang beraktivitas dalam waktu lama di luar ruangan," kata Then dalam briefing media.

Pemantauan Kemenkes per 22 Agustus 2026 juga menunjukkan kualitas udara di sejumlah wilayah telah mencapai kategori berbahaya.

Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Muaro Jambi tercatat mencapai 302. Sementara itu, salah satu titik pemantauan di Kalimantan Tengah bahkan mencapai 573.

Sejumlah wilayah lainnya di Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah juga berada dalam kategori sangat tidak sehat.

Pemerintah Salurkan Bantuan Kesehatan

Selain masker dan oksigen konsentrator, pemerintah telah menyalurkan sejumlah dukungan kesehatan ke wilayah terdampak karhutla.

Bantuan tersebut mencakup tabung oksigen, alat pelindung diri (APD), serta makanan tambahan bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, balita, dan lansia.

Kemenkes juga terus memantau perkembangan kasus gangguan kesehatan dan kondisi kualitas udara di daerah terdampak untuk menentukan kebutuhan pelayanan kesehatan serta distribusi bantuan.

Masyarakat yang berada di wilayah terdampak asap karhutla diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.

Jika harus beraktivitas di luar rumah, masyarakat dianjurkan menggunakan masker dan menghindari paparan asap secara langsung.

Masyarakat juga diminta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami keluhan seperti batuk, sesak napas, nyeri dada, mata perih, atau gangguan kesehatan lainnya setelah terpapar asap karhutla.

Pemerintah memastikan upaya penanganan dampak kesehatan akibat karhutla akan terus diperkuat, terutama di wilayah dengan jumlah kasus ISPA dan paparan asap yang tinggi.

(ameera/arrahmah.id)