ABUJA (Arrahmah.id) -- Amerika Serikat (AS) mulai menarik sebagian besar pasukannya dari Nigeria setelah menyelesaikan operasi bersama melawan kelompok militan Islamic State (ISIS) di wilayah timur laut negara tersebut.
Dilansir BBC (3/7/2026), penarikan diumumkan oleh Komando Afrika Amerika Serikat (AFRICOM) pada Kamis (3/7), menyusul berakhirnya misi yang diklaim berhasil menewaskan salah satu pemimpin senior ISIS, Abu-Bilal al-Minuki. Meski demikian, Washington menegaskan akan tetap memberikan dukungan intelijen kepada pemerintah Nigeria.
Pasukan AS yang berjumlah sekitar 200 personel dikerahkan ke Nigeria pada awal 2026 atas permintaan pemerintah Nigeria. Mereka bertugas memberikan pelatihan, dukungan teknis, serta kemampuan intelijen kepada militer Nigeria dalam operasi kontra-terorisme di kawasan Danau Chad, tanpa terlibat langsung dalam pertempuran darat.
Operasi gabungan tersebut mencapai puncaknya pada Mei 2026 ketika pasukan Nigeria, dengan dukungan Amerika Serikat, berhasil menewaskan Abu-Bilal al-Minuki yang disebut sebagai wakil pemimpin ISIS secara global.
Komandan AFRICOM Jenderal Michael Langley mengatakan model kerja sama tersebut menunjukkan pendekatan baru Washington dalam membantu negara-negara Afrika menghadapi ancaman kelompok ekstremis.
"Operasi ini menunjukkan bagaimana Amerika Serikat dapat memberikan kemampuan khusus, sementara mitra kami memimpin langsung operasi di lapangan," ujar Michael Langley. Ia menambahkan bahwa dukungan intelijen kepada Nigeria akan tetap berlanjut sesuai permintaan pemerintah Abuja.
Sementara itu, Juru Bicara Angkatan Bersenjata Nigeria Mayor Jenderal Markus Kangye menegaskan penarikan pasukan AS tidak akan memengaruhi operasi militer negaranya.
"Penarikan pasukan Amerika Serikat tidak akan memengaruhi momentum kami dalam memerangi kelompok teroris," kata Markus Kangye, seraya menegaskan bahwa militer Nigeria tetap memiliki kemampuan untuk melanjutkan operasi keamanan secara mandiri.
Nigeria selama lebih dari satu dekade menghadapi ancaman kelompok bersenjata seperti ISIS West Africa Province (ISWAP) dan Boko Haram, terutama di wilayah timur laut.
Penarikan sebagian besar pasukan AS dari Nigeria dinilai sebagai bagian dari strategi Washington untuk mengurangi kehadiran militernya secara langsung, sekaligus memperkuat kapasitas negara-negara mitra agar mampu memimpin sendiri upaya pemberantasan terorisme.
Meski jumlah personel berkurang, kerja sama keamanan antara Amerika Serikat dan Nigeria dipastikan tetap berlanjut melalui dukungan intelijen, pelatihan, dan koordinasi militer. (hanoum/arrahmah.id)
