Memuat...

Bangladesh Luncurkan “Pink Bus” Khusus Perempuan

Hanoum
Rabu, 2 September 2026 / 21 Rabiulawal 1448 03:45
Bangladesh Luncurkan “Pink Bus” Khusus Perempuan
Sopir dan kernek bus pink di Bangladesh. [Foto: Daily Times]

DHAKA (Arrahmah.id) -- Bangladesh meluncurkan layanan bus khusus perempuan yang diberi nama “Pink Bus” untuk menyediakan transportasi umum yang lebih aman dan nyaman bagi perempuan. Layanan yang dioperasikan Bangladesh Road Transport Corporation (BRTC) itu mulai beroperasi pada 19 Agustus 2026 dengan 14 bus di 13 rute yang mencakup Dhaka, Chattogram, dan Bogura, seluruhnya dengan pengemudi dan kondektur perempuan.

Dilansir Dhaka Tribute (31/8/2026), peluncuran layanan tersebut dilakukan Menteri Transportasi Jalan, Perkeretaapian dan Pelayaran Bangladesh Shaikh Rabiul Alam di depo truk BRTC Dhaka, Tejgaon, pada 18 Agustus. Pemerintah mengatakan program ini ditujukan untuk menjawab persoalan yang selama ini dihadapi perempuan pengguna transportasi umum, termasuk kepadatan, pelecehan, kontak fisik yang tidak diinginkan, serta kekhawatiran mengenai keselamatan selama perjalanan.

Pada tahap awal, 10 bus beroperasi di Dhaka dan wilayah sekitarnya, sedangkan masing-masing dua bus melayani Bogura dan Chattogram. Di Dhaka, rute-rute tersebut menghubungkan sejumlah kawasan padat aktivitas, antara lain Mirpur, Mohammadpur, Abdullahpur, Gazipur, Narayanganj dan Motijheel. Pemerintah menyatakan jumlah armada dan cakupan rute akan diperluas secara bertahap.

“Keselamatan harus dijamin bukan hanya setelah perempuan naik bus, tetapi juga ketika mereka menunggu bus dan ketika mereka turun,” kata Shaikh Rabiul Alam saat meresmikan layanan tersebut.

Ia mengatakan mobilitas perempuan yang aman merupakan tanggung jawab negara karena pengalaman tidak aman ketika menunggu, menaiki, maupun meninggalkan bus dapat membuat perempuan enggan menggunakan transportasi umum.

Selain menyediakan bus khusus penumpang perempuan, program tersebut juga membuka ruang lebih besar bagi perempuan untuk bekerja di sektor transportasi yang selama ini didominasi laki-laki. BRTC menyiapkan 15 pengemudi perempuan dan 24 kondektur perempuan untuk menjalankan 14 bus tersebut. Salah seorang pengemudi, SK Famiha Sadia, menyebut pekerjaan itu sebagai pencapaian penting dalam perjalanan profesionalnya.

“Setelah menunggu lama, akhirnya saya bisa menyebut diri saya sebagai pengemudi profesional,” ujar SK Famiha Sadia kepada The Daily Star. Ia merupakan salah satu perempuan yang telah menjalani pelatihan BRTC sebelum mulai mengemudikan bus secara profesional.

Pemerintah juga memasukkan sejumlah fitur teknologi untuk mendukung keamanan dan kenyamanan penumpang. BRTC menggunakan sistem tiket elektronik melalui kerja sama dengan platform Shohoz, sementara bus dilengkapi sistem pelacakan kendaraan. Kamera CCTV telah dipasang pada sebagian armada dan akan diperluas secara bertahap, demikian pula fasilitas Wi-Fi.

Program tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah Bangladesh untuk meningkatkan keamanan mobilitas perempuan. Pemerintah juga telah memulai rencana pengadaan 100 bus listrik berwarna merah muda untuk memperluas layanan. Menteri Shaikh Rabiul Alam mengatakan sebagian bus listrik ditargetkan masuk ke layanan dalam beberapa bulan setelah peluncuran tahap awal.

Meski demikian, layanan bus khusus perempuan bukan gagasan yang sepenuhnya baru di Bangladesh. The Daily Star mencatat BRTC pernah menjalankan layanan serupa sejak dekade 1980-an. Sejumlah program terdahulu menghadapi persoalan berupa jumlah bus yang terbatas, rute yang sedikit, serta jadwal yang tidak konsisten. Karena itu, keberhasilan “Pink Bus” kali ini akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga ketepatan waktu, ketersediaan armada, dan konsistensi pelayanan.

Peluncuran layanan tersebut juga mendapat perhatian karena terjadi di tengah persoalan keselamatan perempuan dalam transportasi umum Bangladesh. The Daily Star melaporkan bahwa setelah peluncuran, media sosial Bangladesh dipenuhi komentar yang mempertanyakan kemampuan perempuan mengemudikan bus. Kritik tersebut kemudian dibalas oleh pendukung program yang menilai persoalan sebenarnya justru terletak pada kondisi transportasi umum yang membuat perempuan menghadapi pelecehan dan rasa tidak aman.

Pemerintah Bangladesh menilai layanan khusus ini bukan dimaksudkan untuk menggantikan sistem transportasi umum yang ada, melainkan menyediakan opsi perjalanan yang lebih aman bagi perempuan. Pemerintah juga menekankan bahwa keselamatan tidak cukup hanya dijamin di dalam kendaraan, tetapi harus mencakup halte, tempat menunggu, penerangan, serta kondisi ketika penumpang naik dan turun dari bus. (hanoum/arrahmah.id)