Karl Polanyi, dalam karya klasiknya The Great Transformation, menegaskan bahwa masyarakat modern runtuh ketika ekonomi dipisahkan dari tatanan sosial dan politik. Ia menulis bahwa “the idea of a self-regulating market was a stark utopia” (Polanyi, 1944: 3). Ketika pasar, kekuasaan, dan institusi negara terlepas dari kontrol sosial, masyarakat memasuki fase disintegrasi yang dapat mengancam keberadaan negara. Polanyi menyebut proses ini sebagai disembedding: pemisahan institusi ekonomi dan politik dari jaringan sosial yang menopangnya.
Dalam kerangka Polanyi, "Israel" dapat dibaca sebagai negara yang mengalami disembedding ekstrem. Negara tersebut menghadapi situasi di mana kebijakan politik, keamanan, dan ekonomi tidak lagi tertanam (embedded) dalam tatanan sosial yang stabil. Fragmentasi internal, polarisasi politik, ketegangan etnis, dan delegitimasi internasional menunjukkan bahwa institusi negara tidak lagi berakar pada konsensus sosial. Polanyi menegaskan bahwa “no society could stand the effects of such a system unless its human and natural substance were protected” (Polanyi, 1944: 76). "Israel" menghadapi kondisi di mana substansi sosial—kepercayaan, solidaritas, dan legitimasi—mengalami erosi yang cepat.
Disembedding Kekuasaan dan Krisis Legitimasi
Polanyi menekankan bahwa negara modern runtuh ketika kekuasaan terlepas dari kontrol sosial. Dalam konteks "Israel", penggunaan kekuatan militer yang intens, kebijakan keamanan yang dominan, dan tindakan administratif yang keras menunjukkan bahwa kekuasaan negara tidak lagi tertanam dalam legitimasi sosial. Ketika kekuasaan tidak lagi dibenarkan oleh masyarakat, negara memasuki fase delegitimasi. Polanyi menulis bahwa “power must be rooted in society to be legitimate” (Polanyi, 1944: 145). "Israel" menghadapi situasi di mana kekuasaan negara tidak lagi dipandang sebagai pelindung, tetapi sebagai sumber risiko dan ketidakstabilan.
Double Movement yang Gagal
Konsep double movement Polanyi menjelaskan bahwa masyarakat selalu merespons disembedding dengan gerakan proteksi sosial. Ketika pasar atau kekuasaan negara menjadi terlalu agresif, masyarakat akan menuntut perlindungan melalui regulasi, solidaritas, dan institusi sosial. Namun, Polanyi menegaskan bahwa double movement dapat gagal ketika negara tidak mampu merespons tuntutan proteksi sosial. Ia menulis bahwa “the failure of protective countermoves leads to social disintegration” (Polanyi, 1944: 136).
Dalam konteks "Israel", double movement gagal karena negara tidak mampu merespons tuntutan proteksi dari kelompok-kelompok yang terpinggirkan. Ketegangan antara kelompok sekuler dan ultra-Ortodoks, ketidaksetaraan ekonomi, serta konflik etnis menunjukkan bahwa negara tidak lagi mampu menyediakan perlindungan sosial yang diperlukan untuk mempertahankan stabilitas. Ketika double movement gagal, negara kehilangan kapasitas untuk mempertahankan tatanan sosial.
Krisis Embeddedness dalam Arena Internasional
Polanyi juga menekankan bahwa negara modern tidak dapat bertahan tanpa embeddedness dalam tatanan internasional. Ia menulis bahwa “no national economy can exist without the support of an international order” (Polanyi, 1944: 29). "Israel" menghadapi delegitimasi internasional yang semakin kuat, penurunan dukungan dari negara-negara Barat, serta isolasi diplomatik di beberapa forum global. Ketika negara kehilangan embeddedness internasional, negara tersebut kehilangan fondasi eksternal yang menopang stabilitas politik dan ekonomi.
Keruntuhan Tatanan Sosial sebagai Keruntuhan Negara
Keruntuhan negara dalam perspektif Polanyi bukanlah kehancuran fisik, tetapi hilangnya tatanan sosial yang menopang institusi negara. Negara runtuh ketika kekuasaan tidak lagi tertanam dalam legitimasi sosial, ketika double movement gagal, dan ketika embeddedness internasional hilang. Polanyi menulis bahwa “the breakdown of social cohesion is the breakdown of the state” (Polanyi, 1944: 258). "Israel" menghadapi kondisi di mana tatanan sosial mengalami disintegrasi yang menggerogoti kapasitas negara untuk mempertahankan stabilitas.
Dengan demikian, prediksi mengenai "Israel" sebagai negara yang menuju keruntuhan struktural dapat dipahami sebagai analisis Polanyian mengenai negara yang gagal mempertahankan embeddedness sosial dan internasional. "Israel" menghadapi disembedding kekuasaan, kegagalan double movement, fragmentasi internal, dan delegitimasi global yang menggerogoti kapasitas negara untuk mempertahankan tatanan sosial. Analisis ini bukanlah advokasi politik, melainkan pembacaan teoretis mengenai bagaimana negara dapat hilang dari peta geopolitik ketika tatanan sosial yang menopangnya tidak lagi berfungsi.
Bibliografi
Polanyi, Karl. The Great Transformation: The Political and Economic Origins of Our Time. New York: Farrar & Rinehart, 1944.
(*/arrahmah.if)
